Bagaimana Hukum Mengganti Lafadz Azan Saat Covid 19?

0
15

BincangSyariah.Com – Berikut penjelasan tentang hukum mengganti lafadz azan saat Covid 19?

Syahdan, sampai saat ini Indonesia masih dalam kondisi pandemi Covid 19. Seluruh dunia pun masih was-was akibat virus mematikan ini. Bila tak jua  ada upaya ekstra, virus ini akan terus bertahan hingga beberapa tahun ke depan. Tentu akan menelan korban yang lebih banyak lagi. Salah satu cara efektif untuk memutus mata rantai Covid 19 adalah dengan menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Tak bisa dipungkiri, salah satu penyebab kerumunan adalah ketika melaksanakan shalat secara berjamaah. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, dan memiliki banyak sekali masjid, masyarakat Indonesia pun rutin melaksanakan shalat berjamaah lima waktu.

Nah, untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid 19 ini, beberapa masjid menambahkan lapadz azan dengan Sollu fi rihalikum, as- shalatu fir rihali,  atau sollu fi butikum. Terkadang ada juga muazzin yang mengganti hayya ala shalah dengan tiga lapadz di atas. Bagaimana hukum mengganti lafadz azan saat Covid 19?

Para ulama telah sepakat bahwa hukum hukum mengganti lafadz azan saat Covid 19 adalah boleh. Pun boleh hukumnya seorang muazzin menambah lafadz azan saat pandemi Covid 19 terjadi. Landasan hujah ini bisa kita temui dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Selain itu, Lembaga Fatwa Al-Azhar Kairo pun telah mengeluarkan fatwa boleh mengganti lafadz azan pada saat Covid 19. Kerajaan Saudi pun melakukan hal yang sama—membolehkan menambah atau mengganti lafadz azan—, pada saat pandemi Covid 19.

Letak lafadz Sollu fi rihalikum, as- shalatu fir rihali,  atau sollu fi butikum menurut ulama  

Para ulama berselisih pendapat terkait letak Sollu fi rihalikum, as- shalatu fir rihali,  atau sollu fi butikum pada saat muazzin melaksanakan azan. Ada tiga pendapat ulama terkait letak lafadz ini.

Pertama, lafadz Sollu fi rihalikum, as- shalatu fir rihali,  atau sollu fi butikum diucapkan muazzon ketika selesai azan. Hal ini berdasarkan hadis dari Ibn Umar:

  قَالَ : ” أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ، ثُمَّ قَالَ : صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ : ” أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ” فِي اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ، أَوِ المَطِيرَةِ ، فِي السَّفَرِ .

Artinya: Bahwa Abdullah ibn Umar azan ia pada malam yang sangat dingin di sekitar Gunung Dhajnan, kemudian dia berkata “ ala shallu pi rihal “ ketika malam itu cuaca sangat dingin, atau hujan lebat, dan pada perjalanan (musafir).

Dan ada juga hadis dari Imam Muslim:

فقال في آخر ندائه: ألا صلُّوا في رحالكم، ألا صلُّوا في الرحال، ثم قال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يأمر المؤذن إذا كانت ليلة باردة أو ذات مطر في السفر، أن يقول: ألا صلُّوا في رحالكم

Artinya : Maka ucapkan kamulah pada akhir azan kamu, “ala shallu fi rihalikum” atau “ala shallu fir rihal”, kemudian ia berkata bahwa Rasul adalah ia menyuruh muazzin ketika cuaca  sangat dingin di malam hari atau hujan lebat turun dalam perjalanan musfair , bahwa berkata muazzin itu, “ ala shallu fi buyutikum

Pada hadis lain juga ada hadis riwayat Imam Muslim:

نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِي آخِرِ نِدَائِهِ أَلَا صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَال ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِي السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلَا صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

artinya: dari Nafiq dari Ibn Umar, bahwa ia berkata pada malam yang saat dingin dan hujan lebat, maka ia berkata maka ucapkan lapadz ketika selesai azan “sollu pi rihalikum  atau ala shallu fir rihali “, kemudian ia berkata sesungguhnya Rasululah SAW, adalah menyuruh ia seorang muazzin apabila terjadi cuaca ekstrim pada malam hari atau hujan lebat dalam perjalanan bahwa muazzin itu mengatakan  “ala shallu fi rihalikum”.

