Al Harits bin Kaldah: Tabib di Masa Nabi yang Diliputi Kontroversi

0
691

BincangSyariah.Com – Perkembangan dunia medis dalam peradaban Islam kerap dikenal melalui sejarah penguasa Abbasiyah, yang menaruh minat besar pada ilmu pengatahuan. Satu pertanyaan yang mungkin penting diajukan dalam konteks sejarah Islam, apakah ilmu kedokteran yang dikaji para dokter era Dinasti Abbasiyah, serupa dengan apa yang ada di masa Nabi?

Diperdebatkan Statusnya sebagai Sahabat

Bicara kedokteran era Nabi, barangkali perlu disebutkan sosok Al Harits bin Kaldah (ada yang membacanya Kaladah). Berdasarkan data dari Ibnu Abi Usaibiah dalam ‘Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’, Al Harits bin Kaldah dilahirkan pada pertengahan abad kelima di Thaif. Di kala muda ia merantau ke Yaman dan Persia, dan mendapatkan pendidikan kedokteran di Jundishapur. Pria asal Bani Tsaqif ini kembali ke kota kelahirannya, Thaif, ketika Islam sudah didakwahkan secara luas.

Statusnya sebagai sahabat Nabi diperdebatkan ulama. Ada yang menyebutkan bahwa ia masuk Islam tak lama sebelum Nabi wafat; ada yang menyebutnya masuk Islam pasca meninggalnya Nabi; dan juga ada yang mengatakan bahwa Al Harits tidak masuk Islam. Bagaimanapun itu, Nabi dan para sahabat merujuknya dalam beberapa masalah pengobatan, terutama pada tahun-tahun terakhir kehidupan Nabi. Demikian kurang lebih disebutkan dalam sekian kitab rijalul hadits atau biografi periwayat hadis.

Tabib Ternama

Kala itu – konon sebelum berjumpa Nabi, Al Harits adalah seorang tabib ternama dan sering dimintai keterangan oleh penguasa. Al Harits disebutkan pernah berjumpa dengan Raja Kisra (Khosrau II). Dalam pertemuan itu terjadi suatu dialog tentang cukup panjang terkait tata cara hidup sehat dan membebaskan diri dari penyakit. Al Harits wafat sekitar tahun 634 M, di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Demikian dicatat Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Al Ishabah fi Tamyizis Shahabah.

Thibbun Nabawi Bersumber dari Hasil Belajar Al Harits ?

Baca Juga :  Persahabatan Rasulullah dengan Pembesar Kafir Quraisy

Beberapa kalangan muslim menyebut bahwa melalui sosok Al Harits ini Nabi dan para muslim generasi awal mengakses pengetahuan kedokteran Helenistik Yunani– yang menjadi basis pengetahuan dokter-dokter era Abbasiyah – sudah berlangsung. Sayangnya, peranan Al Harits dalam pengetahuan kedokteran Nabi, alih-alih thibbun nabawi, cukup kontroversial.

Setidaknya ada beberapa masalah yang dicatat oleh Khalid al Khazaraji dan Elias Kareem dalam sebuah artikel: Was al-harits bin Kaldah the Source of Prophet Muhammad’s Medical Knowledge? Artikel ini dibuka dengan narasi yang cukup provokatif: tersebutlah bahwa ayat-ayat penciptaan manusia dalam Al Quran, bersumber dari pribadi Al-Harits yang belajar kedokteran di Persia, tepatnya di Jundishapur. Gambaran perkembangan janin manusia itu diasumsikan berbasis pada kajian Yunani Kuno yang dipelajari Al-Harits, dan dengan demikian, Al Quran diklaim sejalan dengan fakta ilmu pengetahuan.

Berikut beberapa cacat pada klaim atas Al Quran dan ilmu pengetahuan tersebut. Persoalan pertama adalah tentang daerah Jundishapur sebagai tempat Al-Harits belajar kedokteran. Keberadaan sekolah kedokteran tua dan ternama di Jundishapur dipertanyakan oleh sejumlah sarjana. Beberapa sejarawan masih membutuhkan bukti yang lebih dapat diandalkan terkait kaitan Jundishapur dan Al-Harits bin Kaldah, tak cukup hanya dengan keterangan para ulama rijalul hadits. Kritiknya begini: jika Jundishapur sudah dikenal masyarakat muslim bahkan sejak abad keenam atau ketujuh Masehi, mengapa tidak sedari awal saja pengetahuan kedokteran itu dikenali umat Islam?

