Bagaimana Cara Membentuk Kepribadian Muslim?

0
15

BincangSyariah.Com – Abdul Mujib menjelaskan dalam Kepribadian dalam Psikologi Islam (2006) bahwa secara terminologi, kepribadian Muslim berarti serangkaian perilaku normatif manusia, baik sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang normanya diturunkan dari ajaran islam dan bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah.

Hakikat kepribadian seorang Muslim dalam konteks di atas bisa diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas bagi keseluruhan tingkah laku sebagai Muslim. Identitas tersebut mencakup tingkah laku secara lahiriyah dan sikap secara batinnya.

Tingkah laku lahiriyah, misalnya dalam cara berkata, berjalan, makan, minum, berhadapan dengan orang tua, guru, teman sejawat, sanak famili dan lain sebagainya. Sementara itu, sikap batin bisa diwujudkan dengan sabar, ikhlas, dan sikap terpuji lain yang timbul dari dorongan batin.

Makna Kepribadian

Kepribadian adalah kata yang berasal dari kata “pribadi”. Kata tersebut berarti diri sendiri atau bisa juga berarti perseorangan. Dalam bahasa Inggris ada istilah personality yang memiliki arti kumpulan kualitas jasmani, rohani, dan susila. Personality bisa membedakan seseorang dengan orang lain.

Kepribadian tidak terjadi secara begitu saja, tapi terbentuk dalam proses kehidupan yang panjang. Karena itulah ada banyak faktor yang terlibat dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Kepribadian seseorang yang baik, buruk, kuat, lemah, sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang memengaruhi pengalaman hidupnya.

Dalam buku Filsafat Pendidikan Islam (1992) tercantum bahwa kepribadian secara utuh hanya bisa dibentuk lewat pengaruh lingkungan, terutama dalam pendidikan. Sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian tersebut adalah kepribadian berdasarkan pada akhlak yang mulia.

Mengapa hakikat kepribadian seorang Muslim adalah akhlak yang mulia? Sebab, tingkat kemuliaan akhlak berkaitan dengan tingkat keimanan. Nabi Muhammad Saw. mengemukakan bahwa “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang Mukmin yang paling baik akhlaknya.”

Seseorang yang beragama islam disebut sebagai Muslim. Muslim adalah seseorang yang menyerahkan dirinya secara sungguh-sungguh kepada Allah Swt. Maka, bisa disimpulkan bahwa wujud pribadi Muslim adalah manusia yang mengabdikan dirinya kepada Allah Swt., tunduk dan patuh serta ikhlas dalam amal perbuatannya disebabkan karena iman kepada-Nya.

Pola seseorang yang beriman kepada Allah Swt. adalah dengan melaksanakan kebajikan yang diperintahkan. Ia juga akan membentuk keselarasan dan keterpaduan antara faktor iman, Islam dan ikhsan.

Orang yang mampu melaksanakan aktivitas hidup yakni mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, dan sabar, maka orang-orang tersebut dinamakan sebagai Muslim yang bertaqwa.

Pola taqwa adalah gambaran dari haikat kepribadian seorang Muslim. Apabila pola tersebut berhasil “mewujud” atau “mempribadi” dalam diri seseorang, maka akan nampak perbedaannya dengan orang lain.

Karena ketaqwaannya, maka seorang Muslim bisa dikatakan sebagai seseorang yang mempunyai “Kepribadian Muslim”. Demikianlah hakikat kepribadian seorang Muslim.

Ciri khas dari tingkah laku seorang Muslim di atas bisa dipertahankan sebagai kebiasaan. Kebiasaan atau tingkah laku tersebut sama sekali tidak bisa dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku orang lain yang bertentangan dengan sikap yang telah dimiliki sebelumnya.

Ciri khas tersebut sangat bisa dipertahankan apabila sudah terbentuk sebagai kebiasaan dalam waktu yang lama. Sebagai seorang individu, setiap Muslim mempunyai latar belakang dan pembawaan yang berbeda-beda.

Perbedaan individu tersebut mestinya tidak akan memegaruhi perbedaan yang akan menjadi kendala. Perbedaan yang ada biasanya berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan ciri khas kepribadian seorang Muslim.

