Allah Berjanji Menjadikan Umat Islam Penguasa Dunia Lagi ? (1)

0
1221

BincangSyariah.com – Para pengusung ideologi khilafahisme, dengan berbagai versi dan strateginya, meyakini bahwa Allah telah berjanji akan menjadikan umat Islam sebagai penguasa dunia (lagi). Keyakinan ini berangkat dari pemahaman mereka terhadap Qs. An-Nur: 55. Allah SWT berfirman, Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang kafir sesudah itu, Maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Qs. An-Nur: 55)

Menurut mereka, pernyataan “Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa” berarti Allah akan menjadikan umat Islam yang hidup hari ini atau di masa depan sebagai penguasa dunia. Janji Allah ini, menurut mereka, hanya akan terwujud jika umat Islam memiliki negara. Tentu negara super power yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer tak tertandingi.

Penafsiran ini dibangun di atas suatu cita-cita besar yang bersifat politis, umat Islam berjaya di muka bumi sebagai penguasa tunggal. Lalu, bagaimana sebenarnya penjelasan para ahli tafsir Alquran terkait Qs. An-Nur: 55? Apakah janji Allah tersebut merupakan janji kepada umat Islam hari ini ataukah janji tersebut memiliki konteks khusus atau ada penjelasan lain?

Membicarakan tafsir Alquran sama dengan membicarakan keberadaan Alquran di muka bumi selama seribu lima ratus tahun belakangan. Alquran telah dibaca, ditelaah, dipahami, diikuti dan diamalkan kandungannya dalam kehidupan jutaan orang. Artinya, setiap ayat Alquran pernah mengalami persinggungan dengan pikiran manusia. Interaksi Alquran dan pikiran manusia ini penting dipelajari agar dapat diambil pelajaran. Interaksi keduanya merupakan fenomena, peristiwa penting, bersejarah, ciptaan Allah dan sunnatullah yang selaiknya menjadi bahan renungan kaum beriman.

Baca Juga :  el-Bukhari Institute Adakan Kursus Singkat Pemahaman Hadis Berbasis Maqasid Syariah

Seribu tahun interaksi Alquran dengan pikiran manusia, sebagian di antaranya dapat diakses oleh kita hari ini. Namun, banyak di antara interaksi tersebut yang tidak dapat diakses. Pada umumnya, kita dapat mengakses interaksi Alquran dan pikiran manusia melalui karya-karya tafsir Alquran. Buku-buku tafsir merupakan dokumentasi penting untuk peristiwa semacam ini. Dalam sejarah penulis kitab tafsir, mereka yang telah menulis kitab-kitab tafsir tentunya bukan sembarang orang. Mereka adalah orang-orang yang memiliki modal pengetahuan yang mendalam untuk mengeksplorasi ayat-ayat Alquran. Mereka mengerti bahasa Arab, mengerti prinsip-prinsip akidah, mengerti hukum-hukum syariat, hadis-hadis Nabi, dan sejarah awal umat Islam yang menjadi latar belakang bagi banyak ayat Alquran.

Karena kualifikasi inilah, posisi para ahli tafsir berbeda dengan mereka yang sekadar mempelajari dan memahami terjemah Alquran. Berbeda dari mereka yang hanya melakukan tadabur (perenungan) kandungan Alquran. Penafsiran Alquran telah menjadi keahlian yang didasarkan kepada kualifikasi keilmuan tersendiri.

Qs. An-Nur: 55 merupakan ayat Alquran yang belakangan sering dikutip aktivis Islam politik. Sebagai Muslim, mereka tentu berhak merujuk Alquran. Baik perujukan secara langsung ataupun dalam kerangka pemikiran tokoh tertentu. Hak ini juga dimiliki Muslim lain yang memiliki pandangan berbeda dengan diyakini aktivis politik di atas. Penulis akan mencoba menampilkan sejumlah penafsiran yang diasumsikan berbeda-beda, mengkomparasikan setidaknya delapan kitab tafsir, yang dikarang oleh tokoh-tokoh ulama penting dalam sejarah penafsiran Alquran. Komparasi semacam ini penting untuk menghindari, meminjam Khaled Abou El Fadl, kesewenang-wenangan dalam penafsiran (al-istibdad fi al-tafsir).

Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here