Astrologi dalam Pandangan Ibnu Khaldun

1
1001

BincangSyariah.Com – Salah satu ilmu-ilmu kealaman (tabi’iyyat) yang kebenaran premis-premisnya didiskusikan Ibnu Khaldun ialah astrologi. Menurut para pakarnya, kata Ibnu Khaldun, astrologi ialah ilmu yang jika dikuasai akan dapat mengantarkan kita pada pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di alam materia sebelum terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Mungkin secara ringkasnya, astrologi itu fungsinya ialah untuk weruh seduruning winarah (tahu sebelum kejadian).

Pengetahuan ini didapat melalui pengamatan terhadap kekuatan benda-benda langit serta pengaruhnya terhadap elemen-elemen pembentuk materia, baik secara terpisah maupun secara bersamaan. Dengan pengamatan mendalam terhadap pergerakan bintang-bintang dan planet-planet yang ada di langit, menurut ilmu ini, kita akan dapat mengetahui peristiwa apa yang akan terjadi di alam ini, baik peristiwa umum maupun peristiwa khusus.

Tentu dengan corak berpikir yang rasionalis realis, Ibnu Khaldun dengan sangat tegas menolak kebenaran premis-premis yang ada dalam astrologi ini. Dalam benaknya, Ibnu Khaldun bertanya-tanya, dari mana kita dapat mengetahui kekuatan planet dan bintang-bintang serta pengaruhnya terhadap peristiwa di bumi?

Setelah mengajukan pertanyaan seperti ini, Ibnu Khaldun mengemukakan pandangan-pandangan kaum filosof dan kaum ilmuwan yang berkaitan dengan ilmu ini, dan kemudian membantahnya dengan argumen-argumen kuat. Bantahan ini cukup mampu merobohkan sendi bangunan validitas astrologi itu sendiri.

Di antara pandangan yang dibantahnya ini ialah klaim bahwa para pakar astrologi dapat mengetahui pengaruh benda-benda langit terhadap peristiwa di bumi melalui tumpukan pengalaman masa silam, yakni dengan mengamati gerakan bintang-bintang dan planet-planet pada orbitnya beserta peristiwa-peristiwa di bumi yang menyertainya.

Pandangan ini, kata Ibnu Khaldun, jelas tidak berdasar. Sebab, tumpukan pengalaman tersebut, dalam pandangan ini, tidak dipahami secara benar.

Pengalaman dalam pandangan Ibnu Khaldun hanya “peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang sehingga diperolehlah pengetahuan atau sangkaan awal. Sementara itu, perputaran bintang-bintang pada orbitnya memakan waktu lama, bahkan sampai berabad-abad. Umur manusia tidak cukup menjangkau lamannya perputaran ini. Lamanya perputaran bintang-bintang ini tidak akan dapat dikejar oleh pengalaman manusia, bahkan ketika semua pengalaman berabad-abad tersebut disatukan (untuk mengamati kaitan gerakan bintang dan peristiwa di bumi)”.

Baca Juga :  Akhir Hayat Ibnu Rusyd Tersandung Hukum Penghinaan terhadap Penguasa

Pandangan lainnya tentang validitas astrologi yang dibantah Ibnu Khaldun dikemukakan oleh Ptolemus. Ptolemus dan beberapa pemikir lainnya berpandangan bahwa kita dapat mengetahui kekuatan benda-benda langit di tata surya serta pengaruhnya bagi peristiwa yang terjadi di bumi “dengan intuisi dan pengalaman. Semua benda-benda langit ini dapat kita analogikan dengan matahari yang hakikat wujudnya serta pengaruhnya dapat kita ketahui secara jelas.” Jadi, dalam pandangan Ptolemus ini, jika matahari saja memiliki daya pengaruh yang cukup nyata terhadap tumbuh-tumbuhan..dst…tentunya planet-planet lain yang berada di bawah pengaruh matahari akan dengan sendirinya juga memiliki pengaruhnya di bumi.

Ibnu Khaldun sepertinya tidak membantah pengaruh matahari terhadap pergerakan yang terjadi di bumi namun yang dipersoalkannya ialah klaim bahwa kita bisa mengetahui itu semua melalui pengalaman dan intuisi. Kalau soal pengalaman, sudah kita bahas di atas, namun jika pengaruh tersebut diketahui melalui intuisi, jelas, kata Ibnu Khaldun, hanyalah sangkaan belaka.

Sangkaan ini, kata Ibnu Khaldun, ialah “daya yang muncul dalam pikiran, bukan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap sebab-akibat peristiwa, bahkan bukan dicapai melalui keterampilan pengetahuan. Jadi, jika intuisi ini kehilangan pembenarannya, tentunya ilmu astrologi ini dapat diragukan validitasnya.”

Bahkan, kalaupun kita terima pandangan bahwa pengaruh benda-benda langit terhadap peristiwa di bumi dapat diketahui melalui cara ini itu, kata Ibnu Khaldun,  masih tetap tidak cukup bagi kita untuk mengetahui apa yang terjadi di bumi melalui astrologi. Sebab, kata Ibnu Khaldun, “kekuatan bintang-bintang di langit bukanlah satu-satunya penggerak di bumi. Ada kekuatan lain yang berpengaruh terhadap peristiwa di bumi, yakni seperti daya generatif yang terdapat pada sperma milik ayah, atau kekuatan-kekuatan lainnya yang masuk ke dalam kategori ini.”

Baca Juga :  Ini Alasan Ibnu Khaldun Tak Percaya Soal Kemunculan Imam Mahdi

Semua daya pengaruh gerak ini tidak dapat diketahui secara pasti oleh nalar manusia, terlebih di antara daya dan kekuatan ini, ada yang jauh dari pengamatan manusia dan tidak jelas bentuknya. Semua factor-faktor inilah yang tentunya membuat astrologi sebagai ilmu yang mengantarkan kita kepada pengetahuan mengenai hal-hal yang akan terjadi di bumi melalui pengamatan terhadap bintang-bintang di tata surya menjadi tidak relevan, dan bahkan mustahil untuk dicapai.

Jadi semua yang dikatakan oleh para ahli astrologi (zodiak), kata Ibnu Khaldun, tidak mendapat basis kebenarannya, dan atas dasar ini, ramalan zodiac itu menipu, dan hanya kedustaan belaka.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here