Pandangan al-Ghazali Terhadap Ilmu Matematika

0
833

BincangSyariah.Com – Telah dikemukakan dalam artikel yang menjelaskan tentang kitab Tahafut al-Falasifah mengenai fatwa fikih yang dilayangkan al-Ghazali terhadap berbagai jenis pengetahuan Yunani yang dikenal di masanya seperti matematika, fisika, kedokteran dan lain-lain.

Fatwa fikih yang masing-masingnya ditujukan al-Ghazali ke berbagai macam jenis pengetahuan yang menjadi concern filsafat saat itu pada tahap selanjutnya diiringi dengan sikap fa la yatawaqqafu ala ma’rifatiha solahul ma’asy wa al-ma’ad (mempelajari ilmu tersebut tidak memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat). Hal demikian seperti yang dikemukakan al-Ghazali sendiri dalam Jawahir al-Quran.

Pertanyaan yang ingin dijawab dalam artikel ini apakah al-Ghazali dengan fatwa fikihnya terhadap berbagai macam jenis ilmu pengetahuan Yunani dengan sendirinya dianggap sebagai ulama yang anti ilmu pengetahuan? Apa dasar epistemic yang ditolak al-Ghazali sehingga ia menerbitkan fatwa halal, haram, mubah terhadap berbagai jenis pengetahuan yang dikenal di masanya.

Untuk menjawab dua pertanyaan ini, alangkah baiknya kita simak sikap al-Ghazali secara langsung terhadap jenis-jenis pengetahuan Yunani tersebut. Kita bahas dari sikapnya terhadap logika Aristoteles. al-Ghazali, seperti yang sering dikutip dalam laman ini, mengatakan bahwa logika Aristoteles sangat diperlukan dalam ranah ilmu-ilmu agama terutama fikih dan kalam dan dan bahkan wajib dipelajari dan digunakan dalam ilmu-ilmu rasional. Sampai di sini, kita cukup dengan mengatakan bahwa al-Ghazali membolehkan mempelajari logika kalau tidak dikatakan mewajibkan.

Lalu bagaimana sikap al-Ghazali terhadap matematika? Kita simak dalam pandangannya terkait hal ini dalam kitabnya yang terkenal, al-Munqidz min ad-Dhalal,

أن من ينظر فيها يتعجب من دقائقها ومن ظهور براهينها فيحسن بسسب ذلك اعتقاده في الفلاسفة ويحسب أن جميع علومهم في الوضوح وفي وثاقة البرهان كهذا العلم، ثم يكون قد سمع من كفرهم وتعطيلهم وتهاونهم بالشرع ما تداولتهم الألسن فيكفر بالتقليد المحض ويقول: لو كان الدين حقا لما اختفى هؤلاء مع تدقيقهم في هذا العلم…فهذه آفة عظيمة لأجلها يجب زجر كل من يخوض في تلك العلوم فإنها وإن لم تكن بأمر الدين ولكن لما كانت من مبادئ علومهم سري إليه شرهم وشؤمهم، فقل من يخوض فيها إلا وينخلع من الدين وينحل عن رأسه لجام التقوى….

Baca Juga :  Anekdot: Menurut Umar bin Khattab, Wajah Malaikat Munkar-Nakir Terlalu Seram

“Bagi orang yang melihat mekanisme penalaran pengetahuan dalam ilmu matematika, pastinya ia akan merasa kagum dengan kedetailan dan keakuratan bukti-bukti yang ditujukannya. Karena ketakjuban tersebut, ia tentu akan memandang baik terhadap pemikiran kaum filosof dan bahkan sampai-sampai akan mengira bahwa semua ilmu yang mereka ciptakan memiliki tingkat kejelasan dan tingkatt keakuratan yang tinggi seperti ilmu matematika ini. Ketika terdengar bahwa para filosof tersebut telah kafir karena menyepelekan syariat, lalu karena ketakjubannya kepada mereka, ia akan ikut-ikut kafir juga dan sampai-sampai mengatakan: ‘kalau seandainya agama itu benar adanya, tentu para filosof akan mengerti hal itu. Hal demikian karena mereka sendiri sangatlah jeli dan teliti dalam ilmu matematika (apalagi dalam agama)…ini jelas penyakit yang parah. Karena itu, kami perlu memandang haram mempelajari matematika. Hal demikian karena meski tidak memiliki kaitan dengan agama, prinsip dasar pengetahuan ini telah menjerumuskan para filosof terhadap keburukan. Tidak sedikit orang yang mendalami ilmu ini telah melepaskan agama dan jubah ketakwaannya.’

Inilah sikap al-Ghazali terhadap matematika. Pertanyaannya, kenapa al-Ghazali menolak matematika untuk dipelajari oleh umat Islam?

Tentunya karena matematika didasarkan kepada hukum kausalitas dan hukum kausalitas itu sendiri ditolak oleh para teolog Asy’ariyyah. Maka matematika ditolak untuk dipelajari untuk menyelamatkan teologi Asy’ariyyah. Tapi tak cukup sampai di sini, penolakan terhadap matematika juga didorong oleh motif yang sifatnya politik. Kita akan perjelas sikap al-Ghazali ini dalam artikel yang menjelaskan sikapnya terhadap ilmu fisika di artikel berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here