Membentuk Kepribadian Muslim

Kepribadian Muslim bisa dilihat dari kepribadian orang per orang atau secara individu dan kepribadian dalam kelompok masyarakat yang kerap disebut sebagai ummah. Kepribadian individu adalah ciri khas seseorang. Ciri khas tersebut tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Selain sikap dan tingkah laku, ada pula kemampuan intelektual yang dimiliki seorang manusia.

Karena ada unsur kepribadian khas yang dimiliki oleh setiap orang, maka sebagai individu seorang Muslim sudah pasti akan menampilkan ciri khasnya masing-masing. Perbedaan kepribadian antara seseorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah hal yang biasa. Perbedaan yang mesti diterima.

Secara fitrah, perbedaan tersebut diakui keberadaanya. Sebab, Islam memandang setiap manusia memiliki potensi yang berbeda. Oleh sebab itulah Islam menuntut setiap orang untuk menunaikan perintah agamanya. Tuntutan tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.

Hal tersebut tercantum dalam Q.S. al-An’am (6) Ayat 152 sebagai berikut:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَٱعْدِلُوا۟ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Wa lā taqrabụ mālal-yatīmi illā billatī hiya aḥsanu ḥattā yabluga asyuddah, wa auful-kaila wal-mīzāna bil-qisṭ, lā nukallifu nafsan illā wus’ahā, wa iżā qultum fa’dilụ walau kāna żā qurbā, wa bi’ahdillāhi aufụ, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum tażakkarụn

Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”

Jika individu adalah unsur terkecil dari sebuah tatanan masyarakat, maka pasti dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai umat akan sulit dipenuhi. Pasti akan selalu ada perbedaan dalam upaya-upaya untuk membentuk kepribadian Muslim baik secara individu atau sebagai suatu ummah.

Dalam kenyataannya, untuk membentuk keribadian seorang Muslim memang akan ada unsur keberagaman atau heterogenitas dan homogenitas atau kesamaan. Maka, meskipun sebagai individu masing-masing kepribadian berbeda, namun dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai ummah, perbedaan itu perlu dipadukan. Sumber yang menjadi dasr dan tujuannya adalah ajaran wahyu.

Dasar pembentukan adalah Al-Qur’an dan hadist, sementara itu tujuan yang akan dicapai menjadi adalah untuk menjadi pengabdi Allah Swt. yang setia sebagai Tuhan yang wajib disembah. Hal tersebut tercantum dalam Quran Surat Az-Zariyat Ayat 56 sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budụn

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Sementara itu pengabdian yang dimaksud didasarkan atas tuntutan untuk menyembah kepada Tuhan yang satu yakni Allah Swt. sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-An’am (6) Ayat 102) sebagai berikut:

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَٱعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

żālikumullāhu rabbukum, lā ilāha illā huw, khāliqu kulli syaiin fa'bud</i></em><em><i>ụh, wa huwa 'alā kulli syaiiw wakīl

Artinya: (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.

Dalam buku Teologi Pendidikan (2001), Jalaluddin menuliskan bahwa pernyataan wahyu tersebut adalah kerangka acuan untuk membentuk kepribadian Muslim sebagai ummah. Acuan ini berisi pernyataan.

Pernyataan tersebut adalah setiap Muslim wajib menunjukkan ketundukan yang optimal kepada zat yang menjadi sesembahannya. Maka, secara keseluruhan, kaum Muslimin mesti mengacu pada pembentukan sikap kepatuhan yang sama. Dengan begitu, diharapkan akan terbentuk sifat dan sikap yang secara umum adalah sama. Inilah yang dimaksud dengan kepribadian Muslim.

Dua Sisi Penting

Ada dua sisi penting kepribadian Muslim sebagai individu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Secara individu, kepribadian Muslim akan mencerminkan ciri khas yang berbeda. Ciri khas yang diperoleh berasal dari potensi bawaan yang membuat perbedaan kepribadian antara Muslim satu dengan Muslim yang lainnya.

Perbedaan yang ada hanya terbatas pada seluruh potensi yang dimiliki seorang manusia. Potensi yang timbul berdasarkan faktor pembawaan masing-masing yang meliputi aspek jasmani dan rohani. Aspek jasmani meliputi perbedaan bentuk fisik, warna kulit, dan ciri-ciri fisik lainnya. Aspek rohaniah adalah sikap mental, bakat, tingkat kecerdasan, dan sikap emosi.

