Tafsir Surah Al Mulk Ayat 23: Inilah Tiga Alat Penalaran Manusia

0
509

BincangSyariah.Com – Manusia sebagai makhluk paling sempurna itu diberikan kelebihan untuk mengelola alam semesta raya ini. Kelebihan itu berupa penganugerahan tiga alat penalaran kepada manusia yaitu pendengaran, penglihatan, dan akal/hati sebagai piranti utama untuk mengemban tugas khalifah di muka bumi. Ketiga piranti penalaran tersebut juga menjadi entry point bagi masuknya ilmu ke dalam diri manusia itu sendiri sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. al-Mulk [67]: 23,

قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (Q.S. al-Mulk [67]: 23)

Tafsir Surah Al Mulk Ayat 23

Ayat ini dimulai dengan penyebutan nama Allah dalam bentuk dlamir huwa. Lafal dlamir huwa sebagai subjek (fa’il) disebut lebih dulu ketimbang predikatnya (fi’il). Mendahulukan subjek (fa’il) pada ayat ini karena ada alasan tertentu disebut dengan pengkhususan (takhshish). Maka, konteks pembicaraan ayat di aats bermakan bahwa hanya Allah sajalah yang menciptakan manusia beserta piranti penalarannya yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani/ akal. Selain alasan khusus tersebut, ayat ini pula mengandung gaya bahasa susun balik (uslub taqdim wa ta’khir) yaitu mendahulukan keutamaan dan keunggulan daripada yang lain. Sebagaimana disitir pada ayat di atas, kata sam’ (pendengaran) senantiasa lebih dulu disebutkan daripada kata abshar (penglihatan), baik dalam bentuk asli (mashdar), kata benda (isim) maupun kata kerja (fi’il).

Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, ayat ini menggambarkan berbagai macam nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada kita, di antaranya adalah tiga nikmat yang tanpa disadari telah kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati nurani/ akal. Ibnu Asyur menambahkan, ayat ini pula terkandung makna bahasa pengkhususan atau personal (qashr ifrad) yang bertujuan mematahkan perkataan orang kafir yang mempercayai bahwa patung-patung sesembahan mereka include tatkala manusia diciptakan Allah swt serta ikut memberikan indera pendengaran, penglihatan dan akal. (Baca: Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 22: Perumpamaan Orang Kafir dan Mukmin)

Baca Juga :  Amalan yang Buat Manusia Mulia di Hadapan Allah

Penciptaan manusia sebagaimana Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, murni hanya Allah yang menciptakan manusia dari sebelumnya tiada menjadi ada. Sedangkan ulama ahli tafsir menafsiri redaksi kata sam’a wal abshara wal af’idah secara beragam. Jika Ibnu Katsir lebih menafsirkan kata abshar dengan ‘uqul (akal), dan af’idah dengan idrak (pemahaman). Maka al-Qurthuby menggabungkan makna ketiganya dengan qulub yaitu hati. Ibnu Asyur menafsirkan kata sam’ dengan indera pendengaran, abshar dengan ‘ain (mata), dan af’idah dengan qulub (hati), tetapi makna yang dikehendaki dari af’idah adalah ‘uqul (akal).

Tiga Alat Penalaran Manusia

Ketiga indera tersebut ini disebutkan secara bersamaan dalam Al-Qur’an dan berurutan pada ayat berikut: al-Nahl [16] ayat 78, al-Isra’ [17] ayat 36, al-Mu’minun [23] ayat 78, al-Sajdah [32] ayat 9, al-Ahqaf [46] ayat 26 dan al-Mulk [67] ayat 23. Bila diperhatikan ungkapan Al-Qur’an dalam menjelaskan ketiga pendengaran tersebut menggunakan uslub yang berbeda. Kata al-sam’ dalam bentuk tunggal, abshar dan af’idah dalam bentuk plural.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dipaparkan bahwa pendengaran dan penglihatan adalah mukjizat besar dan entry point (titik masuk) segala informasi dan pengetahuan yang dimiliki manusia. Melalui dua indera tersebut, kebesaran dan keagungan ciptaan-Nya dapat dinikmati dan diteliti oleh manusia sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan sains. Sedangkan hati sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Qur’an sebagai kekuatan untuk memahami dan mengetahui hal-hal yang bersifat abstrak dan keyakinan. Maka barang siapa yang tidak menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati/akal sebagaimana mestinya (mencari keridhaan Allah) akan sia-sia, dengan kata lain ia termasuk orang yang merugi karena tidak dapat mengambil manfaat dari ketiga piranti penalaran tersebut.

Penafsiran berbeda datang dari al-Maraghi, ia berpendapat pendengaran merupakan alat untuk mendengarkan nasihat dan hikmah, sedangkan penglihatan untuk melihat keelokan ciptaan Allah swt dan hati berfungsi untuk bertafakkur atas keagungan ciptaan-Nya. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar melihat bahwasannya dua nikmat (pendengaran dan penglihatan) merupakan jembatan penghubung antara manusia dengan dunia luar, dan hati/ akal lebih kepada mengolah informasi sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan dan perkembangan peradaban manusia.

Selanjutnya bila dicermati kata af’idah selalu diletakkan belakangan dan selalu dalam bentuk plural kecuali pada surah al-Isra’ ayat 36. Kata af’idah adalah bentuk jama’ dari fuad. Al-Zamakhsyari memaparkan kata af’idah merujuk pada sesuatu yang sedikit, tidak seperti abshar yang menujuk pada sesuatu yang banyak. Af’idah bermakna sesuatu yang sedikit sebab hati diciptakan untuk memahami hakikat dan keyakinan, sementara kebanyakan manusia memiliki hati namun disibukkan dengan perkara yang sia-sia, seakan-akan hati mereka bukanlah hati yang sesungguhnya, karenanya kata af’idah dalam bentuk plural menunjukkan pada sesuatu yang sedikit.

Pada redaksi berikutnya qalilan maa tasykurun, Ibnu Katsir menafsirkannya bahwa manusia itu amat sedikit menggunakan kemampuan dan kekuatan yang telah dianugerahkan-Nya kepada manusia untuk ketaatan dan mengerjakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Ibnu Asyur, al-Thabari dan al-Baghawi menyebut ketiga nikmat itu merupakan kenikmatan yang besar bagi manusia, akan tetapi sedikit sekali mereka yang mensyukurinya.

Baca Juga :  Mimpi Gigi Copot dan Maknanya Menurut Ulama

Demikian ungkapan Al-Qur’an tentang tiga indera manusia yang digunakan untuk menalar setiap pengetahuan yang sampai pada kepadanya. Tiga penalaran tersebut merupakan nikmat pemberian Allah kepada manusia yang harus disyukuri dengan sebanyak-banyaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here