Allah Berjanji Menjadikan Umat Islam Penguasa Dunia Lagi? (2-Habis)

1
1813

Penafsiran Ekseklusif, Ekstensif dan Eklektif

Penafsiran para ahli tafsir terhadap Q.S. An-Nur: 55 memiliki sejumlah varian. Pertama, penafsiran ekseklusif yang membatasi konteks ayat hanya pada masa Sahabat. Sejumlah ahli tafsir menyebutkan konteks ayat (baca: asbabun nuzul) Q.S. An-Nur: 55 adalah situasi penuh ketegangan yang dihadapi para sahabat. Mereka setiap hari harus membawa senjata untuk menjaga diri. Bahkan ketika dalam kondisi tidur, mereka tidak boleh jauh dari senjata. Mereka berkata satu sama lain, “Kapan kita akan dapat hidup tenang dan nyaman. Tanpa rasa takut kecuali kepada Allah semata.” (HR. Al-Hakim dan Al-Thabarani).

Kondisi ini terjadi setelah hijrahnya Rasulullah saw. bersama para sahabatnya ke Madinah. Mereka diterima baik oleh para sahabat asli Madinah. Rasulullah saw. berusaha menjalin kerja sama keamanan dengan semua pihak yang ada di Madinah, termasuk dengan suku-suku Yahudi di sekitar Madinah. Tetapi, orang-orang Mekkah yang sedari awal memusuhi merupakan ancaman nyata. Mereka tidak segan bekerja sama dengan suku-suku Yahudi Madinah bersama-sama memusuhi umat Islam di Madinah.

Perang merupakan ancaman nyata yang dihadapi para sahabat selama hidup di Madinah. Mereka harus selalu siap-siaga, waspada, dan penuh kekhawatiran jika ada serangan mendadak. Rasa khawatir, takut, tidak aman, dan tidak tentram menjadi kondisi sehari-hari yang dirasakan. Merespons kondisi ini, Allah menurunkan Q.S. An-Nur: 55, Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Dalam ayat ini, Allah berjanji bahwa jika para sahabat teguh berpegang kepada keimanan dan istikamah melakukan kebaikan, maka mereka akan mendapatkan kemenangan, kekuasaan, dan ketenteraman hidup sebagai ganti rasa khawatir yang mereka alami.

Janji Allah benar-benar terwujud ketika Rasulullah saw. dan para sahabat berhasil menaklukkan kota Mekkah dalam peristiwa Fathu Makkah. Hari yang ditasbihkan Rasulullah saw. sebagai hari kasih sayang (yaum al-marhamah) tersebut merupakan simbol terwujudnya janji Allah kepada para Sahabat yang mengeluhkan kondisi keamanan yang rentan. Kondisi berubah. Para sahabat yang sebelumnya selalu merasa terancam, kini merasa menjadi umat pemenang. Rasa takut berganti menjadi rasa tenang dan aman. Janji Allah terwujud.

Al-Baghawi (w. 510 H.), menyebutkan bahwa redaksi Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi merujuk kepada pemerintahan Al-Khulafa’ Al-Rasyidun, yang terdiri dari era Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Al-Baghawi mendasarkan penafsiran ini kepada sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Safinah, Rasulullah saw. bersabda, “Kekhalifahan setelah ku akan berjalan selama tiga puluh tahun. Setelah itu akan muncul kerajaan.” Safinah berkata, “Hitunglah Abu Bakar berkuasa dua tahun, Umar selama dua belas tahun, Usman selama dua belas tahun, dan Ali selama enam tahun.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi dan Al-Baghawi).

Baca Juga :  Gus Nadir Sindir Din Syamsuddin yang Samakan Khilafah HTI dengan Khalifah dalam Al-Quran

Ketentraman hidup yang telah diperoleh tersebut mulai berakhir ketika umat Islam meninggalkan syukur atas nikmat Allah. Al-Baghawi mengomentari ayat “Dan barangsiapa yang kafir sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” Menurutnya, maksud “kafir” adalah kufur nikmat atau tidak mensyukuri nikmat. Bukan keluar dari agama Islam. Kata “fasik” berarti orang-orang yang melanggar perintah Allah. Mengutip pernyataan pakar tafsir lain, Al-Baghawi mengatakan, “Orang yang pertama kali kufur terhadap nikmat ini dan mengingkari kewajiban mensyukurinya adalah orang-orang yang membunuh Usman bin Affan. Ketika mereka membunuhnya, Allah mengubah kondisi mereka. Allah memasukkan rasa takut kepada diri mereka sehingga mereka saling membunuh setelah sebelumnya mereka dipersaudarakan. (Tafsir Al-Baghawi, jilid 6, hal. 59).

