Kisah Antusiasme Imam Sufyan Al-Tsauri Mendapatkan Hadis Nabi

0
1198

BincangSyariah.Com – Bagi para ulama ahli hadis, memperoleh sebuah riwayat hadis adalah sesuatu yang sangat berharga, sebagian besar dari hidup mereka didedikasikan dalam kegiatan seputar periwayatan hadis dan memprioritaskan waktu mereka untuk itu. Hal ini pernah tergambar dalam sebuah kisah tentang Sufyan al-Tsauri, seorang ahli hadis dan ahli fikih besar yang hidup pada abad kedua Hijriah. (Baca: Kisah Menteri Menyesal Tidak Jadi Ulama Hadis)

Al-hafizh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’ (2/183) menyebutkan: “Hal yang paling prioritas bagi seorang pelajar adalah perhatiannya untuk mendengar (ilmu) dan bersegera untuknya serta bermulazamah dengan guru.”

Sebagai contoh untuk pelajaran ini, al-Baghdadi kemudian meriwayatkan sebuah kisah tentang  Sufyan al-Tsauri. Suatu ketika saat al-Tsauri sedang berada di Bashrah, beliau melihat Hammad Ibn salamah. Al-Tsauri kemudian mendatangi Hammad dan meminta agar Hammad menyampaikan sebuah hadis dari jalur Abi al-‘Usyarah dari ayahnya kepadanya. Hammad pun menyampaikan hadis-hadis yang beliau peroleh dari jalur tersebut kepada al-Tsauri.

Baru setelah Hammad menyampaikan hadis kepadanya, al-Tsauri menyalami dan memeluk Hammad. Merespon sikap al-Tsauri demikian, Hammad pun bertanya apakah orang yang sedang meminta hadis padanya adalah Sufyan al-Tsauri dan mengapa al-Tsauri tidak menyalami dan memeluknya lebih dulu baru kemudian bertanya tentang hadis. Al-Tsauri pun memberikan jawaban yang menarik yaitu beliau takut kalau sampai Hammad meninggal dan beliau tidak sempat memperoleh hadis tersebut.

Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah ketika mengutip kisah ini dalam kitab Qimat al-Zaman ‘inda al-‘Ulama’ (hal.55) menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa tingginya dedikasi dan antusiasme seorang al-Tsauri terhadap hadis, sampai-sampai beliau lebih mendahulukan mendengar hadis daripada menyalami gurunya tersebut (dalam dunia periwayatan hadis, orang yang menyampaikan riwayat hadis disebut sebagai guru).

Baca Juga :  Kisah Wali Allah yang Kebal Tebasan Pedang karena Hal Ini

Al-tsauri takut pada kemungkinan andai ilmu atau hadis dari Hammad luput dari pendengarannya karena Hammad keburu meninggal. Hal yang demikian patut menjadi contoh bagi para penuntut ilmu bagaimana seharusnya mereka mempergunakan waktu mereka demi ilmu dan menenggelamkan diri ke dalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here