al-Muqaddimah karya Ibn Khaldun: Proyek Epistemologi Pengetahuan dan Kebudayaan Islam

2
112

BincangSyariah.Com – Al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun sebagai sejenis karya mengenai epistemologi bukanlah barang baru di dunia Islam. Penulisan tentang epistemologi merupakan suatu hal yang biasa terjadi di kalangan para pemikir, termasuk di era Islam abad pertengahan. Al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun sebagai karya pengantar epistemologi yang mengulas suatu objek pengetahuan tertentu dengan pijakan epistemik dan metodologi tertentu bukanlah sesuatu yang unik.

Artinya, sebelum al-Muqaddimah ini, sudah banyak karya-karya besar yang memfokuskan perhatiannya pada apa itu dasar-dasar pengetahuan, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, sumber pengetahuan apa saja yang dianggap valid, instrument pengetahuan apa yang sekiranya bisa membawa kita kepada pemahaman yang utuh tentang objek pengetahuan. Ringkasnya, para pemikir Islam sudah banyak yang berkecimpung dalam dunia epistemologi.

Jadi sejak awal perkembangannya, kebudayaan Islam sudah mengenal proyek pembangunan epistemologi dalam berbagai cabang pengetahuan. Proyek pembangunan epistemologi ini dimulai dari masa kodifikasi pengetahuan pada abad kedua hijriah. Para ahli nahwu, dari semenjak awal perkembangannya, misalnya, membangun basis-basis pengetahuan tentang bahasa Arab berikut dengan otokritik terhadap hasil pengamatan berbagai aspek gramatikal bahasa Arab itu sendiri.

Hasil dari proyek ini ialah munculnya karya-karya monumental dalam filsafat nahwu seperti al-Ain karya Khalil bin Ahmad al-Farahidi, al-Kitab karya Imam Sibawaih atau al-Khasa’ish karya Ibnu Jinni. Karya-karya ini memiliki nilai epistemologi yang tinggi dan kajian linguistik yang luar biasa, bahkan mungkin melampaui tradisi penulisan tata bahasa Sansakerta oleh Panini di beberapa abad sebelumnya dan strukturalisme modern oleh Saussure dan Leonard Bloomfield di awal abad kedua puluh ini.

Para ulama Usul Fikih juga berusaha membangun metode induktif dalam kajian-kajian epistemiknya, dan barangkali usaha ini baru pertama kali diterapkan dalam pengamatan hukum sepanjang sejarah pengetahuan manusia.

Sedangkan kaum filosof Islam, meski karya-karya mereka tentang logika masih dalam bayang-bayang pengaruh Aristoteles, berusaha untuk melampaui kosmologi peripatetik tradisional, baik dalam ranah klasifikasi pengetahuan maupun dalam ranah mengkritik basis-basis pengetahuan. Ikhwan as-Shofa, misalnya, melalui risalah-risalah yang mereka tuliskan juga memiliki proyek pembangunan epistemologi yang unik. Usaha yang mereka lakukan ini cukup menyeluruh dan komperehensif.

Ini bisa kita lihat keluasan jangkauan pengetahuan mereka dalam risalah-risalah pengetahuan yang mereka tuliskan. Ikhwan as-Shafa dalam karya-karyanya ini berusaha mengkombinasikan filsafat, ilmu pengetahuan dan agama agar tercapai keselarasan antara rasio dan wahyu berbasis pada asas epistemologi yang kokoh. Epistemologi yang dibangun oleh Ikhwan as-Shofa ini berbasis pada upaya merasionalisasi ilmu-ilmu yang irasional agar bisa hidup berdampingan dan tanpa konflik yang cukup berarti dengan ilmu-ilmu yang rasional.

Perhatian terhadap epistemologi dalam kebudayaan Arab-Islam ini sebenarnya didorong oleh konflik epistemik antar berbagai aliran pengetahuan dalam Islam, baik dalam bidang tafsir, hadis, fikih, nahwu, ilmu kalam, maupun dalam bidang filsafat.