Penafsiran Al-Baghawi di atas terkesan cenderung membatasi pada konteks historis Q.S. An-Nur: 55. Beliau tidak mencoba menariknya ke dalam konteks yang lebih umum. Pembatasan ini didukung oleh Fakhr Al-Din Al-Razi (w. 606 H.). Menurut beliau, ayat ini menunjukkan kepemimpinan empat orang khalifah; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Beliau mengatakan, “Hal itu karena Allah Ta’ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yaitu orang-orang yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw. Merekalah orang-orang yang dimaksud oleh firman Allah “Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi”.

Al-Razi cenderung membatasi Q.S. An-Nur: 55 hanya pada masa kekhalifahan keempat tokoh sahabat tersebut. Salah satu argumennya, penaklukkan telah terhenti pada era Ali bin Abi Thalib karena beliau tengah disibukkan menghentikan pemberontakan-pemberontakan yang dilancarkan oleh sebagian umat Islam. Pemberontakan ini menunjukkan bahwa kondisi sudah tidak lagi stabil dan penuh rasa aman seperti sebelumnya. Al-Razi juga menegaskan ayat ini tidak dapat dimaknai secara tekstual, misalnya dengan mengatakan bahwa setiap orang yang beriman dan beramal saleh dapat menjadi penguasa di dunia (Mafatih Al-Ghaib, jilid 24, hal. 413).

Kecenderungan membatasi konteks teks juga ditunjukkan oleh penafsir klasik lain, Al-Baidhawi (w. 685 H.) dan Al-Nasafi (w. 710 H.). Janji Allah menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sebagai penguasa ditujukan kepada Nabi Muhammad dan orang-orang yang bersama beliau saat itu. (Tafsir Al-Baidhawi, jilid 4, hal. 112 dan Tafsir Al-Nasafi, jilid 2, hal. 515). Bahkan Syekh Nawawi Banten juga cenderung membatasi pengertian Q.S. An-Nur: 55 pada para sahabat Nabi. Beliau mengatakan, “Allah berjanji kepada orang-orang yang menggabungkan keimanan dan amal saleh dari para sahabat Nabi Muhammad akan Allah jadikan pengganti orang-orang kafir dalam mengelola dunia, Arab maupun nonArab (Marah Al-Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid, jilid 2, hal. 119).

Baca Juga :  Dalam Islam, Seperti Apa Potret Orang Paling Pemaaf?

Kecenderungan berbeda muncul dalam tafsir generasi yang lebih belakangan. Seperti yang ditunjukkan Ali Al-Syaukani (w. 1250 H.) yang mengatakan “Janji ini mencakup seluruh umat. Menurut satu pendapat, janji ini khusus untuk para sahabat. Tidak ada dalil untuk mengkhususkan janji ini. Karena, keimanan dan amal saleh tidak khusus dimiliki para sahabat. Bahkan, mungkin saja individu umat ini ada yang memiliki kualitas iman dan amal tersebut. Orang yang mengamalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah, maka dia telah menaati Allah dan rasul-Nya.” Dalam bagian selanjutnya, Al-Syaukani menyatakan, “Makna menjadikan kalian penguasa adalah menjadikan kalian khalifah di bumi, yang dapat mengendalikannya seperti para raja. Jauh dari kebenaran orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud ayat adalah para khalifah yang empat, atau para sahabat Muhajirin, atau yang dimaksud dengan bumi adalah negeri Mekkah. Kaidah yang dipakai jelas harus mengikuti keumuman lafal, bukan mengikuti konteks turunnya ayat.” (Tafsir Fath Al-Qadir, jilid 4, hal. 55). Penggunaan kaidah tekstualistik ini menjadikan pengertian Q.S. An-Nur: 55 mengalami ekstensifikasi pemaknaan.

Kecenderungan terakhir adalah eklektif. Kecenderungan ini menggabungkan dua aliran sebelumnya. Hal ini seperti ditunjukkan oleh tafsir-tafsir modern. Al-Qasimi (w. 1332 H.) menulis, “Dalam ayat ini terdapat bukti-bukti kebenaran kenabian Nabi Muhammad dimana beliau memberi kabar tentang perkara yang gaib sesuai dengan kondisi yang terjadi sebelum sebuah peristiwa terjadi dengan sangat jelas. Allah telah memenuhi janjinya dan menjadikan umat Muhammad penguasa jazirah Arab. Mereka menaklukkan negeri-negeri timur dan barat. Merobek-robek kerajaan para kisra, menguasai harta kekayaan mereka, dan menguasai dunia. Mereka telah sampai pada keadaan dimana musuh-musuh mereka sangat segan kepada mereka. (Tafsir Al-Qasimi, jilid 7, hal. 403).

