Apa Saja Keistimewaan Islam di Indonesia?

0
27

BincangSyariah.Com – Agama Islam tersebar di seluruh dunia. Ada keistimewaan Islam yang berbeda antar satu negara dengan negara lainnya yang tak dimiliki oleh Islam di negara lain. Bagaimana keistimewaan tersebut dan apa saja sebenarnya keistimewaan Islam di Indonesia?

Alasan Islam Diterima di Indonesia

Akulturasi yang paling dominan terjadi terkait kedatangan Islam di Indonesia adalah antara Islam dengan budaya atau tradisi Jawa. Keduanya sama-sama kuat. Islam sebagai agama dan kebudayaan atau tradisi Jawa sebagai laku hidup masyarakatnya.

Di masa silam, sejak berdiri dan kejayaan kerajaan Demak, Pajang, hingga Mataram, kebudayaan Jawa yang ada tetap dipertahankan, termasuk yang mengandung tradisi Hindu-Buddha dan Animisme-Dinamisme sebagai produk budaya pra Hindu- Buddha.

Tradisi yang dipertahankan inilah yang kemudian diperkaya dan disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Dahulu, istana kerajaan Pajang dan Mataram yang bernuansa Islam, tapi adat istiadat masih dipertahankan. Gambaran Islam lokal ini terjadi pada masa kerajaan Islam tapi pengaruhnya masih terpatri secara jelas hingga sekarang ini.

Kesitimewaan Islam di Indonesia terletak pada perjumpaan Islam dengan tradisi lokal di Indonesia adalah penyebab utama proses saling menyesuaikan. Islam secara damai memengaruhi akulturasi budaya antara budaya lokal dengan Islam. Keduanya saling mengisi dan mewujudkan budaya baru baik fisik dan non fisik yang perlahan menjadi ciri khas budaya masyarakat Islam Indonesia.

Karena itulah, Islam yang dipahami dan dijalankan oleh orang Jawa secara akan berbeda dengan Islam yang dipahami dan dihayati oleh orang-orang Sunda. Dalam skala yang lebih luas lagi, Islam yang dihayati orang-orang Timur Tengah juga berbeda dengan Islam yang dihayati bangsa Indonesia.

Budaya atau tradisi tidak pernah statis atau berhenti. Tradisi senantiasa berkembang terutama melalui peralihan generasi mendatang yang akan menjadi bagian darinya. Tradisi mentransmisikan nilai, norma, budaya dan jalan hidup. Islam datang dan menyesuaikan.

Bagaimana sebenarnya proses atau sikap Islam dalam menghadapi budaya atau tradisi lokal di Jawa? Ada tiga cara yang dilakukan Islam sehingga mudah diterima masyarakat di Nusantara yang tercantum dalam buku Islam Dinamis Islam Harmonis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme (2011) karya Machasin sebagai berikut:

Islam menerima dan mengembangkan budaya yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Budaya yang dipilih adalah budaya yang berguna bagi pemuliaan kehidupan umat manusia. Cara atau sikap ini diambil Islam didasari oleh pertimbangan bahwa budaya lokal bermanfaat daan mendukung perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Pemilihan yang sebelumnya dilakukan didukung pula oleh sikap Islam yang menolak tradisi dan unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Sikap kedua ini dikarenakan banyak budaya lokal yang dipandang membahayakan masyarakat lantaran bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Terakhir, Islam membiarkan saja beberapa hal seperti cara berpakaian dan beberapa hal yang berkaitan dengan simbol, bukan subtansial. Sikap ketiga ini diambil karena budaya yang dihadapi Islam tidak membahayakan, tapi juga tidak memberikan manfaat yang berarti untuk masyarakat.

Tak heran, karena tiga cara atau sikap inilah, jika dahulu Islam Indonesia dianggap sebagai Islam pinggiran, kini banyak pemikir Islam di Indonesia yang memiliki reputasi internasional dan mengharapkan Indonesia tampil sebagai pemikir dunia Islam, seperti Fazlur Rahman dan Malik Bennabi.

Harapan ini tak main-main sebab Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia juga mengalami perkembangan demokrasi paling maju di antara negara-negara Muslim. Paling penting, Indonesia juga memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan memiliki tanah yang subur.

Posisi geografis Indonesia yang jauh dari pusat konflik yaitu Palestina mempunyai nilai ganda. Satu sisi, Islam Indonesia seringkali dinafikan lantaran interaksi yang tidak bisa intern dengan Muslim Timur Tengah, tapi di sisi lain, posisinya yang jauh dari pusat konflik di Timur Tengah membuat Indonesia menjadi negara dengan penduduk mayoritas Islam yang paling stabil di dunia.

