Alkimia dalam Pandangan Tasawuf

0
14

BincangSyariah.Com –  Alkimia atau Kimia merupakan cabang dari fisika yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat dan perubahan materi.

Ilmu kimia memiliki lima cabang utama, diantaranya adalah: kimia analitik, biokimia, kimia anorganik, kimia organik, dan kimia fisik.

Kimia kemudian memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Ahli kimia memperbaiki banyak produk makanan dan minuman, membuat obat dan bahan bangunan. Kimia juga membantu melindungi lingkungan kita dan mencari sumber energi baru.

Kata kimia berasal dari alkimia, yakni sebutan untuk serangkaian praktik pada masa lalu yang meliputi unsur-unsur kimia, metalurgi, filsafat, astrologi, ilmu mistik dan ilmu pengobatan. Alkimia sering kali diidentikkan dengan usaha mengubah timbal atau bahan baku biasa menjadi emas.

Ibnu Khaldun dalam  Muqaddimah (433) mendefinisikan alkimia sebagai ilmu yang mempelajari tentang materi (al-maaddah) yang dapat dibentuk menjadi emas dan perak, juga mempelajari tentang proses terbentuknya.

Para penggiat alkimia terus mencari materi yang bisa dijadikan bahan menciptakan emas. Pencarian tersebut sampai pada sisa-sisa binatang, seperti tulang-belulang, bulu, telur dan lain sebagainya, terutama benda-benda logam. Materi-materi tersebut kemudian diurai melalui proses sublimasi, distilasi, kalsinasi dan pulverisasi sehigga menemukan kandungan naturalnya, yang kemudian disebut dengan al-iksir atau eliksir.

Eliksir adalah bahan utuk mengubah logam biasa menjadi emas. Apabila eliksir ini ditambahkan pada mater-materi mineral seperti timbal, timah, dan tembaga, kemudian dipanaskan dengan api, maka materi-materi tersebut akan berubah menjadi emas murni.

Alkimia dipraktikkan oleh banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan sering dicampur dengan filsafat, mistisme, dan protosains.

Pada akhir pembahasan tentang alkimia, Ibnu Khaldun menyimpulkan, memproduksi logam biasa menjadi emas menggunakan ilmu alkimia bukanlah usaha yang natural, melainkan butuh kemampuan spiritual atau mistik yang bisa mempengaruhi unsur-unsur fisik. Jika  pengaruh spiritual itu berasal dari jiwa-jiwa yang bersih, maka masuk dalam ranah karamah, dan karamah adalah sebuah fenomena yang realistis. Jika pengaruh mistik itu berasal dari jiwa-jiwa yang kotor, maka masuk dalam ranah sihir.

Pengaruh mistik ilmu sihir akan selalu membutuhkan materi sebagai objek pelepasan kekuatan sihir. Misalnya menciptakan beberapa jenis hewan dari materi debu, pohon atau tumbuhan. Intinya, sihir itu menciptakan sesuatu tidak dari materi khususnya, seperti yang dilakukan tukang sihir Fir’aun mengubah tali temali menjadi ular.

Dengan demikian, Ibnu Khaldun mengkatogerikan pembuatan emas tanpa menggunakan materi khususnya termasuk dalam perbuatan sihir. Menurutnya, tidak benar jika ada ada yang menganggap bahwa proses dalam alkimia adalah proses yang natural.

Sejalan dengan perkembangan waktu, para alkimiawan terkemuka, terus berusaha mengembangkan alkimia dan menjauhkannya dari filsafat dan mistisisme, dengan lebih menggunakan pendekatan yang sistematik dan ilmiah.

Alkimiawan pertama yang dianggap menerapkan metode ilmiah terhadap alkimia dan membedakan kimia dengan alkimia adalah Robeth Boyle (1627-1691), yang kemudian dianggap sebagai pendiri kimia karena karyanya The Skeptical Chymist.

Beberapa sumber menyebutkan, bahwa ilmuan modern, dalam sebuah ekperimen, telah mampu merubah logam biasa menjadi emas dengan sebuat alat yang disebut particle accelerator. Cara kerja alat ini adalah dengan meniru reaksi nuklir yang terjadi pada bintang. Akselerator partikel dalam eksperimen tersebut berguna untuk menghilangkan protan dan neutron dari beberapa ribu atom bismut hingga berhasil dirubah menjadi atom-atom emas.

