Tafsir Surah Al Mulk Ayat 28-30: Inilah Tiga Rahmat Allah

1
1561

BincangSyariah.Com – Rahmat Allah Swt. begitu luas terhadap manusia. Sangking luasnya kita tak akan mampu untuk merincinya. Meskipun murka-Nya juga tidak terelakkan bagi kita. Akan tetapi, dibanding rahmat atau murka-Nya, justru yang deras mengguyur kita adalah rahmat-Nya (Q.S. al-A’raf [7]: 156), sekalipun kita acapkali kufur nikmat.

Seakan murka-Nya tersembunyi dibalik kasih sayang-Nya. Di antara rahmat Allah yang diberikan kepada kita adalah Allah tetap memberikan kasih sayang-Nya meskipun kita lalai, Allah menambahkan rahmat-Nya tatkala kita dalam keadaan beriman, dan Allah swt mengalirkan sumber mata air kepada kita sebagai sumber kehidupan sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya Q.S. al-Mulk [67]: 28-30,

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَهْلَكَنِيَ اللّٰهُ وَمَنْ مَّعِيَ اَوْ رَحِمَنَاۙ فَمَنْ يُّجِيْرُ الْكٰفِرِيْنَ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ قُلْ هُوَ الرَّحْمٰنُ اٰمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ ࣖ

Katakanlah (Muhammad), “Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?” Katakanlah, “Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.” Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?” (Q.S. al-Mulk [67]: 28-30)

Tafsir Surah al-Mulk Ayat 28-30

Seruan Rasulullah saw. untuk mengajak beriman kepada Allah swt Yang Maha Esa dan meninggalkan sesembahan mereka yang tidak mendatangkan manfaat baginya ditolak mentah-mentah oleh orang kafir. Sebagai respon dari seruan itu, mereka berkata kepada sekelompoknya, “tunggu sajalah waktunya saat Tuhan kita membunuh atau mencelakakan Muhammad dan pengikutnya.” Lalu Allah swt berfirman kepada mereka dalam ayat ke-28.

Baca Juga :  Ini Tempat Pertama Rasulullah Berangkat untuk Isra Mi’raj

Adapun Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menafsiri kata araaitum sebagai istifham inkary (pertanyaan pengingkaran). Kata ini untuk menyangkal pengharapan mereka atas manfaat sesembahannya bahwa sesembahannya itu mampu mendatangkan manfaat dan pertolongan baginya, justru sebaliknya menimbulkan kedengkian dan rasa dendam baginya.

Penafsiran yang lain disampikan oleh Ibnu Katsir, beliau menafsirkan ayat ke-25 bahwa khallasu anfusakum (selamatkanlah diri kalian), karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan dari azab-Nya melainkan hanya bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Tiada gunanya pengharapan mereka untuk disegerakan azab-Nya. Sungguh ketetapan rahmat dan azab Allah telah pasti bagi siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Termasuk mereka pasti akan tertimpa pembalasan dan azab-Nya yang teramat pedih.

Pada ayat selanjutnya (ayat 29), Rasul saw. menyampaikan bahwa Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman dann kepada-Nyalah kami bertawakkal dalam segala urusan sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain (Q.S. Hud [11]: 123) fa’budhu wa tawakkal “Maka sembahlah dan bertawakkal lah kepada-Nya.” Sedangkan redaksi fasata’lamuna man huwa fi dhalalin mubin bermakna bahwa apakah kami (Rasul saw beserta pengikutnya) atau kalian (orang kafir) dan siapakah kesudahan yang baik di dunia maupun di akhirat nanti? Lalu al-Thabari menambahkan siapakah yang berjalan menuju kebenaran atau siapakah yang berpaling dari jalan yang lurus, sejatinya kita semua akan dikumpulkan bersama pada hari kiamat nanti.

Selanjutnya Ibnu Katsir menafsirkan redaksi ma’ukum ghauran dengan air itu meresap jauh ke dalam lapisan terdalam bumi sehingga tidak dapat dicapai dengan cangkul dan alat besi, tidak pula diraih dengan tangan-tangan perkasa. Lafaz ghair (kering) sendiri merupakan antonim dari al-nabi’ (menyemburkan). Maka, “siapakah yang mendatangkan air yang mengalir bagimu?” Pungkas firman Allah. Artinya hanya Allah lah yang mampu melakukannya, mampu mengalirkan sumber mata air itu bagi kehidupan manusia sesuai kadar kebutuhannya. Ada yang memerlukan secukupnya dan ada pula yang banyak. Maka segala puji dan karunia hanya Allah swt semata.

Baca Juga :  Fiddhah An-Nabawiyah; Pelayan Fatimah Putri Rasulullah SAW

Inilah Tiga Rahmat Allah

Dari ayat di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa rahmat Allah meliputi tiga hal, (1) Ia tetap memberikan rahmat/ kasih sayang meskipun manusia kufur nikmat, (2) Ia justru menambahkan rahmat-Nya tatkala manusia beriman dan bertawakkal kepada-Nya, (3) Ia mengalirkan mata air sebagai sumber kehidupan manusia. Sungguh betapa luasnya rahmat Allah swt dibanding murka-Nya, meskipun kita sering bermaksiat ketimbang taat, kufur ketimbang syukur. Semoga ketiga rahmat-Nya yang tersirat dalam ayat di atas patut direnungi bersama dan segera tidak kita sia-siakan dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here