‘Ammar bin Yasir: Intel di Zaman Nabi yang Selalu Ditawassuli oleh Gus Dur

0
1897

BincangSyariah.Com – Suatu hari di depan sebuah rumah yang dijadikan markas bertemulah dua orang pria yang sedang mengikuti petunjuk Tuhannya. Mereka adalah ‘Ammar bin Yasir -putra seorang lelaki asal Yaman yang hijrah ke Mekah dan menikahi wanita bernama Sumayyah, seorang budak milik Hudzaifah dari Bani Makhzum- dan Shuhaib bin Sinan.  “Hendak apa kau kemari.” ‘Ammar memulai percakapan, “Aku ingin mendengar ceramah Muhamad.” jawab temannya. “Aku pun demikian,” ‘Ammar menimpali, masuklah mereka berdua ke dalam rumah milik Arqam bin Abil Arqam yang menjadi markas kaum muslimin pada masa awal tersebut. Mulai saat itu mereka berdua resmi memeluk Islam.

Sepulangnya dari rumah Arqam, ‘Ammar mengajak keluarganya untuk memeluk Islam, gayung pun bersambut, seketika Ayah, dan ibunya yang bernama Sumayyah masuk Islam. Kabar keislaman keluarga Yasir ini terdengar oleh orang-orang musyrik. Mulailah mereka mengganggu hidup keluarga ini, bahkan tak segan untuk menyiksa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Jabir diceritakan suatu ketika di siang hari Nabi mendapatii ‘Ammar, ayah, dan ibunya tengah disiksa. Nabi kemudian bersabda “Bersabarlah, keluarga Yasir, kalian dijanjikan surga.”

Abdurrahman Al-Basya (w. 1986), sejarawan asal Turki dalam Shuwarun min Hayat al-Shahabah menceritakan bahwa orang-orang musyrik menyiksa keluarga Yasir di atas tanah yang sangat panas akibat terik matahari, mereka dipakaikan baju dari besi -untuk menyerap panas matahari- agar tubuh mereka meleleh, sembari dipukuli dan tak diberi makan maupun minum. Setelah keringat mengalir bercampur darah barulah orang-orang musyrik meninggalkan mereka, penyiksaan itu terus dilakukan di kemudian hari. Ibunya menjadi orang pertama yang mati syahid dalam sejarah Islam setelah Abu Jahal menusukkan tombak di rahimnya sebagaimana diceritakan Ibn ‘Abbas, ayahnya pun meninggal karena siksaan orang-orang Quraisy ini. Siksaan ini dilakukan oleh orang-orang musyrik untuk menakut-nakuti para pemeluk Islam dan orang yang hendak memeluk Islam.

Baca Juga :  Di Maroko, Gus Dur Menangis Setelah Membaca Buku Ini

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya meriwayatkan hadis dari Muhammad -putra ‘Ammar- bahwa sang ayah suatu ketika menghadap Nabi dalam dengan wajah murung karena sedih dan malu. Nabi pun bertanya “Apa yang terjadi padamu?” “Mereka tidak berhenti menyiksa hingga aku (terpaksa) mencelamu dan memuji Tuhan mereka, Ya Rasul” jawab ‘Ammar “Bagaimana hatimu?” tanya Nabi “Hatiku tetap teguh pada imanku” ‘Ammar menjawab, kemudian Nabi berkata “Jika mereka menyiksamu dan memaksamu lagi, lakukanlah hal itu lagi (mencela Nabi dan memuji Tuhan mereka)”. Hadis ini kemudian dijadikan dalil bagi para ulama tentang kebolehan mengucapkan kata-kata kufur dalam keadaan terpaksa. Ibn Sa’d (w. 230 H) dalam Al-Thabaqat Al-Kubra mengutip cerita dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi “Telah bercerita kepadaku seseorang yang pernah melihat ‘Ammar dalam keadaan telanjang dada, seseorang tadi berkata: Aku melihat punggung ‘Ammar penuh bekas luka, lalu aku bertanya “Apa ini?” ‘Ammar menjawab “ini adalah bekas siksaan orang-orang Quraisy kepadaku”.

Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, ‘Ammar mengajak para sahabat untuk membangun sebuah bangunan sebagai tempat salat dan berteduh, berdirilah sebuah bangunan yang dikenal dengan nama Masjid Quba’ atas inisiatif ‘Ammar, masjid pertama dalam sejarah Islam. ‘Ammar sendiri diberi sebidang tanah oleh Nabi untuk dibangun tempat tinggal sebagaimana dikutip dalam Al-Thabaqat Al-Kubra.

Masih dalam referensi yang sama, ada kisah mistis tentang ‘Ammar, Al-Hasan menceritakan bahwa ‘Ammar berkata “Aku telah berperang menghadapi manusia dan jin” aku bertanya “Engkau (memang) telah berperang melawan manusia, tapi bagaimana kau berperang melawan jin?” lalu ‘Ammar bercerita “Aku dan Rasulullah tiba di sebuah tempat, lalu aku mengambil timba dan qirbah-ku (wadah air yang terbuat dari kulit) untuk mengambil air, lalu Rasulullah berkata “Nanti akan ada yang mencegahmu mengambil air” ketika aku sampai di tepi sumur, ada seorang laki-laki berkulit hitam, dia berkata “Kau tidak akan mendapatkan satu timba pun hari ini” lalu aku meraihnya, dia pun meraihku, kemudian aku membantingnya, lalu kuambil sebuah batu dan kuhancurkan hidung dan wajahnya. Kemudian ku isi qirbah-ku hingga penuh dan mendatangi Nabi. Beliau bertanya “Ada yang mencegahmu?” aku menjawab “Seseorang berkulit hitam” Nabi bertanya lagi “Apa yang kau perbuat padanya?” lalu aku ceritakan apa yang terjadi, “Tahukah kau siapa dia?” kata Nabi “Tidak” jawabku, Nabi berkata “Dia adalah setan, dia datang untuk mengahalangimu mengambil air”

Baca Juga :  Belajar dari Kuburan

Sering Ditawassuli Gus Dur

Dalam buku Menggugat Pemikiran Kiai Said, buku yang berisi transkrip diskusi para kiai NU atas pemikiran Kiai Said Aqil, dalam diskusi itu hadir pula salah satu Kiai NU sekaligus Presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Beliau bercerita “Sayyidina ‘Ammar bin Yasir, dan saya sudah lima kali mimpi ketemu beliau, tidak pernah lepas Fatihah saya kepada beliau selama belasan tahun. Menurut saya beliau adalah tokoh politik paling dahsyat dalam sejarah awal Islam. Beliau adalah raja intel Islam. ………. dan saya jujur saja kalau sudah perang dengan orang-orang intel, diganggu dan diacak-acak oleh intel, saya selalu tawassul kepada Sayyidina ‘Ammar bin Yasir dan selalu diberi petunjuk berupa ayat-ayat dan selalu cocok”.

Kiprah spionase ‘Ammar salah satunya adalah ketika diutus Nabi bersama Ibn Mas’ud satu malam sebelum perang badar untuk memata-matai pasukan musuh dan mencari informasi tentang keadaan mereka, sebagaimana diceritakan Al-Waqidi (w. 207 H) dalam Al-Maghazi. Pahlawan bertubuh tinggi besar ini menghembuskan nafas terakhirnya pada saat perang Shiffin, beliau berada di barisan ‘Ali. ‘Ali menguburnya tanpa melepas baju yang ia pakai saat meninggal. Ahli Kufah meriwayatkan bahwa ‘Ali mensalatinya tapi tidak memandikannya. Begitulah mazhab Ahli Kufah dalam memperlakukan orang yang mati syahid, disalati tanpa dimandikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here