Al-Ghazali yang Bukan Asy’ariyyah

0
651

BincangSyariah.Com – Mungkin akan terasa asing di telinga kita ketika mendengar bahwa al-Ghazali dianggap sebagai sarjana yang berafiliasi kepada Syafi’i dalam bidang teologi. Pasalnya, dalam benak kita sudah tertanam secara kuat bahwa as-Syafi’i ialah seorang ulama fikih bukan teologi.

Pandangan inilah yang ingin dibuktikan oleh George Makdisi dalam tulisannya mengenai al-Ghazali. Bagi Makdisi, sikap al-Ghazali yang kontra terhadap ilmu kalam dapat disamakan dengan al-Syafi’i yang mengharamkan setiap praktik ber-kalam.

Lebih jauh lagi Makdisi berusaha membuktikan bahwa al-Ghazali bukanlah pengikut aliran al-Asy’ari dalam hal-hal yang berkaitan dengan aspek teologis. Makdisi menekankan bahwa al-Syafi’ilah yang menjadi rujukan al-Ghazali dalam merumuskan dan membangun fondasi teologi keislamannya.

Mengkategorikan al-Ghazali sebagai pengikut al-Asy’ari, kata Makdisi, hanya akan bertentangan dengan fakta-fakta kesejarahan. Dalam salah satu tulisan di bukunya Religion, law and Education in Classic Islam, Makdisi mengatakan: Il me semble donc que continuer a soutenir son affiliation a ce mouvement theologique serait se heurter a des problemes qui ne sauraient etre resolus sans aller a l’encontre des faits historiques mis a notre disposition…A ma connaissance, Ghazali lui-meme n’admet pas cette affiliation ash’arite

(Menurut hemat saya, tetap mempertahankan pandangan afiliasi al-Ghazali dengan al-Asy’ariyyah justru akan menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak bisa diselesaikan kecuali dengan melabrak fakta-fakta kesejarahan…Bagi saya, al-Ghazali sendiri tidak pernah mengklaim afiliasi teologisnya kepada al-Asy’ariyyah)

Pandangan demikian mendapat basis legitimasinya dari karya Ignaz Goldziher yang berjudul Le Dogme et la Loi de L’Islam. Dalam karyanya ini, Goldziher, seperti yang dihadirkan kembali oleh Makdisi, meragukan al-Ghazali berafiliasi terhadap aliran Ash’ari.

Goldzhiher mengatakan: Il est vraiment etrangeque Ghazali, que l’on peut certainement considerer sans exageration comme sauveur du systeme acharite en pleine decadence, ait ete en butte aux violentes attaques des adeptes memes de cette doctrine. C’est que s’il etait Ach’arite, il n’etait point de stricte observance

(Memang benar-benar aneh…al-Ghazali yang selama ini kita kategorikan sebagai pembaharu sistem teologi al-Asy’ariyyah dalam masa krisisnya menjadi objek serangan dan bantahan  dari para pemikir yang beraliran sama dengannnya. Jika ada yang berpandangan bahwa al-Ghazali beraliran al-Asy’ariyyah dalam lapangan teologi, tentu pandangan itu tidak didasarkan kepada pengamatan yang jeli)

Baca Juga :  Ibnu Sina dan Problem Kemunduran Nalar

Lebih jauh lagi Goldziher dalam karyanya yang lain, Le Livre de Mohammed Ibn Toumert menegaskan: Ghazali n’etait point….un franc Ach’arite, de la tete aux pieds, et parmi ses proposition dogmatiques, plus d’une ne semblait pas correctes aux Ach’arites pur-sang

(Al-Ghazali sama sekali…bukanlah pengikut aliran al-As’ariyyah jika dilihat dari berbagai pemikirannya dan dari berbagai pandangan-pandangan dogmatisnya. Tampak tidak benar jika ia dikategorikan sebagai pengikut aliran al-Asy’ariy)

Terlihat dalam kutipan di atas sikap Goldziher yang bernada skeptis terhadap afiliasi al-Ghazali pada aliran Asy’ari ini. Oleh karena itu, para sarjana yang menggolongkannya sebagai al-Asy’ari patut dipertanyakan analisisnya atau meminjam istilah Goldziher, pengamatanya patut diragukan karena tidak didasarkan pada “stricte observance.”

