Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 4-6; Masa Penciptaan Alam Semesta

1
87

BincangSyariah.Com – Langit, bumi dan alam semesta beserta isinya tidak lain wujud sebab adanya sang-pencipta. Allah Swt. menegaskan penciptaan alam semesta itu dalam firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ . يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ. ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Allāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, mā lakum min dụnihī miw waliyyiw wa lā syafī’, a fa lā tatażakkarụn. Yudabbirul-amra minas-samā`i ilal-arḍi ṡumma ya’ruju ilaihi fī yauming kāna miqdāruhū alfa sanatim mimmā ta’uddụn. żālika ‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-‘azīzur-raḥīm (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 1-3; Risalah Nabi Muhammad)

Artinya; “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudia Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang.” (Q.S.al-Sajdah: 4-6)

Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir mengartikan menciptakan dengan arti mewujudkan dan mengerjakan dengan sangat baik.

Enam hari yang dimaksud ialah hari minggu, senin, selasa, rabu, kamis dan Jumat sebagaimana penyampaian dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam al-Tahrir wa al-Tanwir Seorang penolongpun ialah seorang yang dituhankan, dan ditambahkan:

ومن لوازم حقيقة الولاء النصر والدفاع عن المولى

“Termasuk hal yang menjadi kelaziman penguasa (yang dituhankan) ialah memberikan pertolongan dan perlindungan kepada mereka yang dikuasainya.”

Seorang pemberi syafa’at dengan makna pemberi segala kebutuhan mulai dari menolak bahaya dan pemberi kemanfaatan.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan arti Urusan menurut pandangan para ulama, diantaranya Ibnu Abas mengartikanya sebagai kepastian Qadla dan Qadar. Lain halnya dengan Ibnu Abas, ulama lain mengartikanya sebagai wahyu. Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir mengartikan yang dimaksud dengan urusan ialah:

وهو مفيد لاستغراق الأمور كلها لا يخرج عن تصرفه شيء منها، فجميع ما نقل عن سلف المفسرين في تفسير {الْأَمْرَ} يرجع إلى بعض هذا العموم.

“Hal itu (urusan) ialah meliputi segala sesuatu, yang berarti semuanya tidak keluar dari aturan-Nya. Semua arti (urusan) yang diambilkan dari ahli tafsir terdahulu kembali pada sebagian keumumam (arti ini). ”

Abu Hayyan dalam al-Bahru al-Muhith menampilkan pendapat sebagian ulama lain dalam mengartikan urusan tersebut sebagai berikut:

Baca Juga :  Tumbuh-Tumbuhan di dalam Al-Qur'an

وقيل : يدبر أمر الشمس في طلوعها من المشرق وغروبها في المغرب  ومدارها في العالم

“(Disampaikan) mengatur urusan terbit dan tenggelamnya matahari dari timur hingga barat dan perputaranya di alam semesta.”

Imam al-Thabari menyampaikan pendapat ulama dalam memahami maksud dari kadarnya (lamanya) sebagai berikut :

Pertama, kadarnya ialah lamanya urusan tersebut turun dari langit dan kembali naik ke langit dalam masa satu hari yang diperkirakan seribu tahun dalam hitungan hari di dunia.

Kedua, lamanya ialah masa mengatur urusan tersebut dari langit diturunkan ke bumi hingga naik kembali ke langit dalam satu hari dari enam hari tersebut, lama satu hari itu diperkirakan seribu tahun dalam hitungan waktu di dunia.

Ketiga, artinya Allah SWT. mengatur urusan dari langit diturunkan ke bumi dalam satu hari, perkiraan lamanya mengatur ialah seribu tahun dalam hitungan waktu di dunia. Kemudian urusan tersebut naik kepada-Nya.

Keempat, artinya Allah SWT. mengatur urursan dari langit diturunkan ke bumi kemudian naik kepada-Nya, perkiraan urusan tersebut naik ialah seribu tahun dalam hitungan dunia.

