“Ar-Rafd al-Maymun”: Kitab dari Madura tentang Hukum Main Piano

0
110

BincangSyariah.Com – Madura menjadi salah satu pusat peradaban Islam di Nusantara. Pulau ini memiliki banyak jejak-jejak akulturasi budaya dan ekspresi nilai-nilai keislaman dalam praktik kebudayaan masyarakatnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pesantren, kitab kuning dan keterikatan masyarakat terhadap tokoh agama, khususnya agama Islam. Madura juga melahirkan tokoh-tokoh keislaman yang hebat. Di antara yang masih hidup dan cukup produktif menulis kitab kuning adalah KH. Thaifur Ali Wafa.

Kiai Thaifur merupakan ulama yang sangat produktif menulis buku-buku agama berbahasa Arab. Tidak kurang dari 43 judul kitab telah dipublikasikannya. Yang terbesar adalah kitab tafsir berjudul Firdaus Al-Na’im yang terdiri atas enam jilid. Banyak karyanya merupakan bentuk respons terhadap fenomena di masyarakat, khususnya melalui kaca mata ilmu fikih. Di antara karyanya dalam kategori ini adalah kitab berjudul Ar-Rafdu Al-Maimun Fi Hukm Al-Raqsh Wa Dharb Al-Urghanun (Hukum Berjoget dan Memainkan Alat Musik Organ).

Seperti dapat dilihat pada judul, kitab ini membahas tentang hukum berjoget dan memainkan alat musik modern yang disebut organ. Keduanya merupakan fenomena yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Muslim awam. Setiap mengadakan pesta atau hiburan yang bersifat publik, organ merupakan salah satu alat musik andalan. Alunan musik yang indah seringkali membuat pendengar terdorong berjoget secara otomatis. Terkadang, perform alat musik organ disertai dengan kehadiran seorang biduan, serta dilakukan secara terbuka dan melibatkan massa yang banyak di suatu tempat umum.

Selain hiburan publik, alat musik ini terkadang digunakan mengiringi pembacaan shalawat yang digubah dalam bentuk syair-syair yang beraroma keagamaan. Tentunya konteks yang terakhir memiliki karakter yang berbeda dengan alat musik organ yang digunakan dalam kegiatan entertainment publik biasa. Alat musik organ seakan menambah semangat keberagamaan. Orang menjadi akrab dan menyukai kegiatan pembacaan shalawat Nabi.

Terkadang, indahnya lantunan shalawat yang diiringi alat musik organ membuat sebagian orang berjoget secara tidak sadar. Tentu berbeda dengan pagelaran musik biasa, shalawat sering dihadiri para tokoh agama. Hal ini membuat sebuah perhelatan shalawat seringkali harus memperhatikan etika serta aturan agama sehingga tidak berlebihan.

Baca Juga :  Meneladani Keteguhan Nabi Muhammad Saw.

Dua fungsi berbeda inilah yang kemudian membuat sebagian orang bertanya-tanya mengenai status alat musik organ. Apakah umat Islam boleh memainkannya dan seperti apa batasannya. Hal ini kemudian ditanyakan kepada KH. Thaifur Ali Wafa, Pengasuh Pondok Pesantren As-Sadad, Madura, Jawa Timur. Kiai Thaifur menyebut latar belakang penyusunan kitabnya dengan kalimat sebagai berikut:

أما بعد فقد سألني بعض الأعزة علي من الاخوان أصلح الله لي وله الحال والشأن أن أكتب رسالة أبين فيها حكم الرقص وضرب الأرغنون الذي شاع استعماله في هذا الزمان

Amma ba’du. Sebagian sahabatku yang mulia, semoga Allah senantiasa memperbaiki kondisiku dan kondisinya, memintaku agar menulis sebuah risalah yang menjelaskan hukum berjoget dan memainkan alat musik organ yang pada masa sekarang banyak digunakan (Al-Rafd Al-Maimun, hlm. 1).

Kiai Thaifur merupakan Mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah. Karenanya, tidak heran bila beliau banyak merujuk karya-karya ulama ahli fikih serta tasawuf terdahulu. Termasuk ketika menjawab pertanyaan tentang hukum memainkan alat musik modern organ. Beliau sangat dipengaruhi pandangan Imam Al-Ghazali tentang musik sebagaimana tertera dalam magnum opusnya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (w. 505 H) merupakan tokoh yang telah membahas persoalan alat musik dengan sangat komprehensif. Dapat dikatakan, beliau merupakan tokoh yang pertama mengulasnya dengan sangat lengkap. Paparannya dapat ditemukan dalam ulasannya soal kitab Al-Sima’ (Spiritualitas Pendengaran) yang merupakan salah satu ulasan dalam magnum opus-nya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Intinya, persoalan alat musik merupakan persoalan yang tidak dapat dilepaskan dari perbedaan pendapat di kalangan ahli hukum. Hal ini terjadi karena memang tidak ada petunjuk Al-Quran dan Sunnah yang bersifat tegas dan pasti yang menyatakan larangan. Para ahli hukum Islam kemudian berupaya mencari kejelasan hukum alat musik melalui metode ijtihad yang beraneka macam. Hasilnya, mereka berbeda pendapat satu sama lain.