Itu karena bagaimana mungkin al-Ghazali yang menjadi butte aux violentes attaques ‘objek dari serangan dan bantahan’ pengikut Asy’ariyah digolongkan pada aliran yang sama.

Lebih jauh lagi, selain mengutip di sana-sini dari yang ditulis Goldziher, untuk memperkuat basis argumennya tersebut, Makdisi (h.3) mengutip penilaian al-Subki dari kitabnya al-Tabaqot al-Syafi’iyah vol. 6. Hal. 196 (baris 8-10) yang telah diterjemahkannya ke dalam bahasa Perancis sebagai berikut:

.. Apres avoir fait des recherches intenses, je ne lui ai pas trouve d’ouvrages sur les fondaments de la religion: a moins que ce soit Qowa’id al-Aqaid (Les Articles de la foi), ou al-Aqaid al-sughra (L’abrege des articles de la foi); mais un ouvrage independent qui suit la methode des theologiens de kalam, je ne’en ai pas vu un seul. Et je vais consacrer un section a ses ouvrages dont j’ai connaissance..

(Setelah mengamati secara mendalam, saya tidak menemukan karya-karya utuh al-Ghazali tentang ilmu kalam; paling hanya dua karya yang berjudul Qawaid al-Aqaid atau al-Aqaid as-Shugra -dan itu juga masih berupa artikel-artikel dalam kitab Ihya-; selebihnya, saya tidak menemukan karya al-Ghazali yang benar-benar serius membahas metode ilmu kalam. Saya hanya fokus melihat satu bagian [tentang teologi] dari karya-karya al-Ghazali yang saya ketahui)

As-Subki, kata Makdisi, merupakan seorang ulama madzhab as-Syafi’i tulen dan sangat memahami betul al-Ghazali. Dari sepuluh jilid karya Thabaqot al-Syafi’iyyah yang ia tulis, penjelasan mengenai al-Ghazali diberi ruang khusus sepanjang 200 halaman. Ini menunjukkan la preuve de la grande estime ‘sikap hormat’ as-Subki yang begitu besar terhadap al-Ghazali.

Baca Juga :  Anjuran Bershalawat Diturunkan pada Bulan Sya'ban

Penilaian as-Subki tersebut, kata Makdisi, mengindikasikan kelemahan al-Ghazali dalam menulis problem-problem ilmu kalam baik secara metodologi maupun substansinya. Setelah melakukan penelitian mendalam terhadap karya-karya al-Ghazali, al-Subki berkesimpulan bahwa memang Al-Ghazali tidak cukup mumpuni menulis karya independen mengenai kalam yang didasarkan kepada motodologi ilmu tersebut.

Dari sekian banyak karyanya, al-Ghazali hanya menulis dua risalah tentang kalam Qowa’id al-Aqaid dan al-Aqa’id al-Shughra dan itu pun bukan gagasan kalam yang utuh dan tidak ditulis menurut metodologi dan pendekatan yang memadai.

Menurut Makdisi, pandangan demikian dipertegas oleh Ibn Asakir saat mengomentari kitab Iljaam Awaam ‘an Ilmi al-Kalaam dan semakin dipertegas lagi oleh pernyataan al-Ghazali sendiri dalam kitab al-Mankhul terkait dengan sikap beliau yang kontra terhadap kalam dan kontra juga terhadap pemikiran-pemikiran yang disodorkan oleh al-Asy’ari.

Jika demikian halnya, pertanyaan yang muncul ialah bagaimana posisi kitab al-Iqtishad fi al-i’tiqood dalam jagad pemikiran kalam al-Asy’ariyah?

Makdisi menilai bahwa karya tersebut tidak mencerminkan secara utuh keyakinan al-Ghazali. Walaupun dalam kitab ini terdapat kesamaan pandangan dengan al-Asy’ari namun bukan berarti al-Ghazali pengikut al-Asy’ari dalam aspek teologis. Makdisi mencontohkan Abu Ya’la al-Farra’ yang menulis kitab al-Mu’tamad yang meminjam gagasan-gagasan kalam namun beliau tidak dikategorikan sebagai pengikut al-Asy’ari maupun Muktazilah.