Dari perselisihan di atas, Imam al-Thabari berkata :

وأولى الأقوال في ذلك عندي بالصواب قول من قال: معناه: يدبر الأمر من السماء إلى الأرض ثم يعرج إليه في يوم كان مقدار ذلك اليوم في عروج ذلك الأمر إليه، ونزوله إلى الأرض ألف سنة مما تعدون من أيامكم، خمسمائة في النزول، وخمسمائة في الصعود؛ لأن ذلك أظهر معانيه، وأشبهها بظاهر التنزيل.

“Pendapat paling utama (dari perselisihan tersebut) menurut saya ialah pendapat ulama yang menyatakan; Allah mengatur urusan tersebut dari langit diturunkan ke bumi kemudian naik kepada-Nya (semua itu) dalam satu hari, perkiraan satu hari tersebut dalam naiknya urusan kepada-Nya dan turunya ke bumi adalah seribu tahun dari hari kalian. Lima ratus tahun untuk menurunkan dan lima ratus tahun lainya untuk naik kembali kepada-Nya. Karena pendapat tersebut lebih jelas maknanya.”

Abu Hayyan dalam al-Bahru al-Muhith menampilkan dua pendapat dalam mengartikan yang ghaib dan yang nyata sebagai berikut:

والغيب الآخرة ، وَالشَّهادَةِ : الدنيا ، أو الغيب : ما غاب عن المخلوقين ، والشهادة : ما شوهد من الأشياء

“(Pendapat pertama) ghaib ialah akhirat dan nyata adalah dunia, (pendapat kedua) ghaib berarti sesuatu yang lenyap (tidak kelihatan) dari para makhluk dan nyata adalah sesuatu yang terlihat.”

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa Allah SWT. menciptakan langit, bumi dan seisinya dalam enam hari. Pada hari ketujuh Allah SWT. tidak menciptakan apapun oleh karenan (hari ketujuh) disebut dengan al-Sabtu yang berarti terputus. Dalam sebuah riwayat bahwa Allah SWT. menciptakan berbagai hal yang berbeda selama tujuh hari sebagaimana penjelasan dalam sebuah hadis:

Baca Juga :  Agar Hujan yang Turun Menjadi Rahmat

خلق الله التربة يوم السبت، وخلق الجبال فيها يوم الأحد، وخلق الشجر فيها يوم الاثنين، وخلق المكروه يوم الثلاثاء، وخلق النور يوم الأربعاء، وبث فيها الدواب يوم الخميس، وخلق آدم بعد العصر يوم الجمعة آخر الخلق، في آخر ساعة من ساعات الجمعة فيما بين العصر إلى الليل

“Allah SWT. menciptakan tanah (bumi) pada hari sabtu, gunung di bumi pada hari minggu, pepohonan di bumi pada hari senin, sesuatu yang tidak disukai pada hari selasa, cahaya pada hari rabu, menyebarkan binatang di bumi pada hari kamis dan menciptakan Adam setelah waku asar hari jum’at. Akhir penciptaan beradapada akhir waktu dari hari jum’at antara asar hingga malam.” (HR.Muslim).

إن الله خلق السموات والأرض وما بينهما في ستة أيام، ثم استوى على العرش في اليوم  السابع، فخلق التربة يوم السبت، والجبال يوم الأحد، والشجر يوم الاثنين، والمكروه يوم الثلاثاء، والنور يوم الأربعاء، والدواب يوم الخميس، وآدم يوم الجمعة في آخر ساعة من النهار بعد العصر، وخلقه من أديم الأرض، بأحمرها وأسودها، وطيبها وخبيثها، من أجل ذلك جعل الله من بني آدم الطيب والخبيث

“Allah SWT. menciptakan langit, bumi dan (segala) sesuatu di antara keduanya dalam enam hari, kemudian bersemayam di atas ‘Arsy di hari ketujuh. (Allah SWT.) menciptakan tanah (bumi) di hari sabtu, gunung di hari minggu, pohon di hari senin, sesuatu yang tidak disukai di hari selasa, cahaya dihari rabu, binatang di hari kamis, dan Adam di hari jum’at pada akhir waktu siang setelah asar. Penciptaanya (adam) dari permukaan tanah yang merah dan hitam, (tanah yang) bagus dan jelek. Oleh karena itu Allah SWT. menjadikan anak adam yang baik dan buruk.” (HR.Nasa’i).

