Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 15-16; Kriteria Menjadi Mukmin yang Sempruna

1
1440

BincangSyariah.Com – Allah Swt. memberikan posisi spesial kepada kaum mukmin. Dan untuk bisa menjadi mukmin yang lebih sempurna, Allah Swr. berfirman:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ . تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Innamā yu`minu bi`āyātinallażīna iżā żukkir bihā kharr sujjadaw wa sabbaḥụ biamdi rabbihim wa hum lā yastakbirn. Tatajāfā junbuhum ‘anil-maāji’i yad’na rabbahum khaufaw wa ama’aw wa mimmā razaqnāhum yunfiqn.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagiandari  rezki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S.al-Sajdah: 15-16) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 12-14; Berbuat Baik Sebelum Menyaksikan Keputusan Tuhan di Akhirat)

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir mengarahkan maksud menyungkur dengan arti:

والخرور: الهوي من علو إلى سفل

“Menyungkur adalah turun dari atas ke bawah.”

Ibnu ‘Asyur mengartikan sujud ke dalam arti meletakan kening di atas bumi. Lain halnya dengan Ibnu ‘Asyur, Ibnu Abas memberikan arti lain sebagaimana disampaikan oleh Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith:

وقال ابن عباس : السجود هنا بمعنى الركوع

“Dan Ibnu Abas berpendapat bahwa arti sujud dalam ayat ini adalah ruku’.”

Ibnu Katsir memberikan arahan lain dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir terhadap makna menyungkur sujud dengan arti mendengarkan dan mengikuti kandungan ayat tersebut, baik  dalam perkataan maupun perbuatan.

Abu Hayan al-Andalusi mengartikan kata jauh dalam kalimat Lambung mereka jauh dengan makna mengangkat dan menyingkirkan. Dan Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir memahami kalimat Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya merupakan perumpamaan (kinayah) dari banyaknya ibadah di malam hari.

Berdo’a yang dimaksud ialah memohon menurut Abu Hayan al-Andalusi dan ia menampilkan pendapat lain dalam mengartikanya:

وقيل : الصلاة

“Dan disampaikan (oleh ulama lain artinya) shalat.”

Imam al-Thabar dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan  pendapat sebagian ulama tafsir tentang sebab turunnya ayat di atas, dalam karyanya sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat tersebut di turunkan kepada nabi Muhammad Saw. dengan latar belakang adanya kaum munafiq keluar dari masjid di saat shalat didirikan. lain halnya dengan penyampaian dalam Tafsir al-Thabari, Ibnu Abas memberikan pandangan lain tenang sebab diturunkanya ayat di atas sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Suyuti dalam karyanya al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur:

قال : نزلت هذه الآية في شأن الصلوات الخمس

Baca Juga :  Kisah Imam Ahmad bin Hanbal Dipermainkan Penjual Labu

“Ibnu Abas berpendapat bahwa ayat ini di turunkan dalam masalah shalat lima waktu.”

Allah Swt. memuji kepada kaum mukmin dengan sifat yang terpuji. Di saat mereka mendapatakan nasihat dan dibacakan ayat-ayat Allah Swt. maka mereka menyungkur bersujud (atau ruku’) sebagai rasa syukur atas ilmu dan iman dengan merasa hina, mengagungkan kepada Tuhannya dan bertasbih dan memuji kepada-Nya serta tidak menyombongkan diri. Abu Hayan al-Andalusi menyebutkan dalam karyanya al-Bahru al-Muhith:

وهذه السجدة من عزائم سجود القرآن

“Sujud ini adalah niat teguh dari sujud al-Qur’an.”

Lain halnya dengan kaum mukmin, orang-orang kafir yang selalu berpaling dari-Nya, mempersekutukan dan mengsifati Tuhan dengan kekurangan, berkata keji dan kotor serta angkung menyombongkan dirinya.

Imam al-Thabari dalam karyan Tafsir al-Thabari mengarahkan ketidakadaanya penyombongan diri dari kaum mukmin yang di maksud ialah saat mereka melakukan sujud tersebut.

وهم لا يستكبرون عن السجود له والتسبيح، لا يستنكفون عن التذلُّل له والاستكانة

“Mereka (kaum mukmin) tidak menyombongkan diri dari sujud dan tasbihnya kepada Tuhan  dan tidak berhenti merasa hina dan tunduk kepada-Nya.”

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir berkata:

{وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ} موضع سجدة من سجدات تلاوة القرآن رجاء أن يكون التالي من أولئك الذين أثنى الله عليهم بأنهم إذا ذكروا بآيات الله سجدوا، فالقارئ يقتدي بهم.

(Mereka tidak menyombongkan diri) pada tempat sujud saat melakukan sujud tilawah, dengan harapan pelaku termasuk golongan orang-orang yang Allah Swt. puji (dengan pujian-Nya) ketika mereka diperingatkan dengan ayat-ayat Allah Swt. mereka bersujud. Oleh karenanya pembaca mengikuti mereka (orang-orang yang dipuji).”

Lain halnya dengan Imam al-Thabari, Imam al-Suyuti menyampaikan:

{وهم لا يستكبرون} عن اتيان الصلوات في الجماعات

“(Mereka tidak menyombongkan diri) dari melakukan shalat berjama’ah.”

Pujian lain dari Tuhan kepada kaum mukmin dari ayat di atas (Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya) ialah mereka yang selalu melakukan ibadah malam hari (Qiyamullail) dan menurut pendapat lain adalah mereka yang melakukan shalat Awwabin (shalat di antara shalat Magrib dan Isya’) sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu katsir:

يعني بذلك: قيام الليل، وترك النوم والاضطجاع على الفرش الوطيئة

Baca Juga :  Ketika Kiai-kiai NU Berdiskusi dengan Ulama Wahabi

“Yang dikehendaki dengan Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya adalah melakukan ibadah malam hari dan meninggalkan tidur dan berbaring di atas alas (kasur) yang lunak (empuk).”

