Meningkatnya Animo Berinvestasi di Negara Muslim

0
353

BincangSyariah.Com – Saat ini sedang ada gejala peningkatan animo berinvestasi di negara muslim. Gejala ini menurut Metwally, dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: ada sanksi terhadap pemegang aset yang kurang atau tidak produktif (hoarding idle asset), dilarang melakukan berbagai bentuk spekulasi dan segala macam judi, dan tingkat bunga untuk berbagai pinjaman sama dengan nol.

Sehingga, seorang muslim boleh memilih tiga alternatif atas dana yang akan diinvestasikan, yaitu: 1) Seseorang diperbolehkan memegang kekayaannya dalam bentuk uang kas (idle cash), 2) Seseorang diperbolehkan memegang tabungannya dalam bentuk aset tanpa berproduksi, misalnya deposito, realestate, perhiasan (permata) dan lain sebagainya, atau 3) Menginvestasikan tabungannya seperti memiliki proyek-proyek yang menambah persediaan kapital nasional.

Investasi tidak bisa disamakan dengan menabung, sebab dalam investasi ada jangka waktu dan strategi sehingga berlaku hukum kelipatan, dengan jumlah yang diinvestasikan dapat memperoleh hasil yang berlipat. Biasanya, kelipatan tersebut telah diukur rentang waktunya. Sedangkan menabung tidak dibutuhkan strategi dan jangka waktu tertentu. Karenanya salah satu cara melakukan investasi adalah menahan konsumsi saat ini untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkan tersebut di kemudian hari.

Dasar Dalil Investasi Syariah

Investasi berasal dari kata invest yang artinya menanam atau menginvestasikan uang atau modal. Jika konsep menanam ini kita terapkan dalam bidang pertanian, seperti seorang petani yang menanam tumbuhan, dia berharap agar bibit tanamannya akan tumbuh dan berbuah dengan bagus. Sehingga dapat memperoleh keuntungan dari tanaman tersebut.

Begitu juga dalam masalah investasi. Jika seorang investor menanamkan sejumlah dananya kepada usaha tertentu, tentu saja investor mengharapkan dananya akan tumbuh berkembang dan berbuah menjadi keuntungan.

Berinvestasi tentu menggunakan ketentuan yang benar, sehingga tidak menimbulkan kerugian dari pihak yang terlibat di dalamnya. Sebagaimana hadits Nabi dari sahabat Fadhalah:

Baca Juga :  Rumi dan Konsep Cintanya Sebagai Dasar Metafisika

عن فضالة بن عبيد الأنصاري رضي الله عنه يقول : أتي رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو بِخَيْبَرَبِقِلَادَتٍ فيها خَرَزٌوَذَهَبٌ وَهِيَ مِنَ الْمَغَانِمِ تُبَاعُ فَأَمَرُرَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِالذَّهَبِ الَّذِي فِي الْقِلَادَةِفَنُزِعَ وَحْدَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّم : الذهب بالذهب وزنا بوزن (رواه مسلم)

Fadhalah bin Ubaid al-Anshari r.a. mengatakan bahwa Rasulullah disodori sebuah kalung yang berisi merjan (permata) dan emas untuk dijual ketika beliau ada di Khabair. Kalung tersebut berasal dari Ghanimah. Maka Rasulullah memerintahkan untuk mengambil emas yang ada dikalung itu lalu dipisahkan, kemudian beliau bersabda, “Emas hendaknya dijual (ditukar) dengan emas dengan berat yang sama”.

Seseorang yang akan melakukan investasi hendaklah memperhatikan syarat-syarat yang dilarang dan yang diperbolehkan dalam berinvestasi sehingga bermanfaat baginya untuk dunia dan akhirat, seperti yang terkandung dalam Alquran, hadis, ijmak dan qiyas.

Beberapa jenis investasi dalam Islam adalah tabungan, deposito mudhorabah, asuransi syariah, tabungan pendidikan, reksadana syariah, sukuk obligasi, saham syariah, dan musyarokah. Sedangkan investasi yang tidak disyariatkan dalam Islam adalah perjudian, gharar, riba dan penipuan

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here