Arafah dan Haji Akbar

2
320

BincangSyariah.Com – Beberapa tahun lalu, Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia menetapkan bahwa Idul Adha 1435 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu, yang artinya pelaksanaan wukuf di Arafah jatuh pada hari Jumat.

Bersamaan dengan itu, beredar hadis yang menyebutkan bahwa jika wukuf jatuh pada hari Jumat maka peristiwa tersebut merupakan haji akbar dan pahalanya sama dengan tujuh puluh kali haji. Menanggapi hal itu, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA., menyatakan bahwa hadis tersebut maudhu’ atau palsu.

Berangkat dari pernyataan itu, penulis mencoba menelusuri redaksi hadis dimaksud dalam kitab-kitab hadis dengan kata kunci ‘haji akbar’. Alhasil, memang terdapat beberapa hadis yang memakai redaksi ‘haji akbar’, akan tetapi tidak satu pun yang menyebutkan adanya pelipatgandaan pahala haji sebanyak tujuh puluh kali karena berbarengnya hari Arafah dan Jumat, yang kemudian itu disebut ‘haji akbar’. Lantas, apa sebenarnya ‘haji akbar’ itu ?.

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mengatakan haji akbar adalah hari Arafah, sebagaimana perkataan Umar bin al-Khattab Ra. Sementara Imam Malik, Imam al-Syafi’i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa haji akbar adalah hari Nahr(Idul Adha).

Sebagian yang lain menjelaskan, dinamakan hari haji akbar, untuk membedakannya dari haji Asghar, yaitu umrah. Dari perbedaan itu, terdapat korelasi bahwa haji akbar adalah istilah lain untuk penyebutan ibadah haji, dimana beberapa prosesi ibadah tersebut harus dilaksanakan pada hari Arafah dan Idul Adha. Berbeda dengan ibadah umrah, yang diistilahkan dengan haji asghar, tidak ada keharusan pelaksanaannya pada hari Arafah dan Iduladha.

Dengan demikian, haji yang dilakukan umat Islam setiap tahunnya dapat disebut sebagai haji akbar, baik wukufnya bertepatan hari Jumat ataupun tidak. Adapun keutamaan wukuf di Arafah yang bertepatan hari Jumat hal itu dikarenakan hari tersebut memang hari utama dalam Islam.

Baca Juga :  Puasa Arafah Harus Sesuai dengan Hari Wukuf di Arafah?

Sedangkan hadis yang menyebutkan bahwa pelipatgandaan pahala seperti haji tujuh puluh kali lantaran berbarengnya wukuf dan hari Jumat adalah hadis palsu. Jika merujuk pada ayat al-Quran, terdapat sebuah ayat yang menyebut istilah haji akbar:

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin.” (QS. Al-Taubah: 3)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa haji akbar adalah haji terakhir Rasulullah Saw atau haji wada’ pada tahun ke-10 hijriyah. Saat itu hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat, tetapi turunnya ayat tersebut secara substansi adalah tidak diperkenankannya lagi kaum musyrikin untuk berhaji dan melakukan thawaf sambil telanjang setelah tahun itu. Wallahu a’lam.

Artikel ini pernah dipublikasikan di Majalah Nabawi

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.