Ayana Jihye Moon: Mualaf Asal Korea yang Berbeda Nasib dengan Kristen Gray

1
77

BincangSyariah.Com – Ayana Jihye Moon dan Kristen Gray, dua Warga Negara Asing (WNA) yang sama-sama tinggal di Indonesia. Ayana berasal dari Korea Selatan dan Kristen berasal dari Amerika Serikat. Keduanya memiliki nasib yang berbeda. Kristen dirundung netizen sementara Ayana dipuji netizen. Apa sebenarnya yang membuat keduanya berbeda nasib?

Kasus Kristen Gray

Beberapa waktu lalu, kasus Kristen Gray ramai diperbincangkan netizen di media sosial. Perempuan bernama lengkap Kristen Antoinette Gray dan pasangan perempuannya, Saundra Michelle Alexander, kemudian dideportasi dari Indonesia. Hal tersebut terjadi karena isi cuitan Kristen di Twitter yang dianggap menyebarkan informasi yang meresahkan masyarakat.

Kasus tersebut bermula saat Bali menjadi trending di Twitter pada Minggu (17/1/2021) malam. Trending tersebut dipicu oleh sebuah utas dari pemilik akun Twitter milik Kristen Gray dengan username @kristentootie. Kristen mencuit beberapa hal tentang Bali.

Dalam cuitannya, ia menceritakan tentang pengalaman kepindahannya ke Bali pada 2019. Keputusan tersebut diambil setelah ia kehilangan pekerjaan. Tapi, ia tak bisa kembali ke kampung halamannya, Amerika Serikat, disebabkan karena pandemi Covid-19.

Selama di Bali, Gray mengaku bekerja di bidang desain grafis. Ia pun menyinggung tentang sejumlah hal yang membuatnya betah tinggal di Bali. Salah satu alasannya adalah karena biaya hidup di Bali yang lebih murah dibandingkan Amerika Serikat.

Lalu, Gray mengajak warga negara asing lain berkunjung ke Bali meski pandemi Covid-19. Utas yang viral itu sempat dikecam warganet. Sebagian besar warganet menilai tindakan Gray tidak bijak sebab pandemi Covid-19 masih berlangsung. Cuitan Gray pun menjadi pemicu utama pihak Imigrasi Indonesia untuk melakukan penelusuran terhadap WNA asal Amerika Serikar tersebut.

Pihak Imigrasi kemudian mencari keberadaan Gray untuk mengonfirmasi tentang cuitannya yang menawarkan kepada WNA bagaimana cara masuk ke Bali saat pandemi Covid-19. Pihak imigrasi ingin mengetahui tentang pekerjaan Kristen selama tinggal di Bali. Ia diketahui menggunakan visa kunjungan untuk sampai ke Bali. Pihak imigrasi akhirnya mendeportasi Kristen bersama pasangannya, beserta pengacaranya mendatangi Imigrasi Denpasar, pada Selasa (19/1/2021).

Pengacara menyebutkan bahwa Kristen mengaku syok dengan reaksi netizen atas cuitannya. Setelah 8 jam diperiksa, Krsiten bersama kekasihnya akhirnya disanksi deportasi. Kepala Kanwil Kemenkumham Bali Jamaruli Manihuruk saat konferensi pers di Kanim Imigrasi Denpasar menyatakan, “tindak lanjut WN Amerika Serikat Kristen Gray dan pasangannya dikenakan tindakan administrasi keimigrasian, pendeportasian atau pengusiran.”

Keputusan tersebut diambil karena beberapa alasan. Keduanya dideportasi karena menyebarkan informasi yang dianggap meresahkan masyarakat. Informasi tersebut yakni tentang pengalamannya menetap di Bali yang memberikan kenyamanan terhadap kaum LGBT. Hal tersebut ditulis Kristen dalam cuitan di akun Twitternya yang viral. Selain itu, ada juga cuitan Kristen tentang kemudahan akses masuk ke wilayah Indonesia terutama pada masa pandemi.

Hal terparah yang dilakukan WNA asal Amerika Serikat tersebut adalah melakukan kegiatan bisnis melalui penjualan e-book. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pihak imigrasi, Krsiten telah berhasil menjual sekitar 50 e-book dengan harga 30 dolar Amerika Serikat (Rp 422.000). Judul e-book tersebut adalah Our Bali Life is Yours (Kehidupan Bali Kami adalah Milik Anda).

Selain menjual e-book, Kristen juga menawarkan konsultasi tentang cara masuk ke Indonesia selama pandemi Covid-19. Untuk konsultasi tersebut, ia memasang tarif sebesar 50 dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 703.000. Konsultasi yang diberikan berdurasi sekitar 45 menit.

Penawaran kepada orang asing untuk pindah ke Indonesia saat corona tersbeut jelas dituliskan dalam cuitan di Twitternya dan ada dalam e-book yang bisa didownload. E-booknya memuat cerita tentang apa yang ia lakukan di Bali selama hampir setahun.

Alasan terkuat mengapa Kristen dideportasi adalah tentang cuitannya yang mengajak WNA untuk pindah ke Bali saat pandemi. Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan covid-19 Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Dalam Masa Pandemi Covid-19 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Imigrasi Nomor: IMI-0103.GR.01.01 Tahun 2021 tentang Pembatasan Sementara Masuknya Orang Asing ke Wilayah Indonesia Dalam Masa Pandemi Covid-19.

