Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 26-27; Sebab Kehancuran Umat-Umat Terdahulu

2
174

BincangSyariah.Com – Tidak henti-hentinya Allah Swt. memberikan nasihat dan pelajaran kepada makhluk-Nya. Berbagai hal yang disampaikan-Nya mengandung banyak hikmah dan petuah. Allah Swt. berfirman mengenai kehancuran umat-umat terdahulu:

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ أَفَلَا يَسْمَعُونَ . أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

A wa lam yahdi lahum kam ahlaknā ming qablihim minal-qurụni yamsyụna fī masākinihim, inna fī żālika la`āyāt, a fa lā yasma’ụn. A wa lam yarau annā nasụqul-mā`a ilal-arḍil-juruzi fa nukhriju bihī zar’an ta`kulu min-hu an’āmuhum wa anfusuhum, a fa lā yubṣirụn (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 25; Allah Akan Memutuskan Perselisihan Hamba-Nya)

Artinya: “Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)?. Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami mengahalau (awan yang mendung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?” (Q.S.al-Sajdah: 26-27)

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari mengartikan tidak menjadi petunjuk dengan makna tidak dijelaskan. Sebagaimana al-Thabari, Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tharir wa al-Tanwir memberikan arti yang hampir senada, yaitu tidak menjadi nasihat.

Kata mereka dalam kalimat bagi mereka diarahkan untuk para pendosa atau orang-orang yang telah disebutkan ayat-ayat Tuhan kepadanya, hal ini disampaikan oleh Ibnu ‘Asyur. Pemahaman hampir senada disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Kasir bahwa maksud mereka ialah para pendusta terhadap utusan-Nya.

Kata berjalan ditunjukan untuk mereka orang-orang mendustai para utusan, namun Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi memberikan dua arahan makna pada kata tersebut sebagai berikut:

” يَمْشُونَ فِي مَساكِنِهِمْ” يحتمل الضمير في” يَمْشُونَ” أن يعود على الماشين في مساكن المهلكين—إلى أن قال — ويحتمل أن يعود على المهلكين فيكون حالا، والمعنى: أهلكناهم ماشين في مساكنهم.

Berjalan di tempat-tempat kediaman mereka”, pelaku yang berjalan pada kalimat tersebut ialah mereka yang berjalan (melewati) pada kediaman kaum yang telah dibinasakan. Dapat juga diarahkan (pelaku) ialah para kaum yang telah dibinasakan. Artinya, Kami telah membinasakan mereka (para kaum) yang berjalan di tempat kediaman mereka”.

Imam al-Suyuti dalam karyanya al-Dur al-Mnatsur fi al-Tafsiri bi al-Ma’tsur menampilkan beberapa riwayat para ulama dalam mengartikan bumi yang tandus pada ayat di atas sebagai berikut: Pertama, Ibnu Abas mengartikanya tanah yang jarang sekali terkena hujan dan untuk kebutuhan tanah tersebut harus menadatangkan aliran air dari tempat lain. Kedua, dalam riwayat lain Ibnu Abas mengartikanya sebagai tanah Yaman. Ketiga, al-Mujahid memahaminya sebagai tanah yang diam (tidak dapat menumbuhkan sesuatu). Keempat, tanah tersebut adalah daerah antara Yaman dan Syam. Lain halnya dengan mereka, Ibnu Katsir memahaminya dengan tanah yang tidak terdapat tumbuhan sebagaimana firman-Nya “Menjadi tanah rata lagi tandus” (Q.S.al-Kahfi: 8), artinya tanah yang kering tidak dapat menumbuhkan apapun.

Allah Swt. memberikan sebuah pelajaran, petuah serta nasihat kepada orang-orang kafir tanah Makkah dengan adanya kaum-kaum terdahulu seperti kaum ‘Ad dan Luth yang telah mendustakan para utusan-Nya serta berpaling dari para rasul. Mereka (kaum ‘Ad dan Luth) semua telah dibinasakan oleh-Nya sebab kekufurannya, sedangkan orang-orang kafir tanah Makkah telah berjelajah, berdagang dan lain sebagaianya melewati tempat-tempat petilasan kaum-kaum terdahulu yang telah hancur tak menyisahkan apapun. Binasa dan hilangnya kaum-kaum terdahulu beserta rumah dan harta mereka, merupakan petuah untuk orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya. Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan:

سنتنا فيمن سلك سبيلهم من الكفر بآياتنا، فيتعظوا وينزجروا

“Sebagai sunah Kami, barang siapa mengikuti jejak mereka mengkufuri ayat-ayat Kami, maka ambilah nasihat (dari kisah mereka) dan berhenti (dari kekufuranya)”.

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir menyampaikan:

معنيين: أحدهما: إهلاك أمم كانوا قبلهم فجاء هؤلاء المشركون بعدهم، وذلك تمثيل للبعث وتقريب لإمكانه. وثانيهما: إهلاك أمم كذبوا رسلهم ففيهم عبرة لهم أن يصيبهم مثل ما أصابهم.