Mengomentari hadis hadis ini, Ibn Hajar Al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari mengatakan bahwa lapadz  tersebut diucapkan pada saat azan telah selesai.

Ibn Hajar berkata:

صريح في أن القول المذكور كان بعد فراغ الأذان

Artinya: Jelas sekali bahwa perkataan (baca: ala shallu fir rihalikum, shallu fi buyutikum) tersebut diucapkan.

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Imam Al- Baji dalam kitab  Al-Muntaqa Syarh al-Muwattha. Ia berkata bahwa lapdaz tersebut diucapkan muazzin setelah azan selesai.

لأن الأذان متصل لا يجوز أن يتخلله ما ليس منه

Artinya: seyogianya bahwa lafadz azan bersambung (berurutan) oleh karena itu tidak bisa dicampurkan dengan yang bukan bagian dari lafadznya.

Kedua, sebagian ulama

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الحَارِثِ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ : ” إِذَا قُلْتَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، فَلَا تَقُلْ : حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، قُلْ : صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ ” ، قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ ، فَقَالَ: ” أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا ؟! ، قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي ، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ ، فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ “.

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata kepada muazinnya pada hari hujan, apabila setelah membaca ‘Asyhadu an lā ilāha illallāhu, asyhadu anna muhammadan rasūlullāh,’ maka jangan kau lanjutkan dengan mabaca seruan ‘hayya ‘alas shalāh,’ akan tetapi ucapkanlah ‘shallū fi buyūtikum.’’ Orang-orang seolah mengingkari perintah Ibnu Abbas RA. Ia lalu mengatakan, ‘Apakah kalian heran dengan masalah ini? Padahal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sungguh Jumat itu suatu kewajiban, akan tetapi aku tidak suka menyulitkanmu sehingga kamu berjalan di tanah dan licin.’”

Dalam kitab At- Tharhu at Tasrib fi Syarhi al Taqrib, karya Abbdurrahin bin Zainul Iraqi, mengungkapkan kata shallu fi buyutikum  itu diletakkan di tengah, setelah kalimat syahadat. Kata shallu fi buyutikum itu sebagai pengganti  hayya ala shalah.

Al-Iraqi berkata:

  بأنَّ قَوْلَهُ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ ، يُخَالِفُ قَوْلَهُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، فَلَا يَحْسُنُ أَنْ يَقُولَ الْمُؤَذِّنُ تَعَالَوْا ، ثُمَّ يَقُولُ : لَا تَجِيئُوا

Artinya: bahwa perkataan muazzin “shallu fi rihalikum “ bertolak belakang dengan kalimat “hayya ala shalah”, maka tak bagus dikatakan muazzin menyuruh salat, kemudian melarang.

Dalam hal ini Imam Iraqi menjelaskan bahwa kata shallu fi buyutikum, adalah pengganti dari kalimat hayya ala shalah. Dan tak boleh disebutkan shallu fi buyutikum , kemudian  hayya alas shalah. Pasalnya kedua kalimat itu saling bertentangan.  Lebih lanjut, mengucapkan shallu fi buyutikum  itu menegaskan agar jamaah tak datang untuk melaksanakan shalat jamaah di masjid.  

Pendapat ketiga diungkapkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Syarah shohih al Muslim, beliau mengatakan boleh mengucapkan shallu fi buyutikum, ala shollu fi rihal, atau shallu fi rihalikum, di tengah azan atau setelah azan. Tetapi kata Imam Nawawi meletakkan lafadz tersebut di akhir lebih utama.

Imam Nawawi berkata:

فيجوز بعد الأذان وفي أثنائه لثبوت السنة فيهما؛ لكن قوله بعده أحسن؛ ليبقى نظم الأذان على وضعه

Artinya: maka boleh mengatakan tersebut setelah azan atau di tengah azan karena ada dasarnya dari hadis nabi tentang keduanya (baca: akhir dan tengah azan), akan tetapi mengucapkan lapadz tersebut diakhir lebih baik, untuk menetapkan susunan azan pada tempatnya seperti semula.

Demikian keterangan bagaimana hukum mengganti lafadz azan saat covid 19?

( Baca: Terkait Warga Jakarta Barat Positif Corona Nekad Jadi Imam Tarawih, Ini Alasan Ulama Mengharamkannya)

 

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here