Dalam konflik pengetahuan ini, kita dihadapkan pada fenomena kemunculan berbagai macam mazhab dan aliran yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya dan di saat yang bersamaan pula saling bertubrukan dan berbenturan. Semua itu digerakkan oleh perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi yang dilakukan secara intense. Sebab itu, perdebatan itu sendiri dalam kebudayaan Arab Islam ini menjadi ilmu dan seni tersendiri yang bisa dipelajari.

Agar diskusi dan perdebatan berlangsung secara lancar, para pemikir Islam di masa itu menulis karya-karya mereka dengan susunan yang logis dan runut berbasis pada metodologi yang jelas. Biasanya metodologi ini dijelaskan di awal dalam bentuk pendahuluan (al-madkhal wal muqaddimat).

Karya-karya induk dalam bidang fikih, nahwu, kalam, filsafat dan seterusnya biasanya dimulai dengan pendahuluan tentang kerangka pengetahuan yang akan digunakan. Pendahuluan ini meliputi bahasan soal prinsip-prinsip, metode-metode, persoalan-persoalan yang akan didiskusikan. Ini misalnya kitab ar-Risalah yang ditulis Imam as-Syafi’i sebagai pengantar untuk kitab al-Umm. Kitab at-Tamhid fi Ilmil Kalam karya al-Baqillani, Ushuluddin karya Abdul Qahir al-Baghdadi, as-Syamil karya al-Juwaini semuanya ialah karya dalam bidang ilmu kalam yang pembahasannya selalu diawali dengan hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi.

Biasanya pendahuluan yang berisi bahasan epistemologi ini mengulas tentang pengetahuan, jenis-jenisnya, bagian-bagiannya, ilmu-ilmunya, metode-metodenya dan seterusnya…yang pada tahap selanjutnya, si pemikir langsung masuk ke persoalan inti yang hendak diulasnya.

Al-Muqaddimah yang ditulis oleh Ibnu Khaldun ini merupakan kelanjutan dari model penulisan epistemologi dalam kebudayaan Islam pada umumnya. Namun, dengan titik tekan berbeda. Ulama asy’ariyyah misalnya menulis pengantar epistemologis dalam karya-karya mereka tentang kalam yang meliputi aturan-aturan, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip pengetahuan yang bisa menjadi basis legitimasi bagi keabsahan keyakinan al-Asy’ariyyah.

Jadi epistemologi digunakan oleh Asy’ariyyah untuk melegitimasi keabsahan keyakinan aliran ini. Muktazilah juga melakukan hal yang sama. Secara ringkasnya, epistemologi dalam aliran Muktazilah dan Asy’ariyyah ditulis untuk kepentingan ideologi aliran.

Ibnu Khaldun memiliki keunikan tersendiri. Jika Asy’ariyyah menuliskan perangkat epistemologi untuk mendukung madzhabnya dari serangan-serangan lawan dalam berbagai karya mereka, Ibnu Khaldun justru lain. Ibnu Khaldun, ketika menulis epistemologi dalam al-Muqaddimah, berangkat dari ambisi untuk membangun suatu kerangka pengetahuan tersendiri, kerangka pengetahuan yang disebutnya sebagai ilmu umran. Sampai di sini, kita melihat bahwa Ibnu Khaldun berambisi untuk memberikan pondasi bagi ilmu baru yang dengannya sejarah dapat ditransformasikan dari yang sekedar deskripsi naratif belaka ke level ilmu pengetahuan tersendiri.

2 KOMENTAR

  1. […] Kualitas pertanyaan dan jawaban memang tidak melulu berkaitan dengan ambisi si subjek penahu. Semua itu terkadang berangkat dari perangkat pengetahuan atau perangkat epistemologi yang digunakan. Tak ayal, perangkat epistemologi yang digunakan Ibnu Khaldun sangat berbeda jauh dengan perangkat epistemologi yang kita gunakan saat ini. Perangkat epistemologi Ibnu Khaldun lebih luas dan menyeluruh dari yang kita miliki. (Baca: al-Muqaddimah karya Ibn Khaldun: Proyek Epistemologi Pengetahuan dan Kebudayaan Islam) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here