Al-Kilabi, Punggawa Ahlu Sunnah sebelum Abu Hasan al-Asy’ari

1
589

BincangSyariah.Com – Artikel ini dan beberapa artikel ke depan akan fokus mengkaji sejarah pemikiran Ahlu Sunnah wal Jamaah dalam bidang kalam. Tentu karena membahas persoalan sejarah pemikiran, kita harus memulai pembahasan dengan menentukan siapa peletak dasar ide-ide sekte Sunni di awal-awal atau sebut saja siapa saja pemikir-pemikir yang merintis pertama kali ilmu kalam versi Ahlu Sunnah.

Baiklah sebelum memulai ke inti pembahasan, kita kutipkan terlebih dahulu ulasan dari as-Syahrastani dalam kitabnya yang terkenal al-Milal wa an-Nihal mengenai ilmu Kalam. Sebelumnya telah disebutkan bahwa fokus utama kajian ilmu Kalam terletak pada persoalan zat, sifat dan af’al Allah Swt. Karena itu, as-Syahrastani mencoba melacak pemikiran awal Ahlu Sunnah soal ilmu Kalam dan menemukannya dalam konsep penegasan tentang adanya sifat-sifat Allah:

“Ketahuilah bahwa jumhur Salaf berkeyakinan akan adanya sifat-sifat azali (itsbat as-shifat) dalam zat Allah. Sifat-sifat ini meliputi sifat ilmu, hayat, qudrah, iradah, sama’, bashar, kalam, jalal, ikram, khulud, in’am, izzah dan azhmah. Jumhur salaf tidak membeda-bedakan antara sifat zat dan sifat af’al. Karena meyakini adanya sifat-sifat Allah yang melekat pada zatnya, ulama Salaf yang berkeyakinan demikian disebut sebagai golongan sifatiyyah. Sementara itu karena Muktazilah menolak pelekatan sifat-sifat terhadap zat Allah, mereka disebut sebagai golongan Mu’attilah.”

Pertanyaan kemudian siapakah tokoh-tokoh yang pertama kali merumuskan gagasan tentang itsbat as-shifat?

Jika kita akrab dengan teks-teks al-Milal wa an-Nihal, tokoh-tokoh yang mencetuskan teologi sifatiyyah ini ialah al-Kilabi, al-Qalansi dan al-Muhasibi. Mereka inilah tokoh-tokoh kalam Ahlu Sunnah awal-awal yang menghantam dan menyerang basis-basis keyakinan Muktazilah terutama keyakinan mereka mengenai ketiadaan sifat-sifat Allah (nufat sifat). Kelak Abu al-Hasan al-Asy’ari melanjutkan ide dan gagasan mereka secara lebih rapi dan runut sehingga terbentuk aliran yang disebut sekarang sebagai wakil dari Ahlu Sunnah, aliran Asy’ariyyah.

Baca Juga :  Manhaj Ulama Asy'ariyyah dalam Menyusun Ilmu Kalam

Kita akan mencoba fokus kepada sosok al-Kilabi terlebih dahulu. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Sa’id bin Kilab (w. 240 h). al-Kilabi di masanya merupakan punggawa Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah. Beliau inilah yang menjadi rujukan soal keyakinan Sunni. Imam al-Juwaini (w. 478 m) dalam kitabnya yang terkenal, al-Irsyad, menyebut al-Kilabi ini sebagai min ashabina (dari golongan kami).

Sementara itu, Tajuddin as-Subki dalam kitab Tabaqat as-Syafi’iyyah mengatakan bahwa Abdullah bin Said atau Abdullah bin Muhammad Abu Muhammad bin Kilab al-Qattan merupakan salah satu ulama otoritatif dalam ilmu kalam (ahadu aimmatil mutakallimin). Menariknya, Ibnu Taymiyyah dalam kitab Minhaj as-Sunnah dan Majmu’ah ar-Rasail wal Masa’il sangat mengagumi sosok al-Kilabi ini. Ibnu Taymiyyah dalam dua karyanya ini sering melontarkan pujiannya terhadap sosok yang menjadi panutan dalam ilmu Kalam baik di kalangan Asy’ariyyah maupun di kalangan Salafiyyah.

Jadi kalau kita ingin melihat genealogi Asy’ariyyah dan Salafiyyah, sosok al-Kilabi adalah rujukan utama dalam arus pemikiran kalam kedua aliran tersebut. Bahkan Ibnu Taymiyah karena kekagumannya dengan sosok ini sampai-sampai menyamakan posisi al-Kilabi dengan Ahmad bin Hanbal. Karena itu, sosok ini tentunya memiliki pengaruh yang besar dalam sejarah pemikiran Ahlu Sunnah.

