al-Ghazali dan Sikapnya terhadap Ilmu Fisika

1
824

BincangSyariah.Com – Di artikel sebelumnya tentang sikap al-Ghazali terhadap matematika telah dijelaskan secara ringkas bagaimana sikapnya ini sebenarnya didorong oleh ideologi Asy’ariyyah yang menolak hukum sebab akibat. Lalu pertanyaannya bagaimana sikap al-Ghazali terhadap ilmu fisika.

Sikap al-Ghazali terhadap ilmu fisika sebenarnya bisa dikatakan sama saja dengan sikapnya terhadap ilmu kedokteran. Misalnya kita dapat melihatnya dalam kutipan berikut ini:

وكما ليس من شرط الدين إنكار علم الطب فليس من شرطه أيضا إنكار ذلك العلم (=الطبيعيات) إلا في مسائل معينة.

“Agama tidak memiliki ajaran yang menolak ilmu kedokteran. Karena tidak ada ajaran agama yang menolak ilmu kedokteran ini, maka tidak ada pula ajaran agama yang menolak ilmu fisika kecuali dalam beberapa persoalan tertentu.”

Beberapa persoalan tersebut meliputi empat hal  penting. Hal demikian seperti yang dapat kita kemukakan dalam kutipan dari kitab Tahafut al-