وقتادة: هو الصلاة بين العشاءين

“Qatadah (mengartikan) melakukan shalat (Shalat Awwabin) di antara Maghrib dan Isya’.”

Oleh karenanya Anas bin Malik memahami bahwa ayat tersebut diturunkan dalam (masalah) para shahabat nabi yang melakukan shalat di antara shalat magrib dan Isya’

Ibnu katsir menyampaikan pendapat lain tentang prilaku kaum mukmin yang mendapatkan pujian dari Tuhan pada ayat tersebut:

وعن أنس أيضًا: هو انتظار صلاة العتمة — وقال الضحاك: هو صلاة العشاء في جماعة، وصلاة الغداة في جماعة

“Dan dari Anas adalah (mereka) menunggu shalat Isya’. Dlahak berpendapat ialah (melakukan) shalat Isya’ dan Shubuh berjama’ah.”

وقال آخرون: عنى بها صلاة المغرب

“Ulama lain menghendaki (ayat tersebut) ialah (mereka) yang melakukan shalat maghrib.” (Tafsir al-Thabari)

Di sisi lain, dari ayat di atas sebagai seorang mukmin hendaknya selalu memohon kepada-Nya serta menafkahkan hartanya di jalan Allah Swt. sebagai bentuk penunaian kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Siraj al-Munir menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Asma’ bin Yazid bahwa nabi Saw. berkata:

إذا جمع اللّه الأولين والآخرين، جاء مناد، فنادى بصوت تسمعه الخلائق كلّهم: سيعلم أهل الجمع اليوم من أولى بالكرم، ثم يرجع فينادي: ليقم الذين كانت تتجافى جنوبهم عن المضاجع، فيقومون، وهم قليل، ثم يرجع، فينادي: ليقم الذين كانوا يحمدون اللّه على كل حال في السرّاء والضّرّاء، فيقومون وهم قليل، فيسرّحون جميعا إلى الجنة، ثم يحاسب سائر الناس

“Ketika orang-orang terdahulu dan akhir telah dikumpulkan, datanglah sesosok yang berkumandang dengan suara yang didengar oleh semua makhluk dan berseru; “Mereka yang dikumpulkan di hari ini akan mengetahui siapa yang paling mulia. Berdirilah orang-orang yang Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya!.” Lalu mereka berdiri dengan jumlah yang sedikit. Kemudian berseru kembali “Berdirilah orang-orang yang memuji Allah Swt. dalam setiap suasana, (baik dalam) keadaan bahagia maupun susah.” Lalu mereka berdiri dengan jumlah yang sedikit. Kemudian mereka semua diberangkatkan ke surga, lalu manusia lainya di hisab.”

Dari pemaparan ayat di atas dapat di ambil beberapa hikmah sebagaimana disampaikan oleh para ulama tafsir seperti Wahbah al-Zuhaili dan lainya dalam karyanya al-Tafsir al-Munir dan lainya sebagainya:

Baca Juga :  Ini Alasan Ulama itu Harus Berumur Empat Puluh Tahun

Pertama, seorang mukmin hendaknya menyungkur bersujud mengagungkan ayat-ayat-Nya, merasa takut atas siksaan-Nya dan bertasbih serta bertahmid sebagai bentuk penyucian kepada Tuhan atas ucapan orang-orang musyrik. Oleh karenanya ulama fiqh memberikan hukum sunah melakukan sujud tilawah, yaitu sujud yang dlakukan saat membaca atau mendengar beberapa ayat-ayat dalam al-Qur’an.

وسجود التلاوة سنة للقارىء والمستمع. وهي أربعة عشر سجدة: سجدة في الأعراف، وسجدة في الرعد، وسجدة في النحل، وسجدة في سبحان، وسجدة في مريم، وسجدتان في الحج، وسجدة في الفرقان، وسجدة في النمل، وسجدة في ألم تنزيل، وسجدة في فصلت، وسجدة في النجم، وسجدة في إذا السماء انشقت، وسجدة في اقرأ

“Sujud Tilawah disunahkan bagi pembaca dan pendengar. Dan sujud ini berada pada empat belas (tempat) sujud yaitu sujud pada surah al-A’raf, al-Nahl, kalimat Subhana, surat al-Maryam, dua sujud pada surah al-Haj, satu sujud pada surah al-Furqan, al-Naml, Alam Tanzil (al-Sajdah), Fasholat, al-Najm, pada surah Idzasamaa’un Syaqqat, dan satu sujud pada surah Iqra’.” (al-Tanbih fi al-Fiqh al-Syafi’i)

Kedua, seorang mukmin hendaklah berkarakter tidak menyombongkan atas ibadahnya. Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan:

ومن لا يستكبر عن عبادته فهو المؤمن حقاً

“Barang siapa tidak sombong atas ibadahnya maka ia termasuk mukmin yang hak (sempurna).”

Ketiga, seorang mukmin hendaklah selalu melakukan shalat malam atau Tahajud pada sepertiga malam terakhir.

Keempat, mukmin hendaklah melakukan Shalat Awwabin atau shalat di antara waktu shalat Maghrib dan Isya.

Kelima, berdo’alah seorang mukmin kepada Tuhannya siang dan malam dengan hati yang penuh ketakutan atas siksaan-Nya serta berharap rahmat dan balasan pahala.

Keenam, bersedekahlah seorang mukmin atas sisa dari hartanya setelah kewajiban zakat terpenuhi.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here