Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari: Ahli Hadis Abad 20 dari Maroko

1
1607

BincangSyariah.Com – Ahmad bin Muhammd bin Shiddiq al-Ghumari adalah diantara anggota keluarga besar al-Saadah al-Ghumariya, keluarga ulama yang turun temurun bertempat tinggal di Thanjah (Tangier). Kota ini terletak di ujung utara wilayah negara Maroko dan berada di pinggir pantai. Generasi yang paling dikenal dari keluarga al-Ghumari adalah tiga bersaudara anak dari Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, Abdullah, Ahmad dan ‘Abdul Aziz. Dari jaluar ayah mereka, Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari memiliki silsilah yang bersambung kepada Hasan bin ‘Ali. Sehingga, keluarga ini masuk ke dalam golongan al-Asyraaf (keturunan Nabi Muhammad Saw. dari jalur Hasan bin ‘Ali).

Karena itu, keluarganya sering menyematkan gelar al-Hasani di akhir nama mereka. Dalam sanad keluarga ini, juga terdapat Idris bin Abdullah, raja pertama kesultanan Idrisiyyah di Maroko. Ia mendirikan kerajaan di wilayah maghrib setelah ia gagal dalam pemberontakan melawan Dinasti ‘Abbasiyah.

Pada awalnya, keluarga ini belum mendapatkan nisbah al-Ghumaari. Setelah bertempat tinggal di wilayah Maroko, keturunan Sultan Idris (al-Adaarisah) sempat bepindah ke Andalusia dan tinggal disana beberapa abad. Di abad ke-5 H, mereka berpindah ke wilayah Tilmisan (timur laut Maroko) tepatnya di kabilah Bani Yaznaasan. Kemudian, sebagian cucu-cucu mereka bepindah ke kabilah Ghumarah pada abad ke-10 H, yaitu dimulai dari Syaikh ‘Abd al-Mu’min al-Shaghir. Baru pada tahun 1319 H, kakek dari Syaikh Muhammad (ayah dari Ahmad, ‘Abdullah, ‘Abd al-‘Aziz), Muhammad bin Shiddiq berpindah ke kota Tangier, di bagian utara Maroko, sampai sekarang. (Baca: Ibnu Batutah: Sang Penjelajah Legendaris Asal Maroko)

Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari (1900 – 1961), dilahirkan pada tahun 1900 M. Ia adalah yang paling tertua di antara saudara-saudaranya. Sejak kecil telah dianugerahi pikiran yang sangat cerdas. Saat belajar di Mesir, ia tidak pernah masuk kelas hadis di al-Azhar. Namun, guru-gurunya merujuk kepadanya dalam persoalan hadis karena ia telah melakukan penelaahan yang dalam di bidang hadis, sebelum tiba di Mesir.

Saat belajar di al-Azhar, beliau melanjutkan upaya mengindentifikasi (takhrij) riwayat-riwayat hadis di dalam kitab Musnad al-Shihaab. Pada awalnya, upaya takhrij ini telah dilakukan oleh Muhammad Ja’far al-Kattani, namun tidak selesai. Lalu beliau melanjutkan upaya ini hingga menghasilkan dua buku yang berbeda berisi takhrij hadis-hadis dalam kitab Musnad al-Shihaab, pertama, berjudul Bughyatu al-Thullab bi Takhrij Ahaadith al-Shihab, kedua, berjudul al-Ishaab fi Takhrij Ahaadith al-Shihab.

Ia adalah pelanjut estafet pemimpin tarikat Darqawiyah yang sebelumnya dipimpin oleh ayahnya. Meski ia mempraktikkan sufisme, ia sering juga mengkritik tasawuf, yang menurutnya sudah tidak sesuai dengan sunnah. Ia misalnya sering mengkritik Tarikat Naqsyabandiyah. Yang menarik, di kalangan keluarga al-Ghumari sendiri ada perselisihan antara beberapa anggota keluarga tentang praktik tasawuf di majelis mereka.

Baca Juga :  Telaah Hadis: Benarkah Kematian Mendadak adalah Tanda Kiamat ?

Selain itu, ia juga menganggap perbedaan pendapat dalam memahami agama adalah sesuatu yang buruk. Ia seringkali mengkritik lawannya yang berbeda pendapat dengan bahasa yang cukup kasar. Dari segi mazhab fikih, ia sempat berpindah menjadi mazhab Syafi’i dari sebelumnya bermazhab Maliki, mazhab yang dianut oleh masyarakat Maroko pada umumnya.

Pada akhirnya, al-Ghumari menyatakan kalau ia tidak terikat oleh mazhab apapun. Karena independensi itu, ia merasa tidak ragu ketika harus mengkritik beberapa pendapat di dalam Mazhab Asy’ariyyah. Menurut Muhammad Abu Khubzah, salah seorang ulama Maroko, al-Ghumari juga seringkali mengikuti pendapat mazhab Zaydiyyah dalam beberapa hal.

