Menyalakan Api Revolusi dari Peristiwa Karbala

0
706

BincangSyariah.Com – Tidak seperti bulan agustus yang lalu, bulan ini, media sosial kita tidak lagi dibanjiri oleh foto-foto pernikahan kawan, saudara dan kerabat kita. Dalam tradisi masyarakat Jawa, lazimnya pernikahan dilakukan di bulan-bulan yang dianggap baik untuk melakukan pernikahan. Termasuk di bulan Agustus lalu yang merupakan bulan dzulhijah dalam kalender Hijriah.

Sedangkan di bulan September ini, pada penanggalan tahun Hijriah telah memasuki bulan Muharam. Masyarkat Jawa menyebutnya dengan sasi Syuro. Bulan dimana masyarakat Jawa jarang sekali melangsungkan pernikahan di dalamnya. Sebuah bulan yang dianggap keramat dan dihormati dalam tradisi masyarakat Jawa. Kebiasaan memberi santunan anak yatim, tidak melaksanakan pernikahan, melakukan puasa, membuat bubur dan membaca doa bersama-sama di masjid pada malam tanggal 1 dan 10 Muharam.

Ada banyak kisah di balik semua tradisi ini. Nampaknya perlu kiranya kita menyelami sebuah pelajaran penting terkait peristiwa pada hari Asyura. Dari mulai penghormatan kepada dzuriyah yang terbunuh di Karbala dengan tidak melangsukan pesta pernikahan, hingga peristiwa-peristiwa besar yang dialami para Nabi.

Berbicara peristiwa Asyura, tidak bisa dilepaskan dari peristiwa historis di padang Karbala. Sekitar 14 abad lalu, seorang cucu Nabi, sayyidina Hussain, dibunuh oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah. Dalam kitab Maqtal Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib karya Al-Thabarani diceritakan bahwa Nabi Muhammad jauh-jauh hari diberitahu oleh Jibril bahwa kelak cucunya akan dibunuh di tanah Thaf (Karbala).

Kisah terbunuhnya sayyidina Husein tentu peristiwa yang menyedihkan bagi kita semua. Bukan hanya di kalangan syiah ataupun sunni, melainkan seluruh umat Islam. Akan tetapi, sejarah hanya akan menjadi fosil jika tidak kita pungut menjadi spirit bagi kehidupan umat Islam sekarang.

Dalam buku Islam dan Teologi Pembebasan, Asghar Ali Engineer memaknai peristiwa ini secara revolusioner. Memahami peristiwa Karbala, bagi Asghar Ali Engineer, semestinya tidak dipandang sebagai peristiwa perebutan kekuasaan. Melainkan peristiwa pertarungan antara kebenaran dan kejahatan. Dengan demikian, ia menyamakan peristiwa Karbala dengan peristiwa saat awal kelahiran Islam, sebuah gerakan pembebasan dan perlawanan terhadap penindasan masyarakat jahiliyah.

Islam lahir sebagai agama yang memihak pada mereka yang tertindas. Umat Islam awal banyak diisi oleh kelompok yang lemah dan tertindas. Perlawanan ini kemudian ditangkap oleh kelompok kafir Quraisy sebagai sinyal yang membahayakan bagi kekuasaan mereka yang telah mapan. Mereka yang menentang Nabi ialah para pengusaha-pengusaha kaya Mekkah. Bahkan pembangkangan kelompok Yahudi di Madinah bukan karena motif teologis, melainkan kepentingan ekonomi-politik.

Saat kepemimpinan Islam berada di bawah Ali bin Abi Thalib, intrik dan konflik politik di antara Ali dan Muawiyah mulai terlihat sejak terbunuhnya Usman. Muawiyah yang menjabat gubernur Syiria mendesak Ali untuk mengusut dalang pembunuhan Usman. Konflik di antara keduanya menjadi tak terelakan sehingga menjadikan Muawiyah suatu hari pemimpin umat Islam setelah Ali.

Menurut Ali Asghar Engineer, singkat cerita, berkuasanya Muawiyah di Syiria merupakan awal bagi kemunduran Islam. Gaya kepemimpinan Muawiyah yang bermewah-mewah sejak menjadi gubernur di Syiria dianggap bertentangan prinsip kesederhanaan dalam Islam. Selain itu, model kepemimpinan Muawiyah banyak mengadopsi cara-cara kepemimpinan kekaisaran romawi. Disinilah benih-benih tragedi Karbala mulai disemai.

Perilaku yang jauh dari kesederhanaan ini juga berlanjut pada sikap anaknya, Yazid bin Muawiyah. Hal inilah yang kemudian membuat sayyidina Husein enggan untuk tunduk dan berbaiat kepadanya. Perilaku yang kontra revolusioner dari sosok Yazid sama sekali tidak mencerminkan perilaku pemimpin Islam yang mengusung semangat revolusioner.

Pemahaman bahwa perlawanan Husein adalah gerakan politis untuk merebut kekuasaan tidaklah tepat. Penolakan terhadap kepemimpinan Yazid lebih kepada pencegahan agar Islam tidak kembali mundur ke zaman Jahiliyah dengan perilaku yang ditampilkan Yazid. Maka, langkah yang non-kompromistis ditempuh oleh Husein. Kritik Husein lainnya kepada Yazid ialah distribusi bait al-mal yang tidak lagi digunakan bagi kepentingan masyarakat melainkan untuk raja atau penguasa.

Gerakan Husein ialah kritik sosial pada kekuasaan Yazid saat itu. Kesenjangan sosial, sikap amoral penguasa, dan kegagalan lembaga negara merupakan basis pijakan kritiknya. Sehingga bagi Husein, menolak dan melawan Yazid sama halnya menjaga api revolusioner Islam dari kegelapan perilaku jahiliyah. Penolakan Husein untuk tunduk pada Yazid membuat Yazid khawatir tentang pengakuannya di kalangan umat Islam.

Saat diundang menuju Kufah, Husein beserta 72 orang pengikutnya mulai ragu. Pengkhianatan warga Kufah kepada keluarga Husein, membuat ia dan pengikutnya hendak mengamankan diri ke Mekkah. Akan tetapi, sikap Husein untuk tetap pergi ke Kufah menjadi pilihan. Baginya, lebuh baik mati daripada Islam mundur ke zaman jahiliyah kembali. Hingga akhirnya pilihan itulah yang mengakhiri hidup sayyidina Husein.

Ali Asghar Engineer dengan demikian mengambil spirit revolusi dalam Islam ini dengan mendudukan kubu Husein sebagai kubu keadilan yang sedang melawan kelompok Yazid yang zalim. Terlepas dari latar belakang Asghar Ali Engineer, ada hal menarik dari caranya memaknai sebuah peristiwa historis dalam sejarah Islam. Argumentasi tentang peristiwa Karbala adalah penafsiran yang mengambil spirit revolusioner dalam Islam.

Baginya setiap kepingan peristiwa sejarah Islam sudah semestinya selalu dilihat aspek liberasi Islam. Termasuk peristiwa Karbala tidak semestinya difahami sebagai pertempuran politik melainkan pertempuran kelas penguasa dan mereka yang tertindas. Para kelompok tertindas tidak kemudian menyerah dan pasrah atas apa yang telah terjadi melainkan pergi dan melawan musuh umat Islam (kezaliman). Sudah semestinya umat Islam berani unjuk kekuatan di depan kekuatan superior yang zalim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here