Dalam beberapa catatan kesejarahan, al-Kilabi ini sangat keras kritiknya terhadap semua sekte-sekte non-Sunni. Kritiknya yang keras terhadap sekte-sekte non-Sunni inilah yang membuat sosok ini dinamakan al-Kilabi yang arti harfiahnya ialah anjing. Dinamakan demikian juga karena beliau begitu kuat mengemukakan argumen-argumennya sehingga lawan-lawan debatnya terpatahkan. Dan menurut Tajuddin as-Subki dalam Tabaqat as-Syafi’iyyah, dinamakan al-Kilab karena ia mampu menarik perhatian orang yang mendebatnya dan menjadikannya tunduk di bawah kebenaran yang diyakininya. Hal demikian sama seperti anjing yang sangat kuat menarik benda-benda di luar dirinya.

Baca Juga :  Sikap Rasulullah Kepada Wanita Pezina yang Hamil

Masih dalam Tabaqat as-Syafi’iyyah, al-Kilabi ini merupakan ahli kalam pertama dari kalangan Ahlu Sunnah yang mampu membantah argumen-argumen Muktazilah dengan metode kalam rasional di hadapan al-Makmun.  Kekalahan debat ini telah membuat Muktazilah sangat membenci sosok ini. Tak hanya Muktazilah, Syiah pun dengki terhadapnya. Sebagai contoh, Ibnu an-Nadim, penulis kitab al-Fihrist, tak luput dari sikap seperti ini. Dalam bukunya al-Fihrist Ibnu an-Nadim menjelaskan bahwa Ibnu Kilab merupakan tokoh kalam beraliran Hasyawiyyah (tekstualis).

Ia pernah berdebat dengan Abbad bin Sulaiman, salah satu tokoh Muktazilah. Kata Ibnu Nadim, al-Kilabi berkeyakinan bahwa sifat kalam Allah itu adalah Allah sendiri. Lantas Abbad bin Sulaiman pun mencap al-Kilabi sebagai orang Kristen. Karena orang Kristen berkeyakinan bahwa Allah itu Bapa, Putera, Roh Kudus di mana masing-masingnya merupakan metafor dari sifat Allah yang wujud, kalam dan hayat. Bagi Kristen, sifat Kalam merupakan Allah itu sendiri.

Setelah itu Ibnu Nadim mengutip riwayat Abu Abbas al-Baghawi yang pernah menemui Fathyun An-Nasrani di wilayah Barat Konstantinopel. Abu Abbas al-Baghawi bertanya kepada pendeta ini tentang Ibnu Kilab. Si pendeta menjawab: “Semoga Allah selalu merahmati Abdulllah. Ia pernah menjadi muridku lalu aku mengajarkan ilmuku di pojokan gereja ini. Ibnu Kilab pernah belajar kepadaku tentang keyakinan bahwa sifat Allah itu adalah Allah sendiri. Kalau ia masih hidup sampai saat ini, mungkin kami bisa mengkristenkan orang-orang Islam.”

Masih menurut al-Bagawi, Muhammad bin Ishak at-Talqani pernah bertanya kepada al-Kilabi mengenai pendapatnya tentang Yesus. al-Kilabi malah menjawab bahwa keyakinannya tentang Yesus sama dengan keyakinan Ahlu Sunnah tentang Alquran. Artinya al-Kilabi menyakini bahwa Yesus dan Alquran adalah sama-sama kalam Allah dan kalam Allah itu tidak tercipta dan kekal bersamanya. itu artinya kalam Allah adalah Allah itu sendiri.

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Soal Pembelaan terhadap Ideologi Negara

Perdebatan di kalangan ahli kalam yang berusaha menisbahkan asal-usul Kristen, Yahudi atau aliran filsafat terhadap pandangan lawan polemisnya merupakan hal yang lumrah terjadi. Menurut Ali Syami an-Nasyar dalam Nas’at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, Muktazilah dan Syiahlah yang pertama kali melakukan ini. Sikap seperti ini, kata an-Nasyar, kemudian berimbas juga kepada Ahlu Sunnah. Misalnya as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal menisbahkan pandangan-pandangan Abu al-Huzdail al-Allaf mengenai sifat-sifat Allah ke pandangan para filosof dan pemikir-pemikir Kristen. Lebih dari itu, as-Syahrastani juga menisbahkan pandangan Abu Hasyim tentang hal kepada keyakinan orang Kristen tentang tiga oknum atau hipostasis.

Menurut an-Nasyar, Ibnu Nadim merupakan salah satu tokoh pertama yang melakukan cara-cara seperti ini. Ibnu Nadim sendiri menurut Tajuddin as-Subki termasuk kepada golongan Muktazilah, dan lebih tepatnya Muktazilah yang awam. Kita akan lihat bagaimana bantahan Tajuddin as-Subki terhadap Ibnu an-Nadim ini di tulisan berikutnya.

1 KOMENTAR

  1. Tulisan cukup bagus. Tapi akan lebih ilmiah jika diikutkan catatan kaki sebagai bukti refernsi yang akurat.
    Sebagai masukan. Nama Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Bacaan bukan Kilab. tapi Kullab artinya bukan anjing tetapi yang banyak menarik perdebatan dan sengit dalam berdebat.
    Terima kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here