Anjuran Silaturahmi Setelah Idulfitri

0
2416

BincangSyariah.Com- Menyambung tali silaturahim bisa dilakukan dengan banyak cara. Di antaranya adalah berkunjung, memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Dibutuhkan kelembutan, kasih sayang dan muka berseri dalam membangun silaturahmi. Silaturahmi menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Rasulullah Saw pernah bersabda:

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحمِ

“Sembahlah Allah, janganlah persekutukan dengan sesuatu pun, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan sambilkan tali kasih sayang (silaturahmi)”. (HR. Al-Bukhari)

Kegiatan yang merupakan ciri khas dari hari raya adalah saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Momen tersebut memang agenda terbaik sepanjang tahun untuk mempererat tali persaudaraan. Mengunjungi keluarga yang jarang bertemu dan memberikan hadiah terbaik juga salah satu cara yang sering dilakukan pada saat hari raya atau hari setelahnya.

Menyambung silaturahmi menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat. Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itu pun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan salat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Silaturahmi juga merupakan faktor penyebab umur panjang dan rezeki banyak. Dari silaturahmi ini kita banyak mendapatkan manfaat yang diberikan Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Baca Juga :  Hakikat Simbol Salib Menurut Imam Ibnu Arabi

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Arrahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Setelah umat muslim berpuasa menahan makan, minum dan hawa nafsu, mereka merayakan hari kemenangan dengan bersilaturahmi. Dengan bersilaturahmi, mereka yang jauh jadi merasa lebih dekat, mereka yang merasa tak diperhatikan jadi merasa disayang. Dalam hari raya inilah jadi momen untuk saling memaafkan dan menebus kesalahan. Karena kesalahan seseorang bisa ditembus dengan meminta maaf pada orangnya dan taubat. Karena jika tidak, maka pahala yang telah kita kumpulkan selama bulan Ramadan akan sirna karena digunakan menebus khilaf.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Barang siapa melakukan tindak kelaliman kepada seseorang, baik pada harga diri atau harta bendanya, hendaknya ia segera menyelesaikannya sekarang juga, sebelum datang hari kiamat, suatu hari yang tidak berlaku lagi uang dinar atau dirham. Akibatnya, bila ia memiliki amal shaleh, maka akan dipungut sebanyak tindak kelalimannya. Bila ia tidak memiliki amal kebajikan, maka akan dipungutkan dari dosa orang tersebut, lalu dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here