Beberapa catatan sejarah seperti yang disertakan Ahmed Ragab dalam The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion, and Charity menyebutkan bahwa banyak proses intelektual dan praktek medis merujuk pada jaringan dokter Jundishapur pada awal abad kedelapan. Apakah sedari dua atau tiga abad sebelumnya, atau pada masa hidup Nabi, Jundishapur sudah berkembang pesat sebagai tempat pendidikan dan pengembangan kedokteran? Sejarawan meragukan kebenarannya. Masa hidup Al Harits – kurun abad ke-7 Masehi – menunjukkan bahwa Jundishapur kala itu bukan, atau mungkin belum, menjadi sentra pendidikan kedokteran.

Lalu kritik selanjutnya soal pribadi Al Harits adalah metode praktek medis yang dilakukan. Kisah dari al-Harits bin Kaldah tercatat dalam beberapa kitab hadis. Konon, sosoknya menjadi diskusi dalam ragam literatur sejarah dan biografi, khususnya terkait status keislamannya. Namun berbeda lagi dalam konteks profesinya sebagai tabib.

Dalam suatu riwayat, diriwayatkan bahwa sahabat Muawiyah bin Abu Sufyan, bertanya padanya: “Apa itu obat terbaik?” dan dia menjawab:

“Berpantang (dari makanan)– berlapar diri”.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Juljul, ‘Umar bin Khattab juga pernah bertanya kepada al Harits ibn Kaldah tentang suatu penyakit. Ibn Juljul melanjutkan: suatu ketika Saad bin Abi Waqqash jatuh sakit di Mekah. Nabi mengunjunginya dan menyarankan memanggil Al-Harits bin Kaldah di samping tempat tidurnya karena dia adalah dikenal sebagai seorang tabib. Al-Harits datang dan, setelah memeriksanya, mengatakan: “Kondisi penyakitnya tidak serius.”

Setelah diberi suatu ramuan sup dari campuran kurma dan hilbah, Saad bin Abi Waqqash pulih dan membaik. Dia disebutkan banyak mengobati orang dan akrab pula dengan prosedur terapeutik tradisional yang diamalkan orang Arab.

Model terapi Al Harits ini seperti lumrahnya pengobatan tradisional orang Arab kala itu: sederhana, mudah dilakukan, sedikit “klenik”, dan menggunakan tanaman-tanaman lokal. Karakteristik ini dapat kita temukan dalam riwayat-riwayat hadis Nabi tentang pengobatan. Tampak mudah dan sederhana untuk dilakukan, seperti contoh minum habbatus sauda’ atau madu. Basis pengetahuan Al Harits bukan konsep “cairan tubuh” atau “elemen alam” seperti diperkenalkan ilmuwan Yunani, yang menunjukkan pengetahuan pengobatannya bukan berbasis pengetahuan budaya Helenistik.

Masa Hidupnya Diperdebatkan

Baca Juga :  Mengenal Yahya Bin Ma’in; Ahli Hadis yang Wafat Ditemani Ribuan Kitab

Kemudian ada sedikit simpang siur tentang masa hidup Al Harits. Beberapa orang mengklaim bahwa ayat-ayat Al-Quran terkait perkembangan janin manusia tidak dapat dikaitkan dengan al-Harits bin Kaldah, karena ayat ini diturunkan jauh sebelum al-Harits berjumpa Nabi.

Riwayat pertemuan Nabi dengan Al Harits tercatat pada momen sakitnya Said bin Abi Waqqash di atas. Peristiwa tersebut terjadi saat Haji Wada’, beberapa tahun pasca penaklukan Thaif. Haji Wada’ adalah hari-hari ketika Al Quran sempurna diturunkan. Pertemuan yang singkat, dan konon hanya tercatat sekali ini, tidak menjadi bukti kuat bahwa hadis-hadis terkait pengobatan bersumber dari Al Harits – yang menjadi dasar klaim bahwa kedokteran Nabi bersumber dari tradisi kedokteran Yunani.

Lantas, benarkah pengetahuan Nabi tentang kedokteran dan tubuh manusia bersumber dari Al Harits? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi dari diskusi di atas sangat mungkin sekali pengetahuan dan metode pengobatan Nabi Muhammad dalam beragam riwayat hadis hanya berbasis pada tradisi Arab tradisional yang berkembang saat itu, bukan dari tradisi pengobatan Helenistik-Yunani – yang akan populer di era Abbasiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here