Apakah Menghormati Anak Keturunan Kiai Termasuk Menghormati Kiai?

1
1868

BincangSyariah.Com – Syaikh Burhanuddin dalam kitab Ta’lim Muta’allim berkata bahwa termasuk arti menghormati guru atau kiai, yaitu menghormati putera dan semua orang yang bersangkut paut dengannya.

Dalam kitabnya itu, Syaikh Burhanuiddin pernah bercerita bahwa ada seorang imam besar di Bukhara, pada suatu ketika sedang asyiknya di tengah majlis belajar ia sering berdiri lalu duduk kembali. Setelah ditanyai kenapa demikian, lalu jawabnya :

فقال: إن ابن أستاذى يلعب مع الصبيان فى السكة، ويجيئ أحيانا إلى باب المسجد، فإذا رأيته أقوم له تعظيما لأستاذى.

“Ada seorang putra guruku yang sedang main-main di halaman rumah dengan teman-temannya, bila saya melihatnya sayapun berdiri demi menghormati guruku.”

Lain lagi cerita Qadhi Imam Fakhruddin Al-Arsyabandiy yang menjabat sebagai kepala para imam di Marwa, orang yang sangat dihormati para sultan itu berkata :

يقول: إنما وجدت بهذا المنصب بخدمة الأستاذ فإنى كنت أخدم الأستاذ القاضى الإمام أبا زيد الدبوسى وكنت أخدمه وأطبخ طعامه [ثلاثين سنة] ولا آكل منه شيئا.

“Saya bisa menduduki derajat ini, hanyalah berkah saya menghormati guruku. Saya menjadi tukang masak makanan beliau, yaitu beliau Abi Yazid Ad-Dabbusiy, sedang kami tidak turut memakannya.”

Sudah banyak cerita bagaimana seorang santri menjadi orang bermanfaat di tengah masyarakat sebab keberkahan dari menghormati para guru dan kiainya. Termasuk dalam menghormati kiai juga menghormati keturunannya.

Karenanya banyak kita temui dan lihat banyak di antara santri yang senang menjadi abdi ndalem para kiai dan bu nyainya di pesantren, bahkan ada yang dengan senang hati momong anak keturunannya. Ini semua dilakukan dengan tujuan berkhidmat agar diberikan keberkahan ilmu serta dilancarkan dalam menuntut ilmu dan sebagainya.

Baca Juga :  Perilaku Ghasab Sandal di Kalangan Pesantren

Tulisan ini adalah bagian dari serial menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here