Asal-Usul Pengaruh Ahli Kitab (Yahudi) atas Penulisan Hadis Nabi

0
280

BincangSyariah.Com – Interaksi antara kaum beriman (percaya terhadap Tuhan) tidak melulu berangkat dari narasi pertentangan “musuh-lawan”.  Itu artinya relasi umat beragama tidak pernah monolitik dan tunggal.

Bahkan jika kita menelusuri kepada bentuk nan otentik, narasi kaum beriman bisa berbentuk “saling-keterpengaruhan”, “saling memberi-menerima”, tentunya level yang kita bicarakan bukan pada level akidah.

Poinnya kita menelusuri lebih kebelakang bagaimana persentuhan komuntas beriman. lihat dilihat sebagai persentuhan dan saling-memberi antar komunitas beriman. Misalnya, pertautan antara komunitas beriman antara umat Yahudi dan kalangan arab sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Bani Israil merupakan salah satu sekte keturunan Yahudi dan Nasrani yang meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai khatam al-Nabiyyi. Hal itu kemudian menjadi salah satu alasan bani Israil melakukan hijrah dari daerah Syam ke daerah jazirah arab 7 abad sebelum masa kenabian.

Pada era tersebut, telah terjadi persentuhan antara berbagai antara orang yahudi dengan orang arab hingga sampai beberapa generasi.

Tradisi ceritera sendiri tidak pernah dimiliki oleh kalangan arab kala itu, di mana kecendrung mengandalkan ingatan. Tradisi ceritera sendiri, merupakan tradisi kalangan yahudi. Masyarakat Arab memang dikenal dengan masyarakat yang mengandalkan ingatan, hal ini terlihat dari para pujangga mereka sering bersair.

Persentuhan antara orang yahudi dan arab pada masa awal Islam, dijelaskan oleh Ibnu Khaldun. Di mana masyarakat arab pada masa ke-Nabian, tidak memiliki ilmu pengetahuan dan tidak disebut “ahli kitab”. Ibnu Khaldun menjelaskan hal ini dengan sangat baik:

إن العرب لم يكونوا من أهل الكتاب ولا علم، وإنما غلبت عليهم البداوة والأمية. فإذا تشوفوا إلى معرفة شيء مما تشوف إليه النفوس البشرية في أسباب المكونات، وبدء الخليفة، وأسرار الوجود، فإنما يسألون عنه أهل الكتاب قبلهم ويستفيدون منهم، وهم أهل التورة من اليهود ومن تبع دينهم من النصارى.

Baca Juga :  Berusaha Menjadi Kekasih Allah

“Orang arab mereka bukanlah ahli kitab dan tidak memiliki ilmu pengetahuan. Hanya saja, keadaan tidak mampu baca, tulis dan kebaduwian menguasai diri mereka.

Jika mereka ingin mengetahui suatu hal yang termasuk apa dirasakan tubuh manusia karena faktor alam, atau tentang permulaan manusia, rahasia eksistensi, maka mereka hanya bisa bertanya hal tersebut kepada ahli kitab, dan mengambil faidahnya.

Dan mereka itu adalah orang-orang yahudi pengikut kitab taurat dan orang-orang nasrani yang mengikuti agama mereka.”. 

Antara satu dan lainnya bisa dibilang saling memengaruhi. Keterpengaruhan tersebut di antaranya terepresentasikan dalam disiplin hadis. Pengaruh orang Yahudi (termasuk salah satu ahli kitab yang sering dijelaskan dalam Alquran).

Pengaruh tersebut diserap dan dijadikan sebagai kekuatan dan pengembangan watak ke-Islaman, bahkan di level ilmu pengetahuan ke-Islaman sendiri.

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun menerangkan:

وأهل التورة الذين بين العرب يومئذ بادية مثلهم، ولا يعرفون من ذلك إلا ما تعرفه العامة من أهل الكتاب، ومعظمهم حمير الذين أخذوا بدين اليهودية، فلما أسلموا بقوا على ما كان عندهم، مما لا تعلق له بالأحكام الشرعية التي يحتاطون لها، مثل أخبار بدء الخليفة وما يرجع إلى الحدثان والملاحم وأمثال ذلك، وهلاء مثل كعب الأحبار ووهب من منبه وعبد الله بن سلام وأمثالهم.

“dan pengikut kitab taurat mereka yang berada di antara orang arab, kala itu juga orang-orang baduwi seperti mereka (orang arab). Mereka hanya mengetahui apa yang diketahuai kebanyakan orang ahli kitab.

Sebagian besar mereka orang-orang merah yang beragama seperti agama yahudi. Tatkala, mereka masuk Islam, mereka tetap seperti kala dahulu. Hal yang terkait dengan hukum syariat Islam, mereka mereka kuasai. Seperti penciptaan manusia pertama, dam hal-hal yang terkait dengan peristiwa fitnah dan pernag. Mereka adalah Ka’ab al-Ahbar, Wahab bin Munabbih, dan Abdullah bin Salam.

Menarik untuk dicatat di sini adalah nama Wahab bin Munabbih merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan tulis yang kuat sebelum ia masuk Islam.

Baca Juga :  Ketika Kiai-kiai NU Berdiskusi dengan Ulama Wahabi

Oleh Ajjaj al-Khatib dalam bukunya Makanatus Sunnah disebutkan bahwa ia memiliki naskah awal tentang hadis Nabi suatu yang secara sendirinya mengkritisi pandangan keberadaan validitas hadis pada abad 2 H.

Problem keterpengaruhan tradisi safawiyah (berceritera) Yahudi terhadap kodifikasi hadis Nabi disebutkan oleh Taha Jabir al-Alwani lewat buku dalam satu bab Isykaliyat al-Ta’amul Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah,  Wallahu A’lam bi al-Shawab.     

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.