Anjuran Bershalawat Diturunkan pada Bulan Sya’ban

0
2187

BincangSyariah.Com – Sebagian keutamaan bulan Sya’ban adalah adanya perintah bershalawat kepada Nabi Saw yang turun pada bulan ini. Perintah tersebut termaktub dalam Alquran surah Al-ahzab ayat 56;

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (الاحزاب:)

Artinya;“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi Saw dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Sebagian ulama berpendapat bahwa surah Al-ahzab ayat 56 tersebut turun pada lailatul isra’ (malam Isra), namun pendapat ini lemah karena menyelisihi pendapat mayoritas ulama. Bahkan Ibn Abi al-Shaif al-Yamani mempertegas bahwa surah Al-ahzab ayat 56 tersebut turun pada bulan Sya’ban. Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani mengutip perkataan Abi Zar al-Harawi, menyatakan bahwa perintah bershalawat kepada Nabi Saw turun pada tahun kedua Hijrah bukan pada malam lailatul isra’.

Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban juga mengatakan bahwa surah Al-ahzab ayat 56 turun pada bulan Sya’ban. Beliau memperkuat pandangannya dengan menyebutkan salah satu hadis yang diriwayatkan al-Dailami dari Sayyidah Aisyah, dia berkata:

شَعْباَنُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ اللِه وَشَعْبَانُ المُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ المُكَفِّرُ

Artinya: “Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan bulan Allah. Bulan Sya’ban menyucikan dan Ramadhan menggugurkan dosa”.

Dalam hadis ini sangat jelas Nabi Saw mengaku bahwa bulan Sya’ban adalah miliknya, sedangkan Ramadhan milik Allah. Pengakuan Nabi Saw ini, kata Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki, kemungkinan karena Sya’ban bulan bershalawat, bulan di mana surah Al-ahzab ayat 56 diturunkan sebagai perintah bershalawat kepada Nabi Saw.

Selanjutnya Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban menjelaskan hakikat bershalawat kepada Nabi Saw. dan kenapa Allah memerintahkan kita sebagai umatnya wajib bershalawat kepadanya. Dengan mengutip perkataan Izzuddin bin abbdissalam, Sayyid Muhammad menjelaskan :

Baca Juga :  Mimpi Melihat Bulan: Antara Pertanda Baik dan Buruk

“Shalawat atas Nabi Saw. bukanlah syafaat kita untuk Beliau karena orang seperti kita tidaklah bisa memberi syafaat kepada orang seperti Beliau. Kendati begitu Allah memerintahkan agar membalas jasa orang yang telah memberikan kebaikan kepada kita. Jika tidak bisa membalas jasanya maka kita berdo’a untuknya agar Allah menggantikan kita dalam memberikan balas jasa. Ketika kita tidak mampu membalas jasa penghulu manusia terdahulu dan yang kemudian maka Tuhan semesta alam memerintahkan agar kita bershalawat atasnya supaya shalawat itu sebagai balas jasa atas kebaikan dan anugerahnya kepada kita dan tentu saja tak ada kebaikan lebih utama daripada kebaikan Nabi Saw. kepada kita.”

Dalam hadis riwayat al-Imam Muslim, Nabi bersabda:

          مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Artinya;“barang siapa bershalawat sekali atasku maka sebab itu Allah bershalawat sepuluh kali atasnya”.

Al-Qadhi ‘Iyadh menafsirkan hadis riwayat al-Imam Muslim di atas tersebut. Beliau berkata, “Maksud Allah bershalawat sepuluh kali adalah tambahan rahmat-Nya dan pahala shalawat tersebut dilipatgandakan”.

Dengan demikian, bershalawat kepada Nabi Saw memiliki banyak keutaman. Keutamaan ini semakin bermakna ketika bershalawat pada bulan Sya’ban, sehingga tidak heran para ulama menganjurkan untuk memperbanyak baca shalawat kepada Nabi Saw pada bulan Sya’ban ini. Hal ini karena Sya’ban adalah bulan milik Nabi Saw, bulan bershalawat kepadanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here