Namun kemampuan alat tersebut untuk mengubah emas sangatlah lambat, dari atom ke atom, sehingga diperkirakan waktu sampai kiamat untuk menghasilkan satu gram emas.

Selain, prosesnya yang lambat, eksperimen pada saat itu membutuhkan biaya yang mahal, jutaan triliun rupiah untuk mendapatkan 1 ons emas.

Jadi lebih tepatnya eksperimen tersebut hanya untuk membutikan, alkimia bisa digunakan untuk membuat emas dari logam-logam lain, tidak menggunakan sihir atau pun mistik, melainkan melalui reaksi atom yang cukup rumit.

Lalu bagaimana pandangan ulama tasawwuf tentang alkimia?

Beberapa orang yang menempuh jalan tasawuf terjebak pada aktivitas yang berhubungan dengan alkimia. Mereka terobsesi dengannya, dan diharapkan dapat menghasilkan banyak harta benda duniawi untuk membangun masjid, musholla, pondok, kegiatan sosial dan lain sebagainya.

Menurut Ahmad Zarruq dalam Uddatul Murid ash-Shadiq (224), mereka yang terjebak itu adalah orang-orang yang memiliki kualitas beragama yang kurang baik, sedikit kehormatan (muruah), tidak cerdas, terlalu berfantasi dan jauh dari pemahaman yang benar.

Kualitas beragama mereka dianggap kurang baik, karena aktivitas alkimia bisa menjerumuskan pada prilaku haram, seperti penggunaan zat-zat beracun yang bisa berdampak buruk terhadap diri mereka sendiri bahkan orang lain. Dampat negatif tersebut terjadi karena zat-zat berbahaya tersebut telah bermutasi menjadi benda lain, sehingga digunakan untuk pengobatan dan lain sebagainya.

Selain itu, mereka membakar sesuatu yang tidak seharusnya dibakar, seperti rambut dan tulang. Mereka juga melakukan proses distilasi terhadap hewan, dan merusak harta untuk tujuan yang tidak pasti dan tidak dijamin keselamatannya.

Mereka dianggap tidak cerdas karena menjerumuskan diri sendiri ke dalam aktivitas yang bisa membahayakan, mengurangi kualitas beragama, merusak harta, dan merusak nama baik karena terobsesi sesuatu yang tidak jelas, bahkan tidak pernah membuahkan hasil. Dalam sebuah syair disebutkan:

كَافُ الكُنوزِ وكَافُ الكِيمِيَاءِ مَعًا * لَا يُوجَدَان، فَدَعْ عَن نَفْسِكَ الطَّمَعا

Orang yang mengumpulkan harta karun dan alkimia tidak akan mendapatkan keduanya, maka janganlah dirimu mengharapkannya.

وقدْ تَحَدَّثَ أقوَامٌ بأمْرِهِمَا * وَمَا أَظُنُّهُمَا كَانَا ولا وَقَعَا

Sejumlah orang telah membicarakan harta karun dan alkimia, aku tidak menganggap keduanya ada dan tidak terjadi.

Praktisi alkimia dianggap kurang memiliki muruah atau kehormatan, karena dirinya beresiko digunjing orang lain. Orang akan mengaggapnya sebagai penipu, walaupun seandainya dia datang dengan membawa kebenaran ilmu hikmah dan sumber-sumber mineral alam.

Intinya, manfaat alkimia tidak sebanding dengan mudaratnya, bagaikan air setetes dari samudra yang sangat luas.

Menurut Ahmad Zarruq, boleh mempelajari alkimia, sebatas untuk mengetahui rahasia alam semesta, hikmah susunan dan analisisnya, serta rahasia eksistensinya. Namun tidak diperbolehkan mencari dan mendapatkan logam mulia dengan cara-cara alkimia.

Sama halnya dengan praktisi alkimia, pencari harta karun adalah orang-orang mengharapkan sesuatu yang tidak akan terjadi, tidak cerdas, dan berpotensi menimbulkan mudarat dan tidak menguntungkan.

Padahal duniawi di mata ahlillah (orang-orang yang dekat dengan Allah) tidak memiliki nilai dan tidak perlu dihiraukan. Jadi tidak benar, jika ada orang yang mengaku sebagai ahlillah, namun jiwa raganya dihabiskan untuk mengejar kekayaan duniawi.

Wallahu A’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here