Ibnu Asyur (w. 1393 H.) menafsirkan secara lebih luas. Beliau mengatakan bahwa Q.S. An-Nur: 55 mengandung hukum sebab-akibat. Orang-orang yang dapat mengembangkan potensi positifnya, mereka akan dapat menguasai dunia. Potensi positif dalam konteks umat Islam adalah mengikuti nilai-nilai Islam dengan baik. Meninggalkan pengembangan potensi positif ini akan menyebabkan kemunduran. Sebuah bangsa, sekalipun kafir, jika mereka menerapkan nilai-nilai Islam dengan baik, maka mereka akan maju. Hal ini sebagaimana terjadi pada bangsa-bangsa Eropa. Perjumpaan mereka dengan kebudayaan umat Islam di timur selama Perang Salib, telah mendorong mereka mengadopsi nilai-nilai Islam, lalu mengembangkannya lebih jauh. Mereka, bangsa-bangsa Eropa itu, telah mengembangkan potensi positif dan mereka sekarang menguasai dunia (Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir, jilid 18, hal. 285).

Baca Juga :  Allah Berjanji Menjadikan Umat Islam Penguasa Dunia Lagi ? (1)

Perkembangan penafsiran Q.S. An-Nur: 55 sangat unik dan dinamis. Pada generasi yang lebih kuno, pada umumnya menafsirkan janji Allah menjadikan penguasa orang-orang yang beriman dan beramal saleh hanya pada orang-orang yang hidup pada masa Rasulullah saw. Lalu, berkembang penafsiran bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah para khalifah yang empat. Yang berhasil menguasai dunia Arab dan sekitarnya. Penafsiran pada masa berikutnya justru lebih luas, yaitu bahwa janji Allah juga akan diberikan kepada orang-orang Islam dari generasi manapun. Termasuk generasi umat Islam yang hidup hari ini. Hal ini seperti penafsiran Al-Syaukani cenderung ekstensif yaitu meluaskan cakupan makna orang-orang yang akan menguasai dunia dalam Q.S. An-Nur: 55, bukan hanya terbatas pada para khalifah yang empat, tetapi juga berlaku untuk umat Islam hari ini jika mereka menerapkan syariat dengan baik. Tafsir Al-Syaukani juga cenderung ekseklusif karena hanya membatasi pada umat Islam. Tafsir yang muncul pada Abad Kedua Puluh Masehi justru lebih luas, inklusif dan bahkan eklektif. Sebagaimana ditunjukkan Ibnu Asyur, kaum nonMuslim ketika mereka menerapkan nilai-nilai Islam dengan baik, sekalipun tidak memiliki iman Islam, mereka akan dapat menguasai dunia. Ibnu Asyur tidak sungkan menggunakan kemajuan dunia Barat sebagai contoh.

 

Penutup

Demikian tafsir-tafsir yang berkembang seputar Q.S. An-Nur: 55. Evolusi penafsiran terjadi dalam sejarah penafsiran Alquran. Hal ini bukan sesuatu yang aneh dan memang merupakan perkara yang wajar. Para ahli tafsir hidup pada era dan tantangan yang berbeda-beda. Modal pengetahuan mereka juga berbeda-beda. Tetapi, mereka menjadi penanda-penanda penting dalam setiap zaman bahwa telah terjadi interaksi antara dunia Tuhan dan dunia manusia. Hasilnya adalah kitab-kitab tafsir tersebut. Jika hari ini beberapa orang menitipkan harapan penguasaan dunia dalam proses penafsiran, ya itu bagian dari kemanusiawian para penafsir yang tidak dapat lepas dari batas-batas dunia mereka. Dalam tradisi penafsiran Alquran, penafsiran mereka memiliki preseden dalam tafsir yang dikembangkan Al-Syaukani (w. 1250 H.), seorang ulama Syiah Zaidiyyah Yaman. Soal benar tidaknya, dalam etika penafsiran, para ahli tafsir selalu mengembalikannya kepada Allah dengan kata-kata mereka, wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here