“Ada dua makna (dari ayat di atas), pertama: hancurnya umat-umat terdahulu telah terjadi sebelum orang-orang kafir (di masa rasul), hal itu kemungkinan besar akan melanda kepada mereka. Kedua: hancurnya umat-umat yang telah mendustakan utusan-utusan mereka, sebagai contoh bahwa mereka akan mendapatkan apa yang telah menimpa umat terdahulu.”

Berikutnya, Allah Swt. dengan keramahan, kelembutan dan kebaikan-Nya, Dia mendatangkan air dari langit atau dari pegunungan ke tanah yang membutuhkan air, contoh kecil aliran sungai Nil dari tetesan hujan tanah Habsyab di alirkan oleh-Nya ke tanah mesir dan pada akhirnya tumbuhan bermunculan dan dapat hidup di tanah tersebur.

Ibnu katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu katsir menyampaikan:

Dikisahkan saat terbukanya tanah mesir, para penduduk mendatangi ‘Amr bin ‘Ash sebagai pemimpin wilayah tersebut. Di masa itu sungai Nil kering tak berair. Mereka mendatangi ‘Amr dan berkata: “Ada tradisi persembahan untuk sungai Nil” lalu ‘Amr menyahut “Apakah itu?”. Kemudian mereka menjawab “Ketika sungai Nil telah kering selama dua belas hari pada bulan ini, kami akan mempersembahkan seorang gadis yang kami penuhi (pakaian) baju dan perhiasan terbaik lalu (gadis tersebut) kami masukan (persembahkan) ke sungai Nil”. ‘Amr bin ‘Ash berkata kepada mereka “Hal demikian tidak ada dalam islam dan islam telah menghapus tradisi orang terdahulu”. Singkat cerita, ‘Amr bin ‘Ash pada akhirnya mengirimkan surat kepada sayyidina Umar bin Khattab tentang kabar tersebut. Lalu Umar membalas surat tersebut kepada ‘Amr bin ‘Ash yang isinya adalah jawaban untuknya, yaitu “Apa yang telah kamu lakukan adalah benar dan aku mengirimkan untukmu selembar kertas yang ada di dalam suratku ini”. Dan isi kertas tersebut:

فإنك إن كنت إنما تجري من قبلك فلا تجر، وإن كان الله الواحد القهار هو الذي يجريك فنسأل الله أن يجريك. قال: فألقى البطاقة في النيل

Bila kau (sungai Nil) mengalirkan air (dengan tradisi orang sebelum-mu) maka janganlah kau mengalirkan air. Dan bila Allah yang Maha  Esa dan Kuasa adalah dzat yang mengalirkanmu (sungai Nil), maka aku memohon kepada-Nya untuk membuatmu mengalirkan air”.

Kemudian ‘Amr bin ‘Ash membuang (memberikan) selembar kertas dari Umar itu ke dalam sungai Nil dan hanya dalam waktu semalam, Allah dengan kekuasaan-Nya menjadikan sungai Nil penuh dengan air. Hal ini menunjukan bahwa Tuhan dengan kekuasaan-nya mampu membangkitkan makhluknya setelah mereka mati hancur binasa beserta tanah.

Dari pemaparan di atas, para ulama tafsir seperti halnya Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya Tafsir al-Munir dan ulama lainya memberikan kesimpulan atas beberapa hal penting yang dapat diambil dari ayat di atas, diantaranya:

Pertama, umat-umat yang telah binasa merupakan sebuah tanda atas kebesaran kekuasaan dan ke-Esaan Tuhan serta menjadi pelajaran dan petuah untuk orang-orang yang mengambil pelajaran dari kisah mereka orang-orang terdahulu.

Kedua, Allah Swt. mendatangkan air ke tanah yang tandus dan menumbuhkan tanaman yang hijau, hal ini menunjukan bahwa Dia dengan kekuasaanya mampu menghidupkan dan membangkitkan manusia dari kuburnya pada hari dibangkitkanya semua makhluk dan dikumpulkan di Hari Kiamat untuk dimintai pertanggung jawaban atas amal perbuatanya di dunia.

Ketiga, kemanfaatan dan bahaya ada di tangan Tuhan.

Wallahu A’lam.

 

2 KOMENTAR

  1. […] Artinya: “Dan mereka bertanya “Kapankah hari kemenangan itu (datang) jika kamu memang orang-orang yang benar?”. Katakanlah: “Pada hari kemenangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh”. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka (juga) menunggu” (Q.S.al-Sajdah: 28-30) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 26-27; Sebab Kehancuran Umat-Umat Terdahulu) […]

  2. […] Berkenaan dengan hukum rajam, hukuman semacam ini sebenarnya sudah diajarkan sejak umat Nabi Musa as. Sebab ajaran ini bisa kita lacak juga pada perjnjian lama. Maka hukum rajam bukanlah syariat yang baru diperkenalkan oleh umat islam, tetapi ajaran ini merupakan ajaran warisan dari umat terdahulu. (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 26-27; Sebab Kehancuran Umat-Umat Terdahulu) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here