Al-Maqrizi dan Soal Perseteruan Bani Umayyah-Bani Hasyim

2
1622

BincangSyariah.Com – Dalam salah satu ceramahnya, Kang Jalal, Ketua IJABI, pernah mendiskusikan buku menarik yang ditulis al-Maqrizi yang berjudul an-Niza’ wa at-Takhashum Baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim. Kang Jalal lewat pembacaannya terhadap buku ini berkesimpulan bahwa konflik yang terjadi antara Sunni dan Syiah sebenarnya bermula dari konflik bermotif kesukuan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim.

Konflik pada tataran kesukuan, kata al-Maqrizi seperti yang dibaca oleh Kang Jalal, pada tahap selanjutnya berubah menjadi konflik Sunni dan Syiah dimana yang pertama merupakan kelanjutan dari Bani Umayyah dan yang kedua merupakan perpanjangan tangan dari Bani Hasyim.

Sampai pada titik ini, Kang Jalal kemudian mengatakan bahwa Syiah merupakan pihak yang mendukung Bani Hasyim, atau sebut saja pendukung Ahli Bait Nabi dan Sunni merupakan pihak yang mendukung Bani Umayyah yang sedari awal mulai dari masa Jahiliyyah sampai  masa-masa awal kemunculan Islam menjadi musuh bagi Nabi, dan karenanya musuh bagi Bani Hasyim.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari ceramahnya ini ialah kenyataan bahwa Sunni merupakan aliran Islam yang tidak menjadikan Ahli Bait Nabi sebagai referensi utama dalam pengalaman keagamaan. Sementara itu, secara politik Sunni lebih mendukung Bani Umayyah ketimbang Ahli Bait.

Lewat penjelasan ini, jelaslah bahwa Kang Jalal sedang membaca al-Maqrizi dari kerangka referensi Syiah, bukan membaca al-Maqrizi secara al-Maqrizi sendiri, sehingga yang muncul dalam pemikirannya ialah pandangan-pandangan al-Maqrizi sendiri yang seolah seperti mendukung aliran Syiah, terutama ketika yang disampaikan oleh al-Maqrizi ialah keburukan-keburukan Bani Umayyah.

Pandangan demikian memang tidak hanya dipegang oleh Kang Jalal seorang, namun ada juga ulama lain dari kalangan Syiah yang mencoba menyeret al-Maqrizi sebagai sejarawan yang pro syiah.

Agaknya pandangan demikian cukup berlebihan dan mungkin hasil dari pembacaan yang kurang tuntas mengingat bahwa buku ini di awal-awal pembahasannya memang menyajikan fakta tentang kejelekan-kejelekan Bani Umayyah mulai dari Abu Uhaihah, Uqbah bin Abi Mu’ith, al-Hakam bin Abi al-Ash (yang dilaknat dan diusir oleh Nabi), Marwan bin al-Hakam, Utbah bin Atabah, al-Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi’ah, Mu’awiyah bin al-Mughirah sampai Abu Sufyan bin Harb. Mereka semua ini adalah penantang dakwah Nabi.

Kalau membaca sampai di sini, akan timbul kesalahpahaman bahwa al-Maqrizi ini pro Syiah. Padahal di akhir pembahasannya, buku ini menyajikan tentang bagaimana Nabi, Abu Bakar, Umar dan Uthman menjadikan Bani Umayyah sebagai orang kepercayaannya untuk memegang posisi sebagai amil, gubernur atau komandan perang di wilayah yang sudah dikuasai oleh Islam.

Al-Maqrizi dalam bukunya, an-Niza’ wa at-Takhashum baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim, menjelaskan dengan sangat menarik beberapa faktor dan prasyarat objektif yang memungkinkan Bani Umayyah dapat mengalahkan Bani Hasyim terutama dalam soal merebut jabatan kekhilafahan.

Dalam kitabnya ini, al-Maqrizi memulai pembahasannya dengan pernyataan berikut:

أما يعد، فإني كثيرا ما كنت أتعجب من تطاول بني أمية إلى الخلافة …وأقول: كيف حدثهم أنفسهم بذلك، وأين بنو أمية وبنو مروان بن الحكم طريد رسول الله (ص) ولعينه من هذا الحديث، مع تحكم العداوة بين بني أمية وبني هاشم في أيام جاهيلتها وشدة عداوة بني أمية لرسول الله (ص) ومبالغتهم في أذاه وتماديهم على تكذيبه…إلى أن فتح مكة فدخل من دخل منهم في الإسلام كما هو معروف…فلعمري لا بعد أبعد مما كان بين بني أمية وبين هذا الأمر إذ ليس لبني أمية سبب إلى الخلافة ولا بينهم وبينها نسب…

Baca Juga :  Perlukah Pemimpin Islam Internasional?

