Bagaimana Ilmu Logika Masuk ke Peradaban Islam?

0
877

BincangSyariah.Com – Sebelum kami mulai membahas, ada dua yang ingin kami tegaskan sebelum berbicara lebih lanjut apa sebenarnya ilmu logika dan peradaban Islam.

Untuk yang pertama, ilmu logika yang dimaksud adalah logika formal yang sampai saat ini digunakan sebagai salah satu bidang keilmuan kajian filsafat. Beberapa bahasan logika formal yang kita kenal hari ini misalnya logika deduktif, induktif, hingga silogisme.

Sementara, peradaban atau dunia Islam secara umum diterjemahkan sebagai wilayah yang didiami oleh muslim. Ini sebenarnya adalah istilah yang dahulu secara historis memetakan wilayah yang dikuasai oleh kepemimpinan Islam (dahulu belum ada gagasan soal kesamaan hak warga negara, sehingga yang tidak beragama Islam dianggap warga negara kelas dua sehingga tidak bisa memimpin negara). Maka, dalam sejarah yang disebutkan sebagai al-‘Aalam al-Islami waktu itu adalah wilayah Timur Tengah khususnya Asia Barat (Syam, Jazirah Arab, Persia) sampai Afrika Utara (Mesir dan negara-negara di sisi baratnya seperti Maroko, Tunisia) dan sebagian negara di Afrika Timur dan Afrika Barat.

Setelah saya menjelaskan soal istilah masing-masing, bagaimana dengan sejarah masuknya ilmu logika ke dunia Islam ?

‘Ali Sami an-Nassyar, pakar ilmu kalam dan filsafat Islam abad ke-20 dalam salah satu bukunya, Manahij al-Bahts ‘inda Mufakkirii al-Islam, sebenarnya cukup sulit untuk menentukan secara tegas kapan sebenarnya orang-orang Islam mulai mengenai keilmuan filsafat dan logika yang berasal dari Yunani. Para peneliti sejarah pemikiran dan filsafat Islam biasanya hanya menyimpulkan bahwa dunia Islam mulai mengenai filsafat Yunani di era Dinasti Abbasiyyah, ditandai dengan masuknya penerjemahan kailrya-karya filsafat Yunani ke Dunia Islam yang disponsori langsung oleh dunia Islam.

Selain itu, masih menurut an-Nassyar, terlepas dari perbedaan pendapat dari perspektif sejarah kapan sebenarnya teks-teks filsafat masuk ke dunia Islam, yang paling disepakati adalah ilmu logika adalah ilmu pertama yang masuk diantara rumpun keilmuan filsafat. Ilmu ini sebenarnya bahkan sudah masuk sebelum keberadaan Kekhilafan ‘Abbasiyyah. Sejak masa Bani Umayyah (661 – 750 M/40 – 132 H), ranah-ranah dalam kajian filsafat sudah berkembang di wilayah-wilayah yang kedatangan ekspansi wilayah dinasti Bani Umayyah. Meskipun, pengembangan secara resmi dan besar-besaran dilakukan di zaman Dinasti Abbasiyyah. Namun di banyak wilayah seperti Syam, Mesir, Iraq, dan Persia, apa yang diistilahkan sebagai ‘ulum al-Awaail (ilmu-ilmu awal) untuk menyebut ilmu-ilmu yang tidak berasal dari wilayah Arab seperti filsafat dan cabang-cabangnya, sudah berkembang di wilayah tersebut. Ekspansi ke wilayah-wilayah lain tersebut membuat adanya dialog kultur antara al-Ghuzaat (penyerang) dengan al-Umam al-Maghlubah (rakyat yang ditundukkan).

Baca Juga :  Allah Tak Akan Mengabulkan Tiga Permohonan Ini

Di daerah-daerah diatas, masyarakat sudah biasa bahkan rata-rata sudah mengerti rumpun ilmu yang berasal dari Yunani tersebut. Keilmuan filsafat menjadi sebuah metode berpikir yang biasa dilakukan, sebelum kehadiran Islam. Saat hadirnya Islam, ketertarikan mereka terhadap filsafat dan ilmu-ilmu lainnya tidak luntur. Justru keilmuan seperti filsafat termasuk logika ikut mewarnai cara memahami Islam. Maka kemunculan berbagai mazhab dalam ilmu kalam (Asy’ariyah, Mu’tazilah, Qadariyah), termasuk penggunaan ilmu logika dalam menjelaskan fikih dan keilmuan-kelimuan lainnya, adalah bagian dari perkembangan sejarah masuknya ilmu logika ke dalam peradaban Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here