Arsitektur Bangunan Masjid Masa Rasulullah

0
1014

BincangSyariah.com – Masjid dilihat dari segi bahasa bermakna “tempat sembahyang”. Masjid berasal dari bahasa Arab yaitu sujudan, fi’il madhi  dari sajada, fi’il diberi awalan maa, sehingga berubah menjadi isim makan. Isim makan menyebabkan perubahan bentuk sajada menjadi masjidu sebagaimana dijelaskan oleh Sidi Gazalba dalam Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam.

Adapun pengertian Masjid agung yang biasanya dipahami oleh banyak orang adalah terkait dengan bentuk fisik yang besar dan megah, misalnya gunung yang menjulang tinggi merupakan gunung yang agung. Begitu juga Masjid yang besar, kerap disebut Masjid Agung.

Muhammad E. Ayub dalam Manajemen Masjid menjelaskan bahwa Masjid juga memiliki komponen-kompenen yang terdiri dari luar dan dalam Masjid, komponen dalam Masjid perlu di perindah untuk menambah kekhusyuan dalam beribadah, sedangkan komponen luar Masjid termasuk pagar juga dapat memperindah pemandangan Masjid.

Perjalanan seni arsitektur Masjid dalam kebudayaan masyarakat muslim memberikan hubungan prosesi ibadah dalam masjid. Unsur-unsur dalam Masjid terpadu dalam satu rangkaian perwujudan arsitektural. Ruang imam ditandai dengan menghadirkan Mihrab untuk ruang makmum, ruang utama jama’ah biasa disebut haram dan zulla. Bisa juga melebar ke serambi Masjid. Mimbar diposisikan sebagai tempat untuk berkhutbah.

Minaret menurut Ahmad Farani dalam Arsitektur Masjid adalah atribut untuk muadzin melantunkan panggilan adzan untuk membedakan posisi imam, pada dinding arah kiblat ditandai dengan mihrab. Pada bagian atap bangunan di tambahkan kubah. Masjid memiliki tiga ruang utama yaitu, mihrab, shaf makmum dan serambi. Masjid berorientasi menghadap ke kiblat dengan pola ruang lapang, dan memanjang ke arah kiri dan kanan, sehingga shaf utama untuk shalat labih banyak. Bagian dalam masjid dirancang sebagai ruang yang tenang dan khusyuk.

Baca Juga :  Budaya Titip Salam untuk Nabi Ketika Haji dan Umrah

Sebagai seni paling awal dan permanen, meskipun untuk tujuan keagamaan, arsitektur selalu menjadi representasi utama seni bangunan. Tempat ibadah yang secara harfiah dipahami sebagai rumah Tuhan merupakan bangunan pertama yang menggerakkan jiwa yang tercerahkan untuk menampilkan keindahan seni yang lebih tinggi daripada yang diterapkan pada rumah-rumah hunian biasa. Sejauh mengenai orang Arab Islam, kesenian menemukan ekspresinya yang tinggi dalam arsitektur bangunan tempat ibadah. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa arsitektur bangunan masjid merupakan contoh yang lebih jelas dalam perpaduan budaya Islam.

Masjid yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah sangat sederhana dan masjid ini telah menjadi prototipe umum masjid besar pada abad pertama Islam. Masjid ini terdiri dari pelataran terbuka yang dikelilingi oleh dinding dari tanah liat yang dijemur untuk menghindari sinar matahari, kemudian Nabi menambahkan atap untuk menutup seluruh ruang yang terbuka.

Atap itu terbuat dari batang kurma yang berfungsi sebagai tiang penyangga. Sebuah batang kurma yang berfungsi sebagai tiang penyangga. Sebuah batang pohon kurma diletakkan di atas tanah yang pada awalnya digunakan sebagai mimbar, tempat berdiri Nabi untuk menyampaikan khutbah. Mimbar itu kemudian diganti dengan podium dari kayu cedar bertangga tiga menyerupai podium gereja-gereja di Suriah.

Selama shalat, orang muslim merapatkan diri dalam barisan sejajar dan menghadap ke Yerussalim namun dialihkan ke Makkah dari puncak atap masjid, dengan suaranya yang keras dan lantang, Bilal dari Abbisinia mengumandangkan seruan shalat. Dalam segala kesederhanaannya bahwa hampir semua cikal bakal masjid terdiri dari mimbar dan atap. Bahan bangunan yang digunakan, batu, batu bata, atau tanah liat, ditentukan dengan ketersediaan bahan baku di masa awal pembangunan masjid di masa Nabi.

Baca Juga :  Abdul Aziz bin Musa; Tokoh Muslim Penyempurna Pembebasan Portugal

Masjid pertama yang didirikan di daerah taklukan adalah masjid di Bashrah yang di bangun oleh Ughbah Ibnu Ghazwan  yang menjadikan kota tersebut sebagai markas untuk pasukan musim dingin. Tempat shalat pada waktu itu hanyalah sebuah lokasi terbuka yang dikelilingi pagar rerumputan. Di sana kemudian dibangun sebuah bangunan dari tanah liat dan batu bara yang dikeringkan dari sinar matahari.

Abu Musa al-Asyari sebagai Gubernur pada waktu itu menutup atapnya dengan anyaman rumput. Perkembangan masjid pada zaman Rasululullah mulai berkembang yang dimulai dari adanya mihrab pertama di masjid Madinah yang menjadikan struktur tersebut pada Masjid-masjid pada umumnya. Seperti halnya mihrab, menara juga baru diperkenalkan pada dinasti Umayyah.

Di antara masa pembangunan masjid tempat ibadah pertama yang sangat sederhana di Madinah, mengalami perubahan menjadi tempat beribadah telah sempurna. Masjid Jami’ lebih dari sekedar tempat ibadah akan tetapi juga berperan sebagai tempat pendidikan, musyawarah dan lain sebagainya. Kebutuhan untuk tempat beribadah telah terpenuhi dengan tersedianya tempat yang beratap, dan berandanya yang juga beratap, menara, mihrab, mimbar, dan wadah air untuk bersuci, hal tersebut dijelaskan oleh Philip Khuri Khitti dalam History of The Arabs.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here