Kristen Gray menanggapi sanksi yang diberikan dengan mengaku tak bersalah sebab visa kunjungan miliknya tidak overstay. Ia pun mengaku tidak bekerja atau mencari uang di Indonesia. “Saya tidak bersalah, visa saya tidak overstay. Saya tidak menghasilkan uang dalam Indonesia, rupiah. Saya berkomentar mengenai LGBT dan saya dideportasi karena LGBT.” Pernyataan tersebut ia lontarkan dengan didampingi oleh sang pengacara, Erwin Siregar.

Sebelum diterbangkan ke negara asalanya, Kristen dan pasangannya terlebih dahulu ditahan di ruang detensi Kantor Imigrasi Denpasar. Deportasi yang dilakukan terhadap Kristen Gray adalah langkah terbaik untuk memberikan sanksi kepada dia dan pasangannya. Kasus ini juga membuka mata masyarakat Indonesia untuk tidak mengistimewakan bule atau warga negara asing sebab setiap manusia adalah setara, tak ada yang lebih baik dan tak ada yang lebih buruk.

Kisah Hidup Ayana

Kasus Kristen Gray sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh Ayana Jihye Moon, selebgram asal Korea Selatan yang telah menetap di Indonesia. Akhir tahun 2020 lalu, ia sempat pulang kampung ke Korea Selatan dan membuat beberapa vlog dengan sang ibu dan adiknya. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke Indonesia sebelum 1 Januari 2021 dan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat termasuk proses karantina selama dua pekan di sebuah hotel di Jakarta yang ia bagikan di instagramnya.

Ayana Jihye Moon adalah seorang perempuan yang lahir di Korea Selatan, 28 Desember 1995. Ia dikenal sebagai selebgram dan model yang berkewarganegaraan Korea. Ayana diketahui merupakan seorang muallaf yang saat ini sangat terkenal di kalangan Muslimah khususnya di negara Indonesia dan Malaysia. Ayana memutuskan masuk Islam sebab ketertarikannya pada segala hal yang berbau Timur Tengah. Saat ini, Ayana aktif di dunia entertainment Indonesia dan Malaysia.

Ayana juga diketahui memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Aydin Moon. Aydin baru-baru ini diberitakan telah menjadi seorang mualaf sebab ia telah menjalankan puasa ramadhan pertamanya pada tahun 2020. Ayana adalah cucu perempuan pertama dari keluarga besarnya dengan nama lahir Jihye, nama yang merupakan pemberian kedua orang tuanya.

Ayana dikenal memiliki wajah yang sangat mirip dengan ayahnya di mana keduanya bermata besar, hal yang tidak lazim di Korea yang umumnya bermata kecil. Mata besar inilah yang membedakan Ayana dengan orang Korea pada umumnya dan menjadi nilai plus di mata publik.

Mata besarnya juga memudahkan Ayana diketemukan saat terpisah dengan kedua orang tuanya sangat mengunjungi Pasar Moran, sebuah pasar tradisional di Korea Selatan yang sangat terkenal di era 90-an dan hanya buka pada tanggal 4, 9, 14, 19, 24 dan 29 setiap bulannya.

Keluarga besar Ayana adalah sebuag jeluarga yang sangat tertarik dengan dunia politik. Sang kakek pernah bekerja di pemerintahan Korea Selatan. Di usia delapan tahun, Ayana mulai merasakan petualangan politik yang pertama kali dengan mendukung aktif salah seorang kandidat presiden dalam pemilu, meski ia belum punya hak untuk memberikan suaranya.

Saat ini, Ayana Jihye Moon melanjutkan kesuksesan Inneke Koesherawati sebagai brand ambassador Wardah sejak tahun 2002-2018. Ia menjadi brand ambassador Wardah sejak 2018 hingga saat ini. Kehadirannya di dunia hiburan tanah air membuat kesan yang menyenangkan sebab ia adalah seorang Korean Muslim, di mana Islam merupakan agama minoritas di negara asalnya.

Menebar Kebaikan

Apa yang dilakukan Ayana di Indonesia jelas berbeda dengan Kristen. Sebenarnya, keduanya memang memanfaatkan masyarakat Indonesia yang kadung gandrung dengan bule, apalagi bule yang masuk Islam atau muallaf. Bisa saja, jika Kristen berbuat baik dan tidak mengajak orang lain untuk tinggal di Bali dan mengakali visa di masa pandemi, orang-orang akan tetap menerimanya di Bali mengingat keramahan orang Indonesia yang tak ada duanya di dunia.

Sayangnya, Kristen melakukan kesalahan fatal dengan menganggap enteng peraturan di Bali dan secara tidak langsung membuat citra perizinan untuk tinggal di Indonesia menjadi buruk di mata dunia.

Jika saja Kristen Gray melakukan seperti apa yang Ayana Jihye Moon lakukan yakni merangkul orang-orang di sekitarnya untuk berbuat kebaikan dan mengeksplor keragaman Indonesia lalu mengenalkannya pada masyarakat di seluruh dunia, Kristen tentu tidak dihakimi dan diberikan sanksi deportasi.

Bukankah Allah Swt. akan selalu mencintai orang-orang yang berbuat baik? Sebab, selain senantiasa semangat dalam menuntun ilmu serta taat beribadah, berbuat kebaikan juga menjadi hal yang sangat dicintai oleh Allah Swt.

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah: 195)[]

(Baca: Non-Muslim Masuk Islam, Amal Baiknya Tercatat Saat Ketika Jadi Mualaf?)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here