Amma Ba’du, saya sungguh merasa heran terhadap Bani Umayyah yang sampai sukses memegang tampuk kekhilafahan…saya bertanya-tanya kenapa bisa begitu? Padahal apa berhaknya Banu Umayyah dan Banu Marwan bin al-Hakam yang pernah diusir dan dilaknat Nabi mendapatkan kekhilafahan Islam.

Lebih dari itu, di masa Jahiliyah, Bani Umayyah dan Bani Hasyim saling bermusuhan dan diperparah lagi dengan permusuhan Bani Umayyah terhadap Nabi serta usaha mereka dalam menyakiti dan mendustakan beliau…sampai kemudian mereka masuk Islam sebagaimana yang kita ketahui bersama…

Demi Allah, tidak ada jarak yang jauh selain Bani Umayyah dan kekhilafahan karena tidak ada prasyarat objektif yang memungkinkan mereka memperoleh kekhilafahan dan tidak ada nasab yang memberi justifikasi bagi mereka dalam mendapatkannya.”

Lewat penjelasan ringkas ini, sejatinya yang ingin dikemukakan buku ini ialah kenapa Bani Umayyah yang sedari awal merupakan musuh bagi dakwah Nabi malah dalam tahap selanjutnya dapat memegang tampuk kekhilafahan pasca wafatnya Nabi?

Kenapa Bani Hasyim seperti yang terwakili oleh Ali bin Abi Thalib yang terkumpul dalam dirinya karakteristik yang tepat untuk memegang kekhilafahan malah terhalang atau gagal meneruskan kekhilafahan?

Setelah itu, al-Maqrizi menyebutkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mengisi posisi kekhilafahan (seperti kekerabatan dengan Nabi, keterdahuluan masuk Islam dan wasiat – tentu bagi yang berpandangan bahwa Nabi mewasiatkan kepemimpinanya) yang semuanya itu terkumpul dalam diri Ali bin Abi Thalib.

Sementara itu, ‘Bani Umayyah tidak memiliki kriteria sedikitpun’ dalam hal ini karena mereka jika dilihat dari kedekatan suku dengan Nabi, keterdahuluan masuk Islam dan bahkan wasiat terbilang amat jauh.

Apalagi al-Maqrizi kemudian mengemukakan banyak contoh mengenai sikap-sikap permusuhan Bani Umayyah melawan Bani Hasyim di masa Jahiliah, sikap Bani Umayyah terhadap dakwah Nabi di masa munculnya Islam dan diperparah lagi dengan kepemimpinan Abu Sufyan dalam struktur hirarki Quraisy untuk memerangi Nabi SAW.

Semua ini dalam prasangka awal merupakan faktor terkuat bagi ketidakmungkinan Bani Umayyah memangku jabatan khilafah.

Setelah mengemukakan beberapa faktor objektif yang tidak memungkinkan bagi Bani Umayyah untuk mendapatkan tampuk kekuasaan yang besar seperti telah disebut di atas, al-Maqrizi kemudian mengatakan:

وما زلت طوال الأعوام الكثيرة أعمل فكري في هذا وأشباهه…إلى أن اتضح لي، والحمد لله وحده، سبب أخذ بني أمية الخلافة ومنعهم بني هاشم. وذلك أن أعجاز الأمور لا تزال أبدا تالية لصدورها والأسافل من كل شيئ تابعة لأعاليها وكل أمر كان خافيا إذا انكشف سببه زال التعجب منه…

Selama  beberapa tahun aku memikirkan masalah ini…sampai kemudian, dengan segala puji bagi Allah, tampak bagiku faktor objektif yang menjadikan Bani Umayyah dapat menggapai kesuksesan dalam memegang tampuk kekhilafahan dan faktor yang menyebabkan Bani Hasyim tidak memperoleh hak tersebut.

