Al-Suyuthi Kritik Orang yang Mengaku Ulama Hanya dengan Bekal Ilmu Sedikit

0
421

BincangSyariah.Com –  Imam al-Suyuthi dalam mukadimah Tadrib al-Rawi mengkritik ulama pada masanya yang mengaku sebagai ulama ahli hadis hanya dengan bekal ilmu sedikit dan seadanya. Padahal bekal ulama ahli hadis menurut Imam al-Suyuthi itu sangat ketat.

Imam al-Suyuthi mengutip pendapat imam Tajuddin al-Subki yang menyebutkan kriteria ulama ahli hadis. Di antaranya ulama tersebut harus mengetahui ilmu sanad. Ilmu ini berguna untuk mengetahui rawi-rawi hadis, apakah ada keterputusan informasi antara guru-murid ataukah tidak. Selain itu, ulama hadis juga seharusnya mengetahui ilmu tentang ‘illat (kecacatan) dalam sebuah hadis.

Tidak hanya itu, ulama hadis juga harus mengetahui nama dan biografi para rawi hadis, sanad ‘ali dan nazil. (Baca: Fudhail bin ‘Iyadh: Ahli Hadis yang Pernah Rasakan Mabuk Cinta)

Di samping itu, dia juga harus mengerti ilmu matan hadis, sudah pernah mengkaji enam kitab hadis induk (al-kutub al-sittah), seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.

Di sisi lain, ulama itu juga harus sudah pernah mengkaji Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan al-Baihaqi, dan Mu’jam al-Thabrani. Menurut Tajuddin al-Subki, ini baru tingkatan dasar ulama ahli hadis.

Oleh karena itu, imam al-Suyuthi mengutip pendapat al-Taj bin Yunus dalam syara al-Ta’jiz, “Orang yang hanya mengandalkan pengajian yang didapat dari gurunya tanpa adanya penalaran dengan ilmu yang memadai itu bukan orang alim.”

Lebih keras lagi, imam al-Suyuthi mengkritik orang yang mengaku ulama, tapi hanya dengan bekal ilmu sedikit. Ia bilang begini:

إِنْ سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فِي الْمُصْطَلَحِ لَمْ يَهْتَدِ إِلَى جَوَابِهَا، أَوْ عَرَضَتْ لَهُ مَسْأَلَةٌ فِي دِينِهِ لَمْ يَعْرِفْ خَطَأَهَا مِنْ صَوَابِهَا، أَوْ لَوْ تَلَفَّظَ بِكَلِمَةٍ مِنَ الْحَدِيثِ لَمْ يَأْمَنْ أَنْ يَزِلَّ فِي إِعْرَابِهَا، فَصَارَ بِذَلِكَ ضُحْكَةً لِلنَّاظِرِينَ، وَهُزْأَةً لِلسَّاخِرِينَ

Baca Juga :  Reinterpretasi Riwayat Dengan Mempertimbangkan Konteks Adat dan Budaya, Mungkinkah?

Artinya:

Jika ditanya tentang istilah (ilmu hadis), ia tak dapat menjawabnya. Ia pun tak sanggup membedakan mana yang benar dan salah mengenai permasalahan agama yang diajukan padanya. Selain itu, jika ia mengucapkan satu kata dari hadis Nabi, ia pun tak aman dari kekeliruan masalah i’rab (gramatik Arab). Karena itu, ia menjadi lelucon bagi yang melihat dan cemoohan bagi yang merendahkannya.

Dari pernyataan imam al-Suyuthi di atas, kita memahami bahwa standardisasi seorang ulama itu memang sangat ketat. Oleh karena itu, janganlah kita menyampaikan suatu ilmu yang belum kita kuasai. Apalagi kita sampai mengaku sebagai ahli agama, ustadz, atau bahkan ulama. Mirisnya lagi, dengan bekal ilmu sedikit, kita berani menyalahkan ulama yang memang benar-benar keilmuannya mendalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here