Apakah Benar Ada Makam Saad bin Abi Waqqash di Guangzhou, China ?

0
266

BincangSyariah.Com – Sejak dulu peradaban China memang sudah berkembang pesat, apalagi di bidang perdagangan. Untuk melanjutkan tren postif bisnisnya, China telah membuka kerjasama dengan negeri – negeri lain misalnya dengan Persia dan Arab sejak abad 5 M. Salah satu pelabuhan utama China pada saat itu tidak lain adalah Kanton atau yang lumrah dikenal dengan nama Guangzhou. Dari kota inilah pedagang Arab maupun delegasi muslim mampir untuk mengenalkan agama Islam.

Adalah Saad bin Abi Waqqash salah satu delegasi yang diutus Ustman bin Affan untuk bertemu Kaisar Yong Hui pada tahun 651 M. Kisah pertemuan antara keduanya dicatat secara resmi dalam catatan sejarah kuno China. Di tahun tersebut China tengah berada di bawah pemerintahan Dinasti Tang. Nah, konon Saad bin Abi Waqqash yang tidak lain adalah paman Rasulullah Saw tidak hanya satu kali mengunjungi China. Sehingga muncul teori bahwa di akhir hayatnya, Sa’ad menghabiskan waktu di China dan kemudian dimakamkan di Guangzhou.

Dari penuturan Chai Jincheng dan Jiang Yong Xin dalam Guangzhou Tanah Suci Islam Timur Jauh, diketahui komplek pemakaman yang diduga sebagai makam Sa’ad bin Abu Waqqash terletak di bukit Guiha. Lokasinya tidak terlalu jauh dari masjid kuno Huaisheng. Konon, masjid ini telah berumur lebih dari 13000 tahun. Dibangun atas kerjasama kaisar Dinasti Tang dengan para pedagang Arab. Namun ada riwayat lain yang menyebut bahwa masjid ini dibangun oleh Sa’ad bin Abu Waqqash.

Teori soal makam Abu Waqqash di China dianut oleh sejumlah sejarawan China, satu diantaranya Lan Zi Xi. Dikutip oleh Chai Jincheng dan Jiang Yong Xing dari Catatan Tuan Abu Waqqash karya Lan Zi Xi, Abu Waqqash tiba di ibu kota Chang’an untuk mengantarkan Al-Qur’an ke China. Taizhong yakni kaisar kedua Dinasti Tang kagum melihat ketulusan serta kepandaian Abu Waqqash dalam seni berkhutbah. Oleh karena itu, Taizhong kerap meminta Abu Waqqash untuk tetap tinggal di Chang’an. Sang kaisar pun meminta agar dibangunkan masjid di Chang’an untuk digunakan sebagai tempat menerima delegasi dan warga muslim.

Dalam lawatannya ke China ini selain bertemu kaisar, Abu Waqqash juga menyebarakan ajaran Islam dengan mengajarkan isi kandungan kitab suci Al-Qur’an di tengah – tengah masyarakat. Seiring dengan berjalannya waktu, pertumbuhan masyarakat muslim kian meningkat sementara usia Abu Waqqash sudah tidak muda lagi. Kaisar Taizhong kemudian meminta untuk dibangun lagi masjid di Nanjing dan Guangzhou. Saat perjalanan dinasnya dari Qingshi menuju Guangzhou, Abu Waqqash wafat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di luar Guangzhou.

Sementara itu dalam buku Menghidupkan Kembali Jalur Sutera dipaparkan bahwa latar belakang pengiriman Saad bin Abi Waqqash adalah untuk mengingatkan pihak China agar tidak ikut campur dalam urusan Islam dan Persia. Peristiwa ini berawal saat Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil menguasai ibu kota Persia, Cresiphon. Panglima Persia Khosru Yezdegird III berusaha merebut kembali wilayahnya dengan meminta bantuan kaisar China Yong Hui. Pasukan gabungan ini kemudian menggempur area Khurasan dan kembali menderita kekalahan.

Saat mendapat kunjungan dari delegasi Muslim, Kaisar China tidak menerima agama Islam, sebab menurutnya rutinitas ibadah seperti sholat lima waktu atau berpuasa dianggap terlalu padat dan memberatkan. Meskipun begitu, ia tetap membolehkan Sa’ad dan umat Islam lainnya untuk mengajarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat Tiongkok. Kebutuhan akan pembangunan rumah ibadah pun tidak dapat dielakan. Sehingga Sa’ad bin Waqqash mendirikan masjid seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.

Kendati para pakar sejarah China berpendapat bahwa makam yang menjadi destinasi utama turis domestik maupun mancanegara di Guangzhou ini adalah makam Sahabat Sa’ad bin Abu Waqqash, namun sejarawan lainnya tidak sependapat. Mereka lebih meyakini pemakaman Baqi’, Madinah sebagai tempat peristirahatan terakhir Sahabat yang masuk dalam jajaran 10 Sahabat yang telah dijamin masuk surga itu. Teori ini antara lain diusung oleh Abu Al-Qasim Al-Asfahani, Ibnu Al-Jauzi, Adz-Dzahabi, Ibn Al-‘Iraqi, Ibn Katsir dan lain sebagainya.

Abu Al-Qasim Asfahani mengatakan bahwa jenazah Saad bin Abi Waqqash dishalati di Masjid Nabawi, Madinah. Sa’ad dikafani dengan jubah yang ia pakai saat berperang melawan kaum musyrikin di perang Badar. Lalu Ibn Al-Jauzi dan Ibn Atsir mengutarakan bahwa jenazahnya disahlati di Madinah oleh Marwan bin Hakam (Gubernur Madinah) dan para istri Rasulullah Saw. Sementara Ibnu Sa’ad mengungkap bahwa Sa’ad meninggal di istananya di ‘Aqiq kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah. Adapun Madinah dan ‘Aqiq berjarak 10 mil.

Perdebatan soal apakah makam tersebut benar – benar makam Saad bin Abu Waqqash terus didalami para ahli. Namun terlepas dari perdebatan tersebut, yang jelas peran besar Sa’ad bin Abu Waqqash dalam menyiarkan Islam di bumi Tirai Bambu tidak dapat diragukan lagi. Baik dari catatan sejarah China maupun catatan sejarah Arab, keduanya sepakat soal hal ini.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here