Al-Madad dan Nadhrah dalam Ajaran Tasawuf

0
1335

BincangSyariah.Com – Di antara kita barangkali ada yang sering mendengar kata ‘al-madad’ dalam syair-syair atau kasidah zikir dan salawat. Ada kasidah populer yang berjudul al-Madad ya Rasulallah, Madad ya Maulana ya Husain, serta kumpulan zikir dan doa karya Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz yang berjudul Khulashah al-Madad an-Nabawi.

Al-Madad

Kata ‘al-madad’ dalam kamus Lisan al-Arab diartikan dengan ‘penolong’. Ibnu Mandzur mengatakan, kata “wa madadna al-qauma” (kita telah menolong sebuah kaum) artinya adalah “shirna lahum ansharan wa madadan” (kita telah menjadi penolong bagi mereka).

Menurut Yusuf Khaththar Muhammad dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah fi Bayani Adillati as-Shufiyyah, dari makna ‘al-madad’ tersebut bisa dipahami bahwa perkataan “madad ya Allah” artinya adalah, “tolonglah diriku dengan kekuatan-Mu, tolonglah diriku atas musuh-musuh-Mu, berilah aku tambahan rahmat dan berkah, dan tolonglah diriku agar bisa melakukan ketaatan serta memerangi nafsu dan setan”.

Kemudian kalimat “madad ya Rasulallah” menurut Ali Jum’ah bermakna “semoga Rasulullah memohonkan ampun dan mendoakan kepada Allah untukku”. Sedangkan menurut Yusuf Khaththar, “madad ya Rasulallah” bermakna “Mohonkanlah ampun diriku, dan ajari diriku ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu, atas izin-Nya”.

Adapun kalimat “madad ya Auliya’allah” menurut Yusuf Khaththar bermakna, “ajarilah kami ilmu yang telah diajarkan Allah kepada kalian, tolonglah kami dengan ilmu dan makrifat yang telah diberikan Allah kepada kalian,tolonglah kami dengan sesuatu yang bermanfaat untuk perjalanan kami, dan bimbinglah kami salam suluk menuju cinta Allah dengan seizin-Nya”.

Baca Juga :  Khutbah Idulfitri 1439 H: Menyemai Spirit Persaudaraan Islam dengan Idul Fitri

Madad dengan makna di atas tidak dilarang oleh agama, karena dalam realitas sehari-hari, kita sering menggunakan alat bantu transportasi, telekomunikasi atau yang lain untuk mempermudah kehidupan. Tentunya, kita lebih membutuhkan bantuan ketika menempuh jalan wushul kepada Allah, karena jalan tersebut sulit untuk ditempuh dan dikelilingi dengan perkara-perkara yang mengganggu, terutama kesenangan nafsu dan setan.

Dengan demikian, manusia akan selalu membutuhkan bantuan dari makhluk lain. akan tetapi madad dari Allah tentu tidak sama dengan madad dari makhluk. Selain itu, memberi pertolongan dalam setiap kebajikan adalah perbuatan yang diperintahkan, sebagaimana firman Allah dalam al-Maidah [05] : 02.

Al-madad dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu:

Pertama, madad yang murni dari Allah, sehingga yang bisa memberikan hanyalah Dia. Allah berfirman, “kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu. Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Q.S. al-Isra’ [17] : 20).

Menurut asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, kata “numiddu” dalam ayat di atas bermakna, “Aku akan menambahkan pemberian-Ku kepada masing-masing golongan, secara terus-menerus tanpa putus, Aku akan terus memberi rezeki kepada orang mukmin dan kafir, ahli ta’at dan ahli maksiat”.

Kedua, madad yang dikuasakan pada para Malaikat berupa kekuatan dan asrar yang telah diberikan Allah kepada mereka, atau pada para Nabi melalui mukjizat, dan para Wali melalui karamah.

Memohon Madad kepada Para Nabi dan Wali

Madad merupakan Nur Rabbani (cahaya ketuhanan) yang dilimpahkan Allah pada hati para Nabi dan Wali berupa rahmat, berkah dan asrar.