Contoh lain yang disodorkan Makdisi ialah sosok Ibnu Taymiyyah. Ibnu Taymiyyah berbicara tentang causa sekunder namun beliau tidak digolongkan sebagai filosof. Demikian juga Fakhrudin al-Razi, seperti yang diamati Goldziher, memiliki kecenderungan muktazilah namun masih tetap dianggap Asy’ariyah.

Kritik atas Makdisi

Telah dijelaskan di atas bagaimana Makdisi berargumen dengan gigihnya dalam memosisikan al-Ghazali sebagai pengikut al-Syafi’i dan bukan al-Asy’ari. Kendati mengutip pandangan Goldziher, as-Subki dan juga Ibnu Asakir yang pernah mengamati secara langsung karya-karya al-Ghazali dalam bidang kalam, Makdisi tak luput dari kelemahan.

Makdisi tidak membaca karya-karya al-Ghazali secara langsung dan membandingkannya dengan gagasan as-Syafi’i dalam membahas tema-tema kalam seperti pembahasan mengenai dzat Allah, asma, sifat dan af’al-nya yang jamak didiskusikan dalam ilmu kalam.

Selain itu, Makdisi tidak menyandingkan gagasan al-Ghazali dan as-Syafi’i secara bersamaan dalam membahas soal kebaharuan alam, kenabian, akhirat, imamah dan sekte-sekte Islam yang wajib dikafirkan.

Baca Juga :  Said Bin Amir: Pemimpin Yang Fakir

Pembahasan mengenai tema-tema yang menjadi substansi dalam ilmu kalam ini amat penting karena akan dapat menyibak afiliasi al-Ghazali.

Pemikir-pemikir al-Asyariyyah seperti al-Baqillani dalam kitabya at-Tamhid dan al-Juwaini dalam kitab as-Syamil jika ingin membuktikan argumen mengenai kekekalan Tuhan dan kebaharuan alam pasti akan selalu memulai pembahasannya dengan  al-jauhar al-fard dan al-ardh.

Pembahasan ini juga dapat kita temukan dalam kitab al-Iqtisad fi al-Itiqad, Maqasid al-Falasifah dan Tahafut al-Falasifah karya al-Ghazali.

Sayangnya, pembahasan mengenai al-jauhard al-fard dan al-ardh yang menjadi salah satu inti dalam pembahasan mengenai kebaharuan alam dan kekekalan Tuhan dalam ilmu kalam tidak pernah kita temukan penjelasannya dalam karya-karya as-Syafi’i baik di kitab al-Umm ataupun dalam kitab ar-Risalah, dua kitab yang membahas tema-tema fikih dan usul fikih.

Dengan kata-kata lain, Makdisi tidak cukup kuat dalam membangun argument bahwa al-Ghazali merupakan pengikut as-Syafi’i dalam hal-hal yang berkaitan dengan aspek teologis. Jika Makdisi membaca al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, tentu akan lain kesimpulannya.

Ibnu Khaldun sendiri mengatakan bahwa dalam lapangan ilmu kalam al-Asy’ariyyah terjadi pergeseran paradigma dari yang bersifat kalam menjadi yang bersifat kalam-filsafat yang disebutnya sebagai “tariqat al-mutaddimin” dan “tariqat al-muta’akhirin” dimana yang kedua banyak mengadopsi istilah-istilah filsafat dalam pembahasan mengenai kalam.

Nah, pemikiran al-Ghazali, terutama dalam kitab al-Iqtisad-nya, sebenarnya merupakan masa transisi dari “tariqat al-mutaddimin” ke “tariqat al-muta’akhirin” ini. Tentu transisi ini masih dalam bingkai sistem teologi al-Asy’ariyyah.

Dengan kata-kata lain, melalui keterangan Ibnu Khaldun ini, fondasi argumen yang disampaikan Makdisi tidak memiliki pijakan yang kuat dan karenanya kesimpulannya bahwa al-Ghazali merupakan pengikut as-Syafi’i dalam bidang ilmu kalam tidak berdasar sama sekali. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.