Guru-guru Ahmad al-Ghumari dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu dirayah dan riwayah. Yang pertama, dirayah, adalah guru yang darinya ia belajar dengan membaca satu kitab tertentu dan mendengar penjelasannya. Sementara dari yang kedua, riwayah, adalah guru yang darinya ia mengambil riwayat atau meminta diijazahkan hadis. Guru yang digolongkan ke kelomJenis kedua ini lebih banyak dibandingkan yang pertama.

Guru-gurunya dari segi dirayah di antaranya,

Peratama, Muhammad bin al-Shiddiq bin Ahmad al-Ghumari, ayahnya sendiri. Ahmad sudah belajar dengan beliau sejak beliau dimulai dengan mengikuti pengajian-pengajian ayahnya. Beliau wafat pada tahuun 1354 H. Dari beliau, Ahmad belajar Mukhtashar Khalil, buku fikih bermazhab Maliki. Ia belajar dengan beliau sampai bab nikah. Ia juga belajar Alfiyyah Ibn Malik di bidang nahwu dan Shahih al-Bukha>ri beserta pengatahuan tentang biografi perawi dan makna hadis.

Kedua, Ibn Ahmad Bouzdarah. Murid ayahnya sendiri. Ia diminta ayahnya untuk mengajarkan Ahmad al-Quran dan ilmu-ilmu dasar, saat Ahmad masih kecil.

Ketiga, Muhammad bin Ja’far bin Idris al-Kattani, masih keturunan al-Idrrisiyyah. Al-Ghumari menemui saudaranya tersebut di Damaskus karena beliau tinggal di sana sampai wafat pada tahun 1354 H. al-Ghumari mengambil riwayat hadis al-rahmah dan membaca banyak hadis dari Musnad Ahmad.

Keempat, Muhammad Imam bin Ibrahim al-Saqa’ al-Shafi’i. Darinya, Ahmad belajar nahwu dengan kitab al-Ajrumiyyah, Alfiyyah ibn Malik, Syarh Ibn ‘Aqil. Beliau belajar fikih mazhab Syafi’i dengan kitab al-Tahrir, mantiq dengan kitab al-Sulam al-Murawnaq karya al-Akhdari, akidah dengan kitab Jawharatu al-Tawhid, hadis dengan kitab Musnad al-Shafi’i dan al-Adab al-Mufrad karya al-Bukhari.

Baca Juga :  Hati dan Akal dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Kelima, Muhammad Bakhit bin Husain al-Muthi’i al-Hanafi, mufti Negara Mesir pada masa itu. Ia belajar tafsir, Shahih al-Bukhari selama dua tahun. Beliau juga menghadiri pengajian kitabnya seperti Syarh al-Hidayah karya al-Marghinani di bidang fikih hanafi, Syarh al-Isnawi ‘ala Minhaj al-Wushul, dan Musalsal ‘Ashura.

Keenam, Muhammad bin Ibrahim al-Samaluuthi, ulama bermazhab maliki. Darinya, beliau belajar Tafsir al-Baydhawi, Muwattha’ Malik, ilmu nahwu selama dua tahun, dan belajar kitab al-Tahdzi>b di bidang mantiq.

Ketujuh, Ahmad bin ‘Abd al-Salam al-‘Iyadh al-Samihi al-Ghumari. Ahmad al-Ghumari membaca sebagian Mukhatashar Khalil darinya.

Kedelapan, Muhammad bin Saalim al-Syarqawi al-Najdi. Mufti Syafi’iyyah di Mesir pada masanya. Beliau belajar darinya Matan Abi Syuja’, al-Iqna’ karya al-Syirbini, Mukhtashar Khalil di bidang fikih Malik, dan belajar Mishkaat al-Mashaabih di bidang hadis. Gurunya ini wafat pada tahun 1350 H.

Kesembilan, Umar ibn Hamdan al-Mahrusi al-Tunisi, ulama asal Tunisia, bermazhab Maliki, ahli hadis yang tinggal di kota Mekkah. Kepakarannya di bidang hadis (sanad maupun matan) membuatnya disebut sebagai Shaikh Shuyukh al-Hijaaz. Ahmad belajar kepada beliau, keliau Syaikh ‘Umar ibn Hamdan datang ke Mesir. Diantara kitab yang dia pelajari adalah Shahih al-Bukhari, al-Adzkar karya Imam al-Nawawi, dan ‘Uqud al-Jumaan di bidang ilmu balaghah.

