Alasan Dakwah Rasulullah Mendapat Banyak Ujian dan Cobaan

1
18

BincangSyariah.Com – Meski Nabi Muhammad adalah utusan Allah, hal ini tidak serta merta membuat dakwah Rasulullah menjadi mudah. Beragam kezaliman, hujatan dan fitnah tidak jarang beliau alami, terkhusus setelah masuk dalam fase dakwah secara terang-terangan. Misalnya saat Uqbah bin Mua’ith salah satu pembesar musyrikin Quraisy mencekik Rasul dengan bajunya.

Dalam Sahih Bukhari, Urwah bin Zubair bertanya kepada Ibnu Amr bin Ash,  “Beritahu aku apa perlakuan paling keras yang pernah dilakukan kaum musyrikin terhadap Nabi?” Ibnu Amr bin Ash menjawab, “Ketika Nabi sedang shalat di Hijr Ka’bah, tiba – tiba datang Uqbah bin Mua’ith lalu dia melikitkan kainnya di leher beliau dan mencekik beliau dengan keras sekali. Kemudian Abu Bakar tiba lalu mendorongnya dan menjauhkannya dari Nabi. Abu Bakar berkata, apakah kalian hendak membunuh orang yang mengatakan Rabbku Allah”.

Dalam riwayat lainnya tatakala melaksanakan shalat Rasulullah digannggu para pembencinya. Abdullah berkata, “Ketika Rasulullah sedang sujud disekeliling beliau, ada orang – orang musyrikin Quraisy lalu datang dengan membawa jeroan hewan sembelihan lalu meletakkannya pada punggung Nabi, dan beliau tidak mengangkat kepala beliau hingga akhirnya datang Fatimah membuangnya dari punggung beliau.

Lalu berseru memanggil orang yang telah melakukan perbuatan itu. Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, aku serahkan para pembesar Quraisy kepadaMu. Ya Allah aku serahkan Abu Jahal bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, Umayyah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf kepadaMu”.

Allah Swt sangat mencintai Nabi Muhammad Saw, tak ada keraguan dalam hal ini. Lalu muncul pertanyaan, jika Allah menyayangi Rasul, mengapa Allah membiarkan orang – orang musyrik menyakiti Rasul? Selain itu, mengapa dakwah yang beliau sampaikan mendapat banyak tantangan dan ujian? Bukankah jika Allah menghendaki, Rasul bisa saja terhidar dari segala kesengsaraan dan dakwah Islam bisa saja tersiar dengan mudah tanpa harus melewati cobaan yang begitu pelik?

Baca Juga :  Haruskah Berjihad pada Orang Musyrik dengan Cara Mencaci Maki?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita tengok kitab fiqh sirah karya Syekh Ramadhan Al Buthi. Dalam bukunya tersebut beliau memaparkan tiga hikmah, mengapa Rasulullah harus melewati jalan yang sangat terjal.

Pertama, manusia adalah hamba Allah Swt sebagaimana tertera dalam QS. Ad-Dzariyat ayat 56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Ketentuan ini merupakan qanun umum yang berlaku untuk semua manusia di muka bumi, baik itu Rasul, Nabi ataupun masyarakat biasa. Sebagai hamba, manusia diminta untuk membuktikan penghambaan atau pengabdiannya terhadap Sang Pencipta.

Lalu bagaimana cara membuktikan penghambaan manusia kepada Allah ? Yakni, dengan menjalakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan – larangan-Nya. Sejatinya, seorang hamba yang bertakwa adalah representasi dari penghambaan manusia kepada Allah.  Sabagai contoh, Rasulullah menyikapi segala ujian dengan sabar. Nah, kesabaran Rasulullah adalah salah satu bukti dari penghambaan Rasul kepada Allah. Begitu pula kesabaran para sahabat merupakan bukti dari penghambaan mereka.

Kedua, manusia diciptakan sebagai mukallaf.  Artinya, tatkala seseorang telah balig maka dia dikenai tanggungan atau kewajiban untuk menjalakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Taklif sendiri sudah tentu memuat kesulitan dan tantangan masing – masing.

Mengapa harus ada kesulitan ? Coba bayangkan, apabila manusia hidup penuh nikmat, semua kebutuhan terpenuhi, tidak ada cobaan dan ujian maka dalam kondisi ini manusia tidak bisa membuktikan penghambaannya terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, manusia haruslah diberi perintah dan larangan (taklif).

Ketiga, membedakan antara mereka yang beriman dan yang berdusta. Andaikata  cinta kepada Allah hanya dinilai lewat mulut maka tidak akan tampak jelas perbedaan antara yang beriman dan berdusta.   Namun, dengan adanya cobaan serta ujian maka keduanya akan menjadi takaran yang membedakan antara ke dua kelompok tadi.

Baca Juga :  Belajar dari Akhlak dan Strategi Dakwah Nabi

Allah berfirman dalam QS. Al Ankabut ayat 2-3 : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang – orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Orang yang benar – benar beriman, sudah tentu akan melewati kesulitan – kesulitan ini sesuai dengan tuntunan agama. Berbeda dengan orang yang berdusta. Mereka cenderung terbawa hawa nafsu, tergoda, membangkang hingga melanggar hukum.

Selain itu, al-Buthi menuturkan bahwa kesengsaraan yang Rasulullah alami merupakan kasih sayang terhadap umatnya. Rasulullah bisa saja berdoa agar beliau dijauhkan dari segala kepedihan dan penderitaan, dan Allah tentu akan mengabulkannya. Namun Rasul tidak melakukan itu, sebab para da’i setelah beliau wafat sudah tentu akan menghadapi tantangan yang tidak mudah.

Andaikata para pendakwah diuji dengan kesulitan ekonomi, maka Rasulullah telah mengalami hal itu, bila mereka diuji dengan diusir dari tanah air, maka Rasulullah sudah mengalami hal itu. Dan bila mereka mendapat hujatan cercaan maka Rasulullah pun telah mengalami hal itu. Dengan begitu, Rasulullah menguatkan hati umatnya yang begitu beliau sayangi.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here