Nabi yang Selalu Tersenyum, dan Tidak Tertawa Terbahak-Bahak

0
1330

BincangSyariah.Com – Senyum adalah salah satu bahasa tubuh yang Tuhan berikan. Senyum merupakan sarana komunikasi nonverbal antar sesama manusia. Dengan tersenyum kita mampu mengubah dunia yang sunyi nan kelam menjadi ria dan suka cita. Dengan demikian tersenyum dianjurkan dalam ajaran Islam. Namun jika tertawa sampai mengeluarkan suara yang terbahak-bahak, atau mengandung unsur mengejek antarsesama maka tidak dibenarkan dalam ajaran, yakni terlarang.

Tersenyum telah diperankan oleh baginda Nabi Muhammad saw. selama hidupnya. Sebagaimana terkutip dalam sebuah hadis:

كان لا يضحك الا تبسما ولا يلتفت الا جميعا

“ Ada beliau Nabi saw. tidak tertawa melainkan tersenyum, tidak pula beliau menoleh kecuali dengan seluruh (tubuhnya) (H.R. Hakim).

Hadis tersebut mengindikasikan bahwa, dibolehkannya tersenyum, adapun jika sampai tertawa maka hukumnya terlarang.

Maka dari itu, sebaiknya bagi seorang Muslim yang berakal janganlah sekali-kali mengeluarkan suaranya untuk tertawa, karena barang siapa yang tertawa di dunia sebentar saja, maka kelak di akhirat akan banyak menangis.

Allah Swt. Berfirman:

فليضحكوا قليلا وليبكوا كثيرا جزأ بما كانوا يكسبون

Maka biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat” (Q.S. At-Taubah : 82).

Jikalau tertawa di dunia hanya sebentar saja lalu akan menangis banyak kelak di akhirat, lalu bagaimana orang yang di dunianya dipenuhi dengan canda tawa?

Dalam kitab Tanbih al-ghafilin karya syekh Abi Lais as-Samarkandi menjelaskan bahwa, tertawa dapat mengakibatkan tertutupnya mata hati, semakin sering tertawa, maka semakin sulit pula hati untuk menerima hidayah, sehingga orang yang sering tertawa selalu enggan menerima nasihat dari orang lain. Bukan hanya itu, jika yang tertawa termasuk orang yang berilmu dan mempunyai wibawa, maka secara tidak langsung mereka sedang mengurangi ilmu dan wibawa yang mereka miliki.

Baca Juga :  Relasi Agama dan Negara di Masyarakat Barat dan Masyarakat Muslim

Imam Hasan al-Basri mengatakan: “Betapa anehnya orang yang masih bisa tertawa, padahal di belakang mereka ada api neraka yang disiapkan untuknya, dan betapa anehnya orang-orang yang merasa bahagia, sedangkan di belakang mereka ada kematian yang tak mungkin ia lari untuk menghadapinya.”

Pada suatu hari Imam Hasan al-Basri berjalan lalu menemui seorang remaja yang sedang tertawa, lalu beliau bertanya, “Wahai pemuda! Mengapa engkau tertawa? Apakah kamu telah tahu, tempatmu kelak di akhirat?”

Demikian kutipan larangan untuk tertawa terbahak-bahak, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita tidak termasuk orang yang merugi, Amin.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here