Hal demikian karena suatu persoalan tidak mungkin dapat dilacak tanpa mengetahui akar-akarnya. Setiap permasalahan pasti ada sebab dan akibatnya. Setiap hal yang masih kabur kemudian ketika ditemukan sebabnya akan hilang rasa herannya…

Baca Juga :  Prof. Quraish Shihab, Khalifah, dan Khilafah

Melalui kutipan ini, muncul sebuah pertanyaan: lalu apa sebab dan prasyarat objektif yang menyebabkan Bani Umayyah dapat mencapai kekhalifahan? Apa sebab dan faktor yang memungkinkan Bani Hasyim gagal dalam melanjutkan kekuasaan Nabi?

Al-Maqrizi tampaknya tidak mengandalkan kriteria kedekatan kekerabatan dengan Nabi, keterdahuluan masuk Islam dan wasiat sebagai prasyarat yang memungkinkan seseorang berhak menampuk jabatan kekhalifahan.

Namun lebih dari itu, al-Maqrizi memusatkan perhatiannya pada prasyarat yang memungkinkan Bani Umayyah memiliki pengaruh besar bagi wilayah-wilayah yang dikuasai Islam, yang salah satunya ialah superioritas dan supremasinya terhadap kabilah-kabilah Arab.

Dalam menjelaskan supremasi dan superioritas Bani Umayyah terhadap kabilah-kabilah Arab lainnya, al-Maqrizi kemudian menyebutkan banyak amil Nabi yang ditugaskan di Mekkah, Tha’if, Najran, Kindah, Yaman, Oman, Bahrain, Taymai, Khaibar, Fadak dan lain-lain yang semuanya  berasal dari Bani Umayyah dan aliansinya. Hal ini mengisyaratkan bahwa seolah kabilah-kabilah Arab tidak akan tunduk kecuali kepada hirarki teratas Quraiysh, Bani Umayyah.

Setelah menjelaskan banyaknya amil Nabi yang berasal dari Bani Umayyah, al-Maqrizi menegaskan:

فإذا كان رسول الله (ص) قد أسس هذا الأساس وأظهر بني أمية لجميع الناس بتوليتهم أعماله فيما فتح الله عليه من البلاد كيف لا يقوى ظنهم ولا ينبسط رجاءهم ولا يحتد في الولاية أملهم…

“Jika Rasul saja memberikan batu loncatan dan kesempatan bagi Bani Umayyah dengan menjadikan mereka amil-amilnya di negeri-negeri yang telah ditaklukkan Islam, maka bagaimana mungkin tidak kuat imaginasi mereka akan kekhilafahan..”

Sebaliknya, al-Maqrizi mengatakan bahwa Nabi tidak pernah menjadikan keluarganya dari Bani Hasyim sebagai amil untuk wilayah kekuasaan Islam di Jazirah Arab.

Fakta inilah yang membuat Ali bin Abi Thalib enggan menanyakan kepada Nabi terkait siapa yang bakal menjadi penggantinya nanti. Keengganan ini didorong oleh kekhawatiran Ali bin Abi Thalib sendiri yang jika menanyakan demikian maka jawabannya negatif atau tidak menguntungkan bagi Bani Hasyim.

Setelah menjelaskan berbagai peristiwa, kesempatan dan prediksi Nabi yang mengisyaratkan bahwa Bani Umayyah ke depannya akan mengisi posisi-posisi penting dalam kekhilafahan atau bahkan akan  mendapatkan kekhilafahan sendiri, al-Maqrizi kemudian memperkuat argumennya lagi dengan berkaca pada struktur kekhilafahan Abu Bakar:

وقد اقتدى برسول الله (ص) في ولاية الأعمال أبو بكر الصديق (رض) فإنه لما استخلف بعد رسول الله (ص) وارتدت العرب قطع (رض) البعوث وعقد أحد عشر لواء على أحد عشر جندا…

Dalam menugaskan para amil, Abu Bakar juga mengikuti kebijakan Nabi. Ketika menjadi khalifah Rasul dan ketika Arab mulai murtad, Abu Bakar menyerahkan mandat bendera perang untuk dua belas pasukannya.”

Lima komandan dari  dua belas pasukan perang ini, di antaranya ialah Khalid bin al-Walid, Ikrimah bin Abi Jahl dan al-Muhajir bin Umayyah dari Bani Makhzum, Khalid bin Said bin al-Ash dan Amru bin al-Ash dari Bani Umayyah. Mereka  merupakan komandan-komandan perang yang berhasil menumpas gerakan orang-orang Arab yang murtad dari Islam.