Baca Juga :  Bahjat al-Wudluh fi Hadits Opat Puluh: Kitab 40 Hadis Karya K.H.R. Ma'mun Nawawi

Namun demikian, Al-Ghazali menyimpulkan bahwa hukum asal alat musik adalah boleh digunakan. Kecuali jika terdapat unsur-unsur negatif yang menyertainya. Unsur-unsur negatif yang dimaksud adalah kemaksiatan yang menyertai pergelaran alat musik seperti adanya konsumsi alkohol, percampuran lelaki-perempuan, dan terbuka bebasnya aurat. Unsur lain yang dianggap negatif adalah ketika alat musik menjadi simbol kelompok ahli maksiat dan pelaku kejahatan, seperti alat musik yang identik dengan para bencong –lelaki yang berperilaku laiknya perempuan. Demikian adalah pandangan umum tentang musik menurut pandangan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H.).

Berdasarkan premis-premis Al-Ghazali di atas, Kiai Thaifur berupaya menjawab hukum memainkan alat musik organ(on). Kesimpulannya, hukum asal memainkannya adalah mubah. Kiai Thaifur menulis,

اعلم أيضا أن حاصل القول في ألات الملاهي بجميع أنواعها أن القياس فيها الحل لولا ورود الأخبار وكونها صارت شعار أهل الشرب أو المخنثين ولذلك حرم منها المزامير وذات الأوتار وطبل الكوبة فقط وأما ما عداها فيبقى على أصل الإباحة هذا ما قاله الغزالي في الإحياء كما سيأتي النقل عنه. و معلوم أن الأرغنون ليست من جنس تلك الألات فهي داخلة فيما عداها على أن تلك الالات الثلاث مختلف فيها إذ من العلماء من يبيحها لعدم صحة الأخبار الواردة فيها

Ketahuilah, juga, bahwa kesimpulan pembahasan mengenai alat musik dengan segenap macamnya adalah bahwa prinsipnya adalah halal jika tidak ada teks (yang melarang) dan tidak menjadi simbol yang identik dengan para pemabuk dan mukhannits. Karena itu, alat musik yang diharamkan adalah seruling, alat yang memiliki dawai, dan kendang kubah saja. Selain ketiganya tetap halal. Inilah adalah penjelasan Al-Ghazali dalam Ihya-nya sebagaimana akan dinukil nanti. Maklum bahwa organon bukan jenis alat-alat musik di atas. Ia masuk dalam kategori “selain tiga alat” yang hukumnya masih diperselisihkan ulama. Memang ada sebagian ulama yang membolehkannya karena tidak adanya khabar shahih yang menunjukkan keharamannya. (Al-Rafd, hlm. 3).

Baca Juga :  Peran Musik dalam Penyebaran Radikalisme

Setelah membahas panjang lebar tentang argumen-argumen kebolehan alat musik organon, Kiai Thaifur kemudian mengingatkan pembaca kitabnya bahwa sekalipun hukum asalnya halal, hukum ini akan berubah jika terdapat unsur-unsur eksternal yang dinilai negatif dalam pandangan syariat Islam, seperti jika disertai ikhtilath antar orang-orang yang tak ada hubungan mahram, mengumbar aurat, pemubaziran harta, serta ditinggalkanya berbagai macam kewajiban seperti shalat fardu dan lainnya.

Secara khusus, Kiai Thaifur mengingatkan para ahli ilmu dan para dai yang menjadi panutan umat Islam awam, hendaknya mereka tidak menyampaikan pernyataan yang dapat membuat orang awam salah paham dan justru menjerumuskan mereka lepas dari tuntunan syarak.

halaman depan kitab ar-rafd al-maymun

Kitab Al-Rafd Al-Maimun selesai ditulis pada 9 Februari 2009/13 Shafar 1430 H. Ia menjadi salah potret sikap ulama Nusantara terhadap seni-budaya yang berkembang di masyarakat, khususnya musik. Pandangan dalam kitab ini mewakili salah satu tradisi pemikiran fikih Syafi’iyyah, dalam metode pengambilan hukum maupun kesimpulan hukumnya.

Dalam metode pengambilan hukum, penulisnya tidak langsung merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah, yang merupakan rujukan primer dalam hukum Islam. Tetapi ia lebih banyak merujuk pendapat ulama terdahulu, memahami prinsip-prinsip persoalan beserta kaidah hukum terkait, kemudian menerapkan kaidah tersebut untuk menentukan hukum persoalan baru. Dalam studi hukum Islam, metode ini disebut ilhaq al-masa’il bi nazha’iriha (menganalogikan persoalan baru dengan persoalan-persoalan lama yang sudah diketahui status hukumnya).

Dalam kesimpulan hukumnya, juga mengikuti rumusan ulama terdahulu. Misalnya dengan cara memilah antara hukum asal dan hukum kontekstual. Hukum asal dalam kasus ini dikatakan mubah, namun hukum kontekstualnya bisa berubah menjadi haram jika unsur-unsur yang menjadi prasyarat pengharamannya terpenuhi. Metode berfikir semacam ini sebenarnya sangat kompleks. Sebuah metode berfikir yang mulai ditinggalkan generasi muda Muslim pecinta infografis dan quote motivasi Islami. Wallahualam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here