Tafsir Surah Yusuf 21-22; Awal Kesuksesan Nabi Yusuf

0
1669

BincangSyariah.Com – Kesabaran Nabi Yusuf yang begitu lama memberinya kemanfaatan yang begitu besar sehingga pada akhirnya dia menuai buah dari kesabaran tersebut. Mengenai kisah kesuksesan Nabi Yusuf berkat kesabarannya, Allah Swt. berfirman:

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ . وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Wa qālallażisytarāhu mim miṣra limra`atihī akrimī maṡwāhu ‘asā ay yanfa’anā au nattakhiżahụ waladā, wa każālika makkannā liyụsufa fil-arḍi wa linu’allimahụ min ta`wīlil-aḥādīṡ, Wallāhu gālibun ‘alāamrihī walākinnaakṡaran-nāsi lā ya’lamụn.
Wa lammā balaga asyuddahū ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmā, wa każālika najzil-muḥsinīn

Artinya:

Dan orang mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: “berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikian pulalah kami memberikan kedudukan yang baik  kepada Yusuf di muka bumi (mesir), dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami memberikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (Q.S.Yusuf: 21-22)

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi memahami arti tempat (dan layanan) yang baik dengan makna makanan dan pakaian yang baik. Imam al-Thabarai dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan maksud dari kata manusia pada kalimat tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, yaitu mereka orang-orang yang merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir memahami kalimat cukup dewasa dengan makna telah sempurna akan dan fisiknya. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 19-20; Nabi Yusuf Selamat dari Dasar Sumur)

Baca Juga :  Pentingnya Sikap Saling Percaya

Imam al-Qurthubi menyampaikan perselisihan pendapat para ulama dalam mengartikan hikmah dan ilmu. Dalam penyampaianya bahwa Mujahid mengartikanya dengan makna akal, kepahaman dan kenabian. Sebagian ulama mengartikanya dengan makna kenabian dan ilmu agama dan ulama lainya berpendapat mengetahui ta’bir mimpi.

Orang-orang yang berbuat baik adalah orang-orang mukmin. Al-Dlahak mengartikanya orang-orang yang sabar atas sebuah cobaan sebagaimana Yusuf. al-Thabari berkata; yang dikehendaki adalah Muhammad Saw. Sebagaimana Allah Swt. membalas kepada Yusuf, Dia akan menyelamatkan Muhammad Saw. dari orang-orang musyrik. Demikian penyampaian al-Qurthubi dalam karyanya.

Di saat sekelompok pedagang menjual Yusuf di tanah Mesir, datanglah seorang laki-laki membelinya. Dalam sebuah riwayat seorang laki-laki tersebut bernama Qithfir atau Ithfir bin Ruhail dan berjuluk al-Aziz.

Qithfir atau Ithfir adalah seorang perdana mentri di bawah kekuasaan raja Rayan bin walid. Dalam sebagian versi penguasa kerajaan di waktu tersebut adalah raja Fir’aun yang berkuasa di masa nabi Musa berdasarkan firman-Nya “Dan sungguh sebelum itu Yusuf telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata” (Q.S.Ghafir: 34). Dan ulama lain mengarahkan bahwa Fir’aun di masa Musa adalah keturunan dari Fir’aun di masa Yusuf.

Qithfir atau Ithfir memiliki seorang istri yang bernama Ra’il bin Ra’ail. Menurut ulama lain bernama Zulaikha. Dalam kisah singkatnya, kedua orang tersebut telah menjalin hubungan pernikahan namun belum juga dikaruniai anak oleh Tuhan.

Qithfir atau Ithfir membeli Yusuf kemudian menyerahkan kepada istrinya dan dia berpesan kepadanya “Muliakanlah dia, siapa tau dia akan dapat membantu urusan kita di saat dia telah bisa memahami (dewasa) atau kita angkat dia sebagai anak”. Perintah ini menunjukan bahwa Qithfir atau Ithfir memandang Yusuf dengan pandangan terhormat. Dalam pandangan sebagian ulama, Yusuf berada dalam genggaman Qithfir atau Ithfir semenjak dia berusia tujuh tahun.