Baca Juga :  Masa Terputusnya Wahyu

Lebih jauh lagi ketika ingin menaklukan Irak dan Syam, Abu Bakar menugaskan Khalid bin al-Walid sebagai komandan pasukan perang di Irak dan Yazid bin Abi Sufyan sebagai komandan pasukan perang di Syam.

Kemudian Abu Bakar menambahkan lagi tentaranya di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khalid bin Sa’id bin al-Ash, Ikrimah bin Abi Jahl, Amru bin al-Ash dan al-Walid bin Uqbah.

Komandan-komandan penaklukan negeri Syam dan Irak ini kebanyakan dari Bani Umayyah (selain Bani Makhzum yang merupakan sekutu Bani Umayyah sejak zaman Jahiliyyah). Dan bahkan lebih tepatnya lagi, penaklukan Suriah atau Syam secara sukses dilakukan oleh Bani Umayyah dan sekutunya.

Seperti halnya Abu Bakar, Umar bin al-Khattab juga mengikuti jejak Nabi dalam memilih para amil, komandan ataupun gubernur. Oleh karena itu, kita juga akan melihat bagaimana amil-amil Umar di Mekkah, Tha’if, Yaman, Oman, Yamamah, Bahrain, Syam, Jazirah Arab dan Mesir semuanya berasal dari Bani Umayyah dan sekutunya seperti Bani Makhzum dan lain-lain.

Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai faktor-faktor objektif yang memungkinkan Bani Umayyah dapat menduduki tampuk kekhilafahan, al-Maqrizi menutup bab pembahasan tentang faktor-faktor ini dengan mengatakan:

فانظر كيف لم يكن في عمال النبي (ص) ولا في عمال أبي بكر وعمر (رض) أحد من بني هاشم. فهذا وشبهه هو الذي حدد أنياب بني أمية وفتح أبوابهم وأترع كأسهم وقتل أمراسهم.

Coba perhatikan, dari sekian amil Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak ada seorang pun yang berasal dari Bani Hasyim. Fenomena ini semakin memperkuat anggapan Bani Umayyah, imaginasi dan angan-angan mereka untuk menduduki kursi kekhalifahan

Dengan kata-kata lain, dengan meminjam bahasa kontemporer soal penjelasan al-Maqrizi mengenai sebab dan faktor yang memungkinkan Bani Umayyah dapat memegang tampuk kekuasaan dan dapat menyingkirkan saingannya dari Bani Hasyim:

Bani Umayyah sedari awal merupakan politikus ulung yang jago mengolah dan memimpin institusi, baik dalam level kesukuan maupun dalam level kenegaraan.

Sedari awal mereka disiapkan oleh Nabi, Abu Bakar dan Umar untuk menjadi birokrat negara di kemudian hari.

Dan memang, Muawiyah mampu mewujudkan itu. Di masanya dan masa setelahnya, ekspansi Islam diperluas sampai ke batas-batas negeri terjauh. Penaklukan Bizantium juga dimulai.

Meski demikian, kita tak boleh lupa bahwa Bani Umayyah merupakan contoh terbaik tentang bagaimana menggunakan agama untuk tujuan politik, contoh bagaimana agama bisa diperjualbelikan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Namun namanya juga politik, tidak mungkin bisa dikendalikan agama.

Simpulnya, al-Maqrizi dengan sangat berhasil menjelaskan bagaimana Bani Umayyah mampu mengisi posisi kekhalifahan berangkat dari karir cemerlang mereka di awal-awal masuk Islam.

Apa yang dikemukakan al-Maqrizi dalam kitabnya ini jika dibaca tanpa kerangka ideologis yang kita miliki akan dapat memberikan kesimpulan bahwa beliau merupakan sejarawan yang objektif, terlepas dari kecenderungan Syiah ataupun Sunni.

2 KOMENTAR

  1. Joss…!! Artikel yg bermutu..!
    Saya kira apa yg di simpulkan Al-Maqrizi sangat logis. Ini menunjukkan ketajaman,kecerdasan,dan kelihaian Al-Maqrizi dalam membaca dan menganalisa sejarah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here