Dari dua pemahaman berbeda tentang jumlah hari diciptakanya alam semesta oleh Tuhan yang diambilkan dari ayat dan hadis di atas, imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan:

ولهذا تكلم البخاري وغير واحد من الحفاظ في هذا الحديث، وجعلوه من رواية أبي هريرة، عن كعب الأحبار، ليس مرفوعا، والله أعلم

“Oleh karena ini (dua pemahaman yang berbeda), al-Bukhari dan lainya menjadikan hadis (tersebut) dari riwayat Abu Hurairah dari Ka’b al-Ahbar sebagai hadis yang tidak sampai kepada nabi.”

Imam al-Qurthubi menampilkan pendapat al-Hasan dalam memahami Enam hari yang dimaksudkan oleh Tuhan dalam menciptakan alam semesta ialah enam hari semestinya dari hari-hari di dunia. Pendapat lain juga disampaikan dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi :

وقال ابن عباس : إن اليوم من الأيام الستة التي خلق الله فيها السموات والأرض مقداره ألف سنة من سني الدنيا. وقال الضحاك : في ستة آلاف سنة ؛ أي في مدة ستة أيام من أيام الآخرة

Baca Juga :  Tafsir Al-Ghasyiah 17-20: Mengenal Allah dengan Tadabbur Alam Semesta

“Ibnu Abas berpendapat; sesungguhnya enam hari yang Allah SWT. menciptakan (alam semesta) langit dan bumi, kadar lamanya ialah seribu tahun dari tahun dunia. Al-Dhahak berpendapat; (kadar lamanya) dalam enam ribu tahun, berarti masa enam hari (tersebut) ialah (masa) hari akhirat.”

Allah bersemayam di atas ‘Arsy memberikan kesan seakan Tuhan bertempat yang sehingga Dia menyerupai makhluk-Nya. Oleh karena itu para ulama menjelaskan dan menegaskan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun “Tidak ada sesuatu apaun yang menyerupai Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat”  (Q.S.al-Syura: 11). Para pembesar ulama berkata :

من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر

“Barang siapa menyerupakan Allah SWT. Dengan makhluk-Nya maka kufur, dan barang siapa mengingkari sifat yang di tetapkan Allah SWT. Pada diri-Nya maka kufur.”

Dari sini Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir berkata:

وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

“Sifat yang ditetapkan Allah SWT. untuk diri-Nya dan utusan-Nya tidak ada keserupaan. Barang siapa menetapkan sesuatu yang disampaikan oleh ayat-ayat yang jelas dan hadis yang shahih kepada Allah SWT. sesuai cara (jalan) yang layak dengan keagungan-Nya serta meniadakan kekurangan dari-Nya maka menetapi jalan petunjuk (kebenaran).”

Dengan demikian bersemayam di atas ‘Arsy bagi-Nya adalah bersemayam namun tidak seperti dan meyerupai bersemayamnya selain Allah SWT. Sehingga tidak ada indikasi adanya kekurangan pada dzat dan sifat-Nya.

Ibnu ‘Asyur dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir menyampaikan pendapat lain dari ulama lain:

قد تأوله المتأخرون من الأشاعرة تأويلات، أحسنها: ما جنح إليه إمام الحرمين أن المراد بالاستواء الاستيلاء

“Para ulama muta’akhirin dari golongan Asy’ariyah mengartikanya. Arti yang paling baik ialah pendapat Imam Haramain bahwa sesungungnya yang dikehendaki bersemayam ialah menguasai.” Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here