Ayahanda Abdullah bin Mubarok; Budak Sahaya yang Memilki Sifat Wira’i

0
862

BincangSyari’ah.Com – Al-kisah, Nuh bin Maryam adalah orang yang memiliki kekayaan dan kedudukan terhormat. Tidak hanya itu, ia juga orang yang kuat agamanya. Ia pula memiliki seorang putri yang mirip dengannya. Selain mirip, sang putri juga baik agama, ketaqwaan dan budi pekertinya. Ia juga berparas cantik dan tentunya pewaris dari orang tuanya.

Nuh memilki seorang budak sahaya bernama Mubarok, seorang miskin yang tidak memiki kekayaan sama sekali. Akan tetapi, Mubarok memiliki dua senjata, yakni kuat agama dan terjaga akhlaqnya. Dua hal ini jika dimiliki, seperti memliki seluruh kekayaan dunia dan isinya. Suatu ketika Nuh menyuruhnya untuk menjaga kebun-kebun anggurnya.

“Pergilah kamu ke kebun ini, jagalah buahnya dan rawatlah sampai aku mendatangimu,” perintah Nuh kepada Mubarok.

Dua bulan kemudian, Nuh mengunjungi kebunnya, untuk sekedar rehat dan mencari hiburan.

“Wahai Mubarok! Carilah satu tandan anggur untukku,” perintah Nuh kepada Mubarok setelah 2 bulan merawat kebunnya.

Mubarok bergegas mengambilkan setandan anggur untuk sang tuan. Akan tetapi anggur yang diberikan itu ternyata mentah dan kecut.

“Carikan yang lain!” pinta Nuh.

Mubarok kembali mengambilkan anggur tetapi rasanya masih kecut. Untuk ketiga kalinya Nuh memerintah, tapi anggur yang dibawa Mubarok tetap saja rasanya kecut.

“Hai Mubarok! Aku memintamu untuk mengambilkan anggur yang sudah matang. Tetapi engkau mengambilkan anggur mentah. Apa kamu tidak bisa membedakan antara anggur manis sama kecut?” jelas Nuh.

“Demi Allah! Engkau tidak menyuruhku untuk memakannya. Engkau hanya menyuruhku untuk menjaganya dan merawatnya. Demi Allah tiada tuhan selain Dia, aku benar-benar tidak pernah merasakan barang satu anggurpun. Demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia, aku tidak takut padamu dan tidak takut kepada seorang makhluk, akan tetapi aku taku pada Dzat yang dari pantauan-Nya,” jawab Mubarok.

Nuh merasa tersentak dengan jawaban Mubarok. Ia juga takjub dengan sifat Wira’i (keberhati-hatian) dari Mubarok.

“Sekarang aku ingin bermusyawarah denganmu Mubarok” ucap Nuh mengalihkan pembicaraan. Lalu Nuh mengutarakan permasalahan pelik yang dihadapinya.

“Telah meminang anakku seorang kaya dan terhormat fulan bin fulan. Menurut pendapatmu, siapa yang cocok aku nikahkan dengan putriku?”

Mubarokpun menjawab, “orang-orang Jahiliyah menikahkan berdasarkan orang tua, nasab dan kebangsawanan. Sedangkan orang Yahudi menikahkan berdasarkan kekayaan dan harta. Adapun orang-orang Nasrani menikahkan berdasarkan keelokan rupa. Dan pada masa Rasulullah SAW, masyarakat dinikahkan berdasarkan agama dan kedudukan. Seorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya. Dan siapa menyerupai sebuah kaum, maka ia adalah bagian darinya”.

Nuh pun terpekur. Lalu berucap, “Kamu merdeka karena Allah!”. Ia memerdekakan Mubarok. “Aku telah menerima pertimbanganmu, dan menurutku engkau adalah orang terbaik yang akan menikahi putriku” lanjut Nuh.

“Tawrakan pada putrimu”, ucap Mubarok.

Ketika Nuh menceritakan mantan budaknya kepada putrinya, serta menceritakan kepribadian Mubaruk, lantas sang putri berkata “Apakah engkau ridho ia menikahiku?”

“Iya,” jawab Nuh.

“Akupun ridho dengannya,” tandas sang putri.

Kemudian Mubarok dinikahkan dengan putri sang majikan yang akhlaqnya itu. Dari pernikahan yang diberkahi ini, serta dua hamba Allah yang bertaqwa ini lahirlah seorang putra yang bernama Abdullah. Ya, Abdullah bin Mubarok, seorang yang kelak memenuhi bumi dengan keluasan ilmunya, pakar hadits dan fiqih serta Wira’i. Wallahu’alam bish-showab.

Sumber: Ngopi di Pesantren: Renungan dan Kisah Inspiratis Kiai dan Santri karya Muhammad Thom Afandi, Kediri: ToTES Pubishing, 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here