Siapa saja yang siap menerima limpahan nur tersebut dengan tanpa perantara, maka Allah akan melimpahkan secara langsung. Dan bagi yang tidak bisa menerima limpahannya kecuali dari makhluk sejenis, maka Allah akan melimpahkan melalui perantara para Nabi.

Baca Juga :  Etika Pendidik Perspektif K.H. Hasyim Asy’ari

Memohon madad kepada pada para Nabi dan orang-orang salih merupakan pengakuan atas keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita dalam beribadah, dan kesadaran bahwa kita belum sampai pada derajat ihsan. Sehingga kita membutuhkan bantuan Allah melalui para Nabi dan Wali, karena mereka memiliki kuantitas dan kualitas ibadah yang jauh melampaui kita, integritas, kejernihan hati, keikhlasan, makrifat dan kesempurnaan adab dalam beribadah.

Dalam surat an-Nisa ayat 64 Allah mengajarkan kepada kita adab memohon kepada Allah, dimana para sahabat yang melakukan dosa diperintahkan datang menemui Rasulullah, kemudian dirinya sendiri memohon ampun kepada Allah, kemudian mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang ahli atau tidak layak untuk mengajukan permohonan kepada Allah, kemudian mereka meminta kepada Rasulullah agar berkenan memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka.

Adab tersebut diajarkan, karena permohonan Rasulullah lebih layak utuk dikabulkan dari pada doa mereka sendiri.

Dengan demikian, memohon madad kepada orang yang lebih tinggi derajatnya sekaligus mengakui kelalaian diri sendiri dalam ibadah dan merasa do’anya tidak pantas mendapatkan ijabah, merupakan akhlak yang sesuai dengan anjuran al-Quran dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw.

Ketika seorang murid memohon madad dari syekhnya, maka yang dimaksud adalah hati syekh tersebut berpengaruh pada hati sang murid. Karena hati seorang syekh yang sempurna, bagi Allah, lebih baik daripada sinar matahari dan rembulan, sebab dirinya merupakan pewaris para Nabi.

Rasulullah bersabda:

…وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ…

“…Sesungguhnya keutamaan orang yang atas ahli ibadah, seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas bintang-bintang yang lain...” (HR. Abu Dawud)

Keutamaan orang alim bagaikan bulan purnama, sementara Nabi bagaikan matahari. Kita tahu, bahwa cahaya matahari akan berpengaruh terhadap rembulan, dan cahaya rembulaan akan berpengaruh terhadap bumi. Demikian pula, nur Nabi Muhammad akan berpengaruh terhadap hati para Wali, dan hati para Wali akan berpengaruh terhadap hati para murid.

Baca Juga :  Ini Ciri Hamba Allah yang Gagal Diuji Allah

Hati seorang mukmin mampu memberi pengaruh terhadap hati mukmin yang lain, sebab itulah, Rasulullah memerintahkan agar seorang mukmin bertemu dengan saudaranya dengan wajah yang ceria. Karena seorang mukmin akan mendapatkan madad dari saudaranya sesuai dengan kondisi lahiriahnya. Begitu pula ahli batin, mereka akan mendapatkan madad dari orang lain sesuai dengan kondisi batin mereka.

Nadhrah  

Jika al-Madad adalah meminta kepada Allah melalui perantara orang yang masih hidup atau telah meninggal, demikian pula dengan nadhrah. Nadhrah adalah memohon wasilah atau memohon pertolongan, sehingga yang dikehendaki dari kata nadhrah adalah, “lihatlah kami wahai Rasulullah, atau Wali Allah dengan pandangan rahmat dan pertolongan, dan syafa’atilah kami di sisi Tuhan agar memenuhi hajat kami”.

Dengan demikian, kata “nadhrah” semakna dengan “tolonglah kami wahai Muhammadku”, atau makna-makna semisal. []

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here