Amr bin Ash: Ahli Strategi Perang yang Membebaskan Mesir

0
1415

BincangSyariah.Com – Bebasnya negeri Mesir dari cengkraman Romawi, menurut Rafik dalam karyanya Asyhar Masyahiri al-Islam, merupakan hasil keberhasilan Amr bin Ash dalam menaklukkan negeri Mesir. Tujuannya bukankah demi kepentingan pribadi, tetapi demi memperluas wilayah Islam dan membebaskan negeri Mesir dari cengkraman Romawi, dengan cara mengacaukan para Firaun serta pasukannya yang tidak sedikit.

Beliau mempunyai nama lengkap Amr bin al-Ash bin Wail bin Hasyim bin Su’aid bin Sahm. Ia terlahir dari keluarga Bani Sahm, yang memiliki kedudukan terpandang dikalangan masyarakat Quraisy. Pasalnya Bani Sahm dikenal mempunyai otoritas dalam lembaga peradilan hukum. Jika masyarakat Arab dan orang-orang Bani Quraisy meminta keputusan terkait persilisihan atau permasalahan antar bangsa, mereka merujuk kepada bani Sahm. Dengan lingkungan yang demikian, menjadikan Amr bin Ash pandai dalam urusan diplomasi serta tanggap dalam mengambil kebijakan.

Ahli Strategi Perang

Amr bin Ash dikenal pria yang cerdik, ahli dalam peperangan serta strategi perang. Ia ikut ernah mengikuti peristiwa Fathul Makkah untuk membebaskan Ka’bah dari cengkaman kaum Quraisy pada tahun 8 H. Mengetahui kecerdasan Amr bin Ash, Rasulullah berniat mengundang Amr untuk datang ke rumahnya. Tujuannya, untuk menawarinya sebagai pemimpin dan memberi hadiah ghanimah. Akan tetapi Amr bin Ash menolak pemberian hadiah dari Rasulullah, Amr bin Ash menyatakan masuk Islam bukan demi memperoleh harta, akan tetapi berislam karena mencintai agama Islam.

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, peran Amr bin Ash semakin besar yang dilakukan untuk Islam. Beberapa misi besar khalifah Abu Bakar As-Shidiq yang diamanahkan kepada Amr bin Ash mampu diselesaikan dengan baik. Kota Bandar Ayla di teluk Aqabah berhasil ditaklukkan sampai ke arah barat daya pesisir laut Gaza. Menaklukkan daerah disepakati dengan jalan perdamaian.

Baca Juga :  Kisah Umaimah: Ibunda Abu Hurairah

Membebaskan Negeri Mesir

Pada masa Khalifah Umar bin Kattab, Amr bin Ash memiliki misi besar yaitu membebaskan negeri Mesir dari cengkraman Romawi. Ia segera menyusun strategi perang bersama kurang lebih 3500 pasukannya.

Pada masa itu negeri Mesir dikuasai Pasukan Romawi yang dipimpin oleh Arthabun, seorang panglima Romawi yang dikenal kelicikannya dalam bertempur. Kondisi negeri Mesir pada saat itu sedang dilanda konflik, dimana hunbungan antara penduduk asli Mesir dengan penguasan Romawi terjadi kerenggangan. Pemerintah Romawi bertindak kasar bahkan menindas masyarakat asli Mesir. Kebijakan-kebijakan yang diatur pemerintah Romawi sangat merugikan masyarakat Mesir. Melihat keadaan Mesir pada saat itu, Amr bin Ash tergugah ingin segera membebaskan negeri Mesir. Sebelum melakukan rihlah ke negeri Mesir, tidak lupa untuk meminta izin kepada khlaifah Umar bin Khattab.

Keberangkatannya sempat terjadi kendala karena Umar bin Khattab tidak mengizinkan. Di perjalanan Amr bin Ash dikirimi surat oleh Umar bin Khattab untuk kembali. Namun karena perjalanan sudah sampai di Mesir, dia tidak kembali memenuhi permintaan Umar bin Khattab. Amr bin Ash meneruskan perjalanan ke Mesir bertekad yakin berkah dan pasti ada pertolongan dari Allah.

Pendekatan Amr bin Ash Kepada Masyarakat

Terdapat kisahnya yang perlu diteladani ketika menaklukkan tiap-tiap daerah di Mesir. Amr bin Ash iseringkali berstrategi sebelum pasukan Mesir menyerang. Amr bin Ash ketika itu berkata, “jangan tergesa-gesa kalian (pasukan Mesir) memerangi kami sebelum kami memberi penjelasan kepada kalian, kemarilah datang kepadaku Abu Maryam dan Abu Miryam.” Keduanya tidak jadi memerangi dan langsung menghampirinya.

Amr bin Ash kemudian menawari kedua orang tersebut dengan masuk Islam atau membayar jizyah. Jawabannya karena sesungguhnya negeri Mesir masih ada hubungan kerabat dengan Arab, sesuai dengan sabda Nabi, “jika kalian (umat Islam) ingin menakklukkan Mesir, maka berbuat baiklah kepada masyarakat Mesir, karena mereka memiliki ikatan tali pernikahan dengan Islam (yaitu dari Hajar Ibunda Nabi Ismail).” Meskipun awalnya masyarakat tidak percaya apa yang dikatakan Amr bin Ash, namun tidak membuat Amr menyerah begitu saja.

Baca Juga :  Abu Lubabah; Sahabat Nabi yang Gantung Diri di Tiang Masjid Nabawi

Ancaman pemerintah Mesir yang datang bertubi-tubi melanda pasukan Amr bin Ash, rupaya tidak sama sekali membuat pasukannya dan putus asa. Amr menggunakan cara lain dengan mengancam delegasi pemerintah Mesir yang menghadap kepadanya, yang bernama Muqouqis. Amr bin Ash mengancam jika tidak masuk Islam, masyarakat Mesir akan menerima keminoritasan hingga Allah sendiri yang akan memutuskan perkara baik mereka. Muqouqis mendengar hal itu menjadi khawatir dan meminta masyarakat Mesir untuk damai dengan pasukan Amr bin Ash. Akhirya sebagian besar masyarakat Mesir menerima untuk masuk agama Islam, dan menemui pasukan Amr bin Ash.

Menghadapi Romawi

Setelah mereka bersatu dalam satu misi ingin menghancurkan pasukan penguasa (Romawi), mereka melakukan beberapa serangan, namun sama sekali belum mebuahkan hasil. Karena pasukan Romawi ketakutan dengan jumlah pasukan muslimin Mesir yang begitu banyak, sehingga pasukan Romawi tidak berani keluar dari benteng Babilonia.

Tidak lama kemudian Allah memberikan hidayah atas segala yang dilakukan oleh pasukan ini. Sungai nil yang digunakan lintasan menuju benteng Babilonia, akhirnya surut. Pasukan muslimin Mesir dapat masuk menorobos benteng Babilonia.

Ketika Zubair bergerak ke benteng Babilonia sambil mengumandangkan kalimat Takbir, pasukan muslimin serentak menjawab takbir, mereka bergegas berkumpul menaiki benteng Babilonia. Seketika itu pasukan Romawi ketakutan akan keselamatan mereka. Kemudian pasukan Romawi meminta damai dengannya. Ia pun menerima perdamaian tersebut dan membuatkan perjanjian damai secara tertulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here