Alasan Mengapa di Pesantren Libur Hari Jum’at

0
610

BincangSyariah.Com – Berbeda dengan sekolah umum (sekolah negeri) yang libur hari Ahad, Pondok Pesantren meliburkan kegiatan belajar mengajarnya pada hari Jum’at. Kebiasaan tersebut sudah berlangsung sejak lama dan diterapkan tidak hanya di Pesantren Madura, melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia. Alih-alih meliburkan murid-muridnya di hari Minggu, apa alasan Pesantren libur hari Jum’at?

Sebenarnya liburnya kegiatan belajar mengajar di hari Jum’at juga dilaksanakan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Bahkan beliau mendoakan buruk bagi mereka yang mengubah kebijakan tersebut. Dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur menjelaskan:

وَفِي الْإِيْعَابِ أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه طاَلَتْ غَيْبَتُهُ مُدَّةً حَتَّى اشْتَاقَ إِلَيْهِ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ فَلَمَّا قَدِمَ خَرَجُوْا لِلِقَائِهِ فَأَوَّلُ مَنْ سَبَقَ إِلَيْهِ الْأَطْفَالُ فَجَعَلَ لَهُمْ تَرْكَ الْقُرْآنِ مِنْ ظُهْرِ يَوْمِ الْخَمِيْسِ إِلَى يَوْمِ السَّبْتِ وَدَعَا عَلَى مَنْ يُغَيِّرُ ذَلِكَ اهـ ش ق.

 “Dalam kitab al-I’ab disebutkan bahwa Sayyidina Umar bin Khatab pergi sekian lama meninggalkan penduduk Madinah, sampai mereka merindukan beliau. Saat Sahabat Umar kembali, penduduk Madinah berbondong-bondong menyambut kedatangan Khalifahnya tersebut. Pertama kali yang menyambut beliau adalah anak-anak kecil. Kemudian Khalifah Umar memberi kebijakan kepada mereka untuk meliburkan pengajian al-Qur’an sejak zuhur hari Kamis sampai hari Sabtu. Dan beliau mendoakan buruk kepada siapa pun yang mengubah tradisi libur tersebut.”

Sementara itu, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menjelas, liburnya kegiatan belajar mengajar di hari Jum’at dikarenakan hari Jum’at adalah hari raya umat Islam. Di saat hari raya, tidak sepantasnya umat Islam melakukan kegiatan yang berat-berat. Selain itu, di hari Jum’at umat Islam dianjurkan melakukan kegiatan-kegiatan khusus, semisal mandi, memotong kuku, memotong rambut, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, dan kegiatan lain yang disunnahkan. Bahkan dianjurkan untuk bersegera berangkat ke masjid.

Baca Juga :  Benarkah Semua Penganut Agama Disebut Muslim oleh Al-Qur'an?

Semua aktivitas di atas tentu akan menyita waktu. Dan apabila aktivitas belajar mengajar diadakan akan menyebabkan sulitnya melakukan kesunnahan-kesunnahan hari Jum’at yang diajarkan Nabi tadi. Dengan bahasa lain, liburnya kegiatan belajar mengajar di hari Jum’at,  diharapkan guru dan murid bisa melakukan amalan-amalan khusus hari Jum’at.

 وَسُئِلَ رضي الله عنه هل لِلْمُعَلِّمِينَ في تَرْكِ التَّعْلِيم يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَثَرٌ فَأَجَابَ أَطَالَ اللهُ في مُدَّتِهِ حِكْمَةُ تَرْكِ التَّعْلِيم وَغَيْرِهِ من الْأَشْغَالِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنَّهُ يَوْمُ عِيدِ الْمُؤْمِنِينَ كما وَرَدَ وَيَوْمُ الْعِيدِ لَا يُنَاسِبُهُ أَنْ يَفْعَلَ فِيْهِ الْأَشْغَالَ وَأَيْضًا فَالنَّاسُ مَأْمُورُونَ فيه بِالتَّبْكِيرِ إلَى الْمَسْجِدِ مع التَّهَيُّؤِ قَبْلَهُ بِالْغُسْلِ وَالتَّنْظِيفِ بِإِزَالَةِ الْأَوْسَاخِ وَجَمِيعِ ما يُزَالُ لِلْفِطْرَةِ كَحَلْقِ الرَّأْسِ لِمَنْ اعْتَادَهُ وَشَقَّ عليه بَقَاءُ الشَّعْرِ فإن الْحَلْقَ حِينَئِذٍ سُنَّةٌ وَكَنَتْفِ الْإِبْطِ وَقَصِّ الشَّارِبِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ وَقَصِّ الْأَظْفَارِ وَالتَّكَحُّلِ وَالتَّطَيُّبِ بِشَيْءٍ من أَنْوَاعِ الطِّيبِ وَأَفْضَلُهُ الْمِسْكُ مع مَاءِ الْوَرْدِ وَلَا أَشُكُّ أَنَّ من خُوطِبَ بِفِعْلِ هذه الْأَشْيَاءِ كُلِّهَا مع التَّبْكِيرِ بَعْدَهَا لَا يُنَاسِبُهُ شُغْلٌ فَكَانَ ذلك هو حِكْمَةُ تَرْكِ سَائِرِ الْأَشْغَالِ يوم الْجُمُعَةِ

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami ditanya, apakah meninggalkan kegiatan mengajar bagi para guru di hari Jumat ada dasarnya?. Beliau menjawab, hikmah meninggalkan kegiatan mengajar dan beberapa kesibukan lainnya di hari Jumat adalah bahwa hari Jumat merupakan hari raya bagi kaum Mukmin sebagaimana dijelaskan hadits Nabi. Sedangkan saat hari raya tidak sepantasnya seseorang melakukan kegiatan-kegiatan. Di sisi yang lain, pada hari Jumat umat Islam diperintahkan bergegas berangkat menuju masjid beserta aktivitas persiapan sebelumnya meliputi mandi, membersihkan kotoran-kotoran badan dan perkara-perkara yang dihilangkan sebagai bentuk fitrah manusia seperti memotong rambut bagi yang membiasakannya dan berat untuk tidak memotongnya, maka memotong rambut sunah. Seperti juga mencabut bulu ketiak, mencukur kumis, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, memakai celak dan wewangian, lebih utama dengan menggunakan minyak misik beserta air mawar. Dan saya tidak ragu bahwa orang yang dianjurkan melakukan tuntunan-tuntuan ini beserta anjuran bergegas menuju masjid setelahnya tidak sepantasnya melakukan kesibukan apapun. Maka, yang demikian tersebut merupakan hikmah meninggalkan berbagai macam aktivitas di hari Jumat”. (Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz.1)

Baca Juga :  Doa Sahabat Jabir bin Zaid Ketika Memasuki Masjid di Hari Jumat

Inilah beberapa alasan mengapa di Pesantren liburnya hari Jum’at bukan hari Ahad. Mengenai kebijakan libur pesantren sejatinya adalah hak prerogatif Kiai. Sebab beliaulah pimpinan dan pemilik pesantren. Artinya Kiai bisa saja mengubah atau memberi kebijakan libur pesantren di hari lain.

Wallahu ta’ala a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here