Adapun guru-guru beliau yang lain, khususnya yang beliau ambil riwayatnya ada banyak sekali. Sebenarnya, seluruh nama-nama gurunya beserta pengalaman Ahmad al-Ghumari saat berguru telas ia tulis dalam satu buku khusus berjudul al-Bahr al-‘Amiiq fii Marwiyyaat Ibn Shiddiiq.

Karya-Karya Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari di Bidang Hadis

Keluarga al-Ghumari memang mengarang buku di berbagai bidang keislaman seperti fikih, tafsir, dan hadis sampai tasawuf. Namun, hadis dan tasawuf adalah corak utama karya-karya al-Saadah al-Ghumaariyyah. Ini tidak terlepas dari pengaruh ayah mereka yang menyuruh anak-anaknya untuk sungguh-sungguh belajar hadis. Salah satu dari anak yang bisa dikatakan jadi rujukan adalah anak pertamanya, Ahmad bin Muhammad al-Ghumari. Ahmad adalah anak tertua dari Syaikh Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, dan ketika ia memutuskan untuk meneruskan belajar di Al-Azhar, ia justru menjadikan rujukan ulama di masanya di bidang hadis.

Baca Juga :  Tiga Macam Jenis Kisah di dalam Al-Qur'an

Berikut ini saya akan coba sebutkan beberapa karya beliau di bidang hadis,

  • Dar’u al-Dha’f ‘an Hadits Man ‘Asyiqa fa ‘Affa
  • Ibraaz al-Wahm al-Maknuun min Kalaam Ibn Khaldun

Kitab ini mengulas tentang pendapat Ibn Khaldun yang mengatakan bahwa Imam Mahdi tidak benar-benar ada karena hadis-hadis yang menyebutkannya menurutnya banyak disanggah keabsahannya oleh para ulama. Al-Ghumari menjawab tuduhan ini dengan kitab tersebut dengan karya setebal sekitar 200-an halaman.

  • Al-Ajwibah al-Shaarifah li Ishkaali Hadit al-Thaaifah
  • Al-Isti’aadah wa al-Hasbalah mimman Shahhaha Hadits al-Basmalah
  • Al-Bahr al-‘Amiq fi Marwiyyati Ibn Shiddiq

Buku ini sebenarnya lebih tepat disebut biografi lengkap seluruh guru-gurunya. Dari guru-guru tersebut, beliau meriwayatkan banyak hadis secara musalsal atau riwayat-riwayat kitab.

  • al-Tafrij bi Ushuul al-Takhrij

Buku ini bisa dikatakan sebagai buku rintisan di masanya untuk panduan tentang mencari asal (takhrij) sebuah hadis. Di masa itu, mencari sebuah hadis bukanlah pekerjaan yang mudah karena belum ada teknologi pencarian hadis digital seperti sekarang. Buku ini berisi 94 halaman dan terbagi atas dua bagian utama, bagian pertama kitab-kitab tentang ilmu Takhrij dari masa ke masa serta kitab al-Mustakhraj (kitab yang menyebutkan riwayat hadis dalam sebuah kitab, namun tidak menggunakan sanad-sanad yang terdapat dalam kitab). Bagian kedua berisi tentang ilmu takhrij itu sendiri.

  • al-Hanin bi Wadh’i Hadits al-Aniin

Buku ini menjelaskan secara khusus kepalsuan hadis “da’uuhu bi al-aniin” (berdoalah kepada Allah dengan mengerang) yang digunakan oleh sebagian sufi dalil untuk berzikir dengan kata “ah” “ah” yang mereka namai dengan ism al-shadr. Padahal, hadis tersebut palsu.

  •  Fath al-Malik al-‘Ali bi Shihhati Hadits Baab Madiinati al-‘Ilm ‘Ali

Buku ini juga mengulas hadis tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib lewat hadis yang sangat terkenal, “Anaa Madinatul ‘Ilmi wa ‘Aliyyu Baabuhaa” (saya adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Karena karyanya ini, ia kemudian mendapatkan tuduhan sebagai pengikut Syi’ah.

  • Miftah al-Tartib li Ahaadith Tarikh al-Khatib
  • Al-Mushim fi Bayan Thalab al-‘Ilm Faridhatun ‘ala Kulli Muslim, menjelaskan tentang hadis “Mencari Ilmu wajib bagi setiap muslim.”
  • Al-Mughir ‘ala al-Ahaadith al-Mawdhuu’ah fi al-Jaami’ al-Shaghir

Buku ini mencoba mengulas hadis-hadis yang palsu, namun terdapat dalam kitab al-Jaami’ al-Shaghir karya al-Suyuthi. Ini untuk menegaskan bahwa sebenarnya al-Suyuti menyatakan tidak ada hadis yang palsu di dalam kitab tersebut.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here