Aspek rohaniah memiliki makna bahwa Allah Swt. memberikan manusia beberapa potensi yang sejalan dengan sifat-sifatnya. Kepibadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan.

Pembentukan kepribadian yang dimaksud adalah kepribadian dengan akhlak yang mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sebab Nabi mengemukakan: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya, adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya.”

Prof. Dr. H. Jalaluddin dalam Teologi Pendidikan (2001) menyatakan bahwa ada dua sisi penting dalam pembentukan kepribadian Muslim. Dua hal tersebut adalah iman dan akhlak. Jika iman dianggap sebagai konsep batin, maka kondisi batin yang baik mestinya tercermin dalam sikap perilaku sehari-hari. Keimanan adalah sisi abstrak dari kepatuhan kepada hukum-hukum Allah Swt. yang ditampilkan dalam lakon akhlak mulia.

Abdullah Al-Darraz menyatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian Muslim berfungsi sebagai pengisi nilai-nilai keislaman. Dengan adanya cermin dari nilai yang dimaksud dalam sikap dan perilaku seseorang maka tampillah kepribadiannya sebagai Muslim.

Al-Darraz menilai bahwa akhlak seorang Muslim adalah bagian dari nilai-nilai yang mesti dipelajari dan dilaksanakan. Hal tersebut mesti dilakoni sampai terbentuk kecendrungan sikap yang menjadi ciri kepribadian Muslim. Usaha yang dimaksud menurut Al-Darraz dapat dilakukan melalui cara memberi materi pendidikan akhlak berupa:

Pertama, penyucian jiwa kejujuran dan penguasaan hawa nafsu.

Kedua, sifat lemah lembut dan rendah hati serta berhati-hati dalam mengambil keputusan menjauhi buruk sangka.

Ketiga, mantap dan sabar.

Keempat, menjadi teladan yang baik.

Kelima, beramal saleh dan berlomba-lomba berbuat baik dalam menjaga diri (iffah).

Keenam, ikhlas.

Ketujuh, hidup sederhana.

Kedelapan, pintar mendengar dan kemudian mengikuti hal-hal yang baik.

Sebenarnya, pembentukan kepribadian Muslim adalah usaha untuk mengubah sikap untuk menerapkan nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap-sikap keislaman tidak terjadi secara spontan. Semua berlajan dalam sautu proses yang panjang dan berkesinambungan.

Proses-proses tersebut digambarkan oleh hubungan dengan obyek, wawasan, peristiwa atau ide (attitude have referent), dan perubahan sikap harus dipelajari (attitude are learned). Ada hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya.

Lantaran ada tuntutan akhlak seperti yang dipedomankan dalam Al-Qur’an, dan tuntutan tersebut sebenarnya bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terlihat ciri-ciri dalam proses penerapan tersebut.

Beberapa ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Selalu menepuh jalan hidup yang didasarkan didikan ketuhanan dengan melaksanakan ibadah dalam arti luas.
  2. Senantiasa berpedoman kepada petunjuk Allah untuk memperolah bashirah (pemahaman batin) dan furqan (kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk).
  3. Kekuatan untuk menyerukan dan berbuat benar, dan selalu menyampaikan kebenaran kepada orang lain.
  4. Memiliki keteguhan hati untuk berpegang kepada agamanya.
  5. Memiliki kemampuan yang kuat dan tegas dalam menghadapi kebatilan.
  6. Tetap tabah dalam kebenaran dalam segala kondisi.
  7. Memiliki kelapangan dan ketentraman hati serta kepuasan batin hingga sabar menerima cobaan.
  8. Mengetahui tujuan hidup dan menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir yang lebih baik.
  9. Kembali kepada kebenaran dengan melakukan tobat dari segala kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya.

Dua sisi penting kepribadian Muslim sebagai individu adalah iman dan akhlak. Apabila iman yang kuat tidak disertai akhlak yang baik, maka kepribadian seorang Muslim sesungguhnya belum lengkap, begitu juga sebaliknya.[]

Baca: Sepuluh Karakteristik Kepribadian Muslim Menurut Syekh Nawawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here