Baca Juga :  Sepatu Butut Abu Qasim

Kesempurnaan hakikat berada pada dua titik, yaitu kedudukan derajat dan ilmu. Kesempurnaan Yusuf dalam sisi pangkat derajat dan kedudukan ialah keberadaanya di muka bumi dan kesempurnaanya dalam sisi ilmu ialah anugerah Tuhan kepadanya sehingga dia mampu mengetahui ta’bir mimpi, hakikat sesuatu dan kemampuanya mengambil keputusan sesuai kebijakan-Nya.

Mayoritas manusia tidak mengetahui hikmah di balik penciptaan dan kehendakNya. Ada tiga manusia yang memiliki firasat paling tajam, yaitu al-Aziz mesir tatkala dia berkata kepada istrinya “boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak” (Q.S.Yusuf: 20), seorang perempuan di saat berkata kepada Musa “Dan salah satu dari kedua (perempuan) itu berkata “Wahai ayahku!, jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya” (Q.S.al-Qashash: 26) dan Abu Bakar di saat memberikan jabatanya kepada Umar.

Ibnu katsir dalam karyan Tafsir Ibnu katsir berkata:

واعلم أن من تأمل في أحوال الدنيا وعجائب أحوالها عرف وتيقن أن الأمر كله لله وأن قضاء الله غالب

“Barang siapa mengangan-angan keadaan dunia dan keindahanya, maka dia akan mengetahui serta yakin bahwa sesungguhnya segala sesuatu adalah milik dan keputusanya”.

Dengan kesabaranya, Yusuf memperoleh ilmu dan hikmah dari-Nya. Ibnu katsir menyampaikan pendapat para ulama tentang umur Yusuf di saat menerima Ilmu dan hikmah dari-Nya. Dalam penyampaianya ia berkata:

فقال ابن عباس ومجاهد وقتادة: ثلاث وثلاثون. وعن ابن عباس: بضع وثلاثون. وقال الضحاك: عشرون. وقال الحسن: أربعون سنة. وقال عكرمة: خمس وعشرون سنة. وقال السدي: ثلاثون سنة. وقال سعيد بن جبير: ثمانية عشرة سنة. وقال الإمام مالك، وربيعة، وزيد بن أسلم، والشعبي: الأشد الحلم. وقيل غير ذلك،

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 25-29; Pembelaan Nabi Yusuf atas Tuduhan Perbuatan Mesum

“Ibnu Abas dan Mujahid serta Qatadah berpendapat di saat Yusuf berumur tiga puluh tiga tahun, al-Dlahak bependapat di saat umur tiga puluh tahun, al-Hasan berpendapat di saat umur empat puluh tahun, Ikrimah berpendapat di saat berumur dua puluh lima tahun, al-Saddi berpendapat tiga puluh tahun, Sa;id bin Jabir menyatakan umur delapan belas tahun dan Malik, Rabi’ah dan zaid bin Aslam serta al-Syi’bi disaat Yusuf mencapai umur dewasa dan masih banyak pendapat lainya”.

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan:

ومن الناس من قال إن النبوة جزاء على الأعمال الحسنة ومنهم من قال إن من اجتهد وصبر على بلاء الله تعالى وشكر نعماء الله تعالى وجد منصب الرسالة واحتجوا على صحة قولهم بأنه تعالى لما ذكر صبر يوسف على تلك المحن ذكر أنه أعطاه النبوة والرسالة

“Sebagian ulama berkata; Sesungguhnya derajat kenabian merupakan balasan atas amal-amal baiknya. Dan sebagian ulama lainya berkata; Sesungguhnya seseorang yang bersungguh-sungguh dan bersabar atas cobaan dari Allah Swt. serta bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya maka dia memperoleh derajat (bagaikan derajat) kerasulan. Mereka bertendensi berdasarkan kabar Tuhan terhadap kesabaran Yusuf atas cobaan yang dialaminya kemudian Dia mengabarkan bahwa Dia memberinya derajat kenabian.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here