Keistimewaan Umat Islam Indonesia

Selalu ada keistimewaan Islam dalam setiap negara yang memiliki penduduk Muslim. Islam adalah agama yang dominan di beberapa negara, termasuk Afghanistan, Pakistan, Sahara Barat, Iran dan banyak lagi. Negara-negara dengan jumlah Muslim yang tinggi cenderung berada di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Negara Muslim terbesar di dunia adalah Indonesia.

Salah satu keistimewaan Islam di Indonesia adalah ada 229 juta Muslim di Indonesia yang merupakan 87,2% dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 263 juta jiwa. Jumlah tersebut adalah sekitar 13% dari populasi Muslim dunia. Muslim di Indonesia terdiri dari 99% Sunni, 0,5% Syiah, dan 0,3% Ahmadiyah.

Islam di Indonesia bisa dikategorikan secara luas sebagai “modernisme” atau Islam modern yang berarti mengikuti teologi ortodoks sembari merangkul pembelajaran modern. Islam di Indonesia bisa juga disebut sebagai “tradisionalisme” yakni mengikuti interpretasi para pemimpin agama setempat.

Hilary Clinton pernah menyatakan bahwa jika ingin melihat Islam berdampingan dengan demokrasi, maka lihatlah Indonesia. Islam di Indonesia berperan memperjuangkan hak asasi manusia dan pemberdayaan perempuan.

Dalam diskusi daring bertajuk Istimewanya Menjadi Muslim Indonesia yang dilaksanakan Mubadalah.id, KUPI dan Aman Indonesia, K.H. Husein Muhammad menyatakan bahwa Indonesia mempunyai sumber pengetahuan agama yang kaya raya, banyak sekali, dan berwarna-warni.

Ia menyebutkan, salah satunya adalah pandangan Imam Al-Ghazali sebagai berikut: “Orang yang pintar, orang yang cerdas, melihat sesuatu dari sisi substansi, esensi, dan tidak berkutat pada bentuk kulit.”

“Itulah yang selalu dinawa dalam tradisi pesantren. Sangat substansial melihat sesuatu.” Ujar Kiai yang pada tahun 2001 mendirikan beberapa lembaga swadaya masyarakat untuk isu-isu hak-hak perempuan yakni Rahima, Puan Amal Hayati, Fahmina Institute dan Alimat.

Imam Syafi’I menyatakan dalam persoalan pengaturan publik atau pengaturan negara sebagai berikut: “Pengaturan publik, sebuah bangsa, pemerintah, adalah apa yang sesuai yang sejalan yang tidak bertentangan, bukan yang tekstualitas.”

Ibnu Aqil dari Mahdzab Hambali juga menyatakan: “Pengaturan publik adalah kebijakan di mana masyarakat mendapatkan kemaslahatan kebaikan dan menjauhkan dari situasi yang memberatkan dan merugikan. Meskipun tidak ada ketentuan dari Nabi, meskipun tidak ada teks Al-Qur’annya.”

Mengutip Gus Dur, Kiai Husein menyatakan bahwa ada tiga gelombang Islam di Indonesia. Pertama, gelombang sufisme yang mengapresiasi semua kebudayaan. Kedua, para wali memasuki ruang-ruang kebudayaan. Ketiga, adanya fiqih plural atau pluralitas fiqih yang diajarkan di pesantren.

Tiga gelombang tersebut membentuk Indonesia menjadi negara yang sangat terbuka bagi banyak pemikiran keagamaan. Hal itu adalah salah satu keistimewaan Islam di Indonesia. Karena itulah ajaran Imam Syafi’i dinilai lebih moderat dan tepat untuk dipraktikkan di Indonesia sebab beliau adalah pemimpin dengan pandangan yang adil dan moderat.

Kiai Husein menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi Muslim di Indonesia saat ini adalah sudut pandang tunggal dan cara berpikir yang tekstualis. Sumber masalahhnya adalah kondisi psikologis masyarakat yang tertindas.

Ketidakmampuan menghadapi perubahan-perubahan zaman yang terus-menerus ada membuat banyak orang terjebak pada kebenaran final di mana ia merasa benar sendiri dan tidak menghargai orang lain.

Banyak orang dengan pengetahuan tentang agama dari satu sudut pandang, maka yang lain menjadi salah. “Padahal, mestinya kita membaca pendapat yang berbeda. Meminimalisir indoktrinasi. Menghargai perbedaan pendapat dalam agama.” Lanjutnya.

Masalah tersebut mestinya menjadi perhatian seluruh umat Islam di Indonesia sebab sebagai bangsa yang plural, yang istimewa, sikap intoleran justru akan merusak keistimewaan Muslim di Indonesia dengan pluralitas dan konsep Islam Wasathiyahnya.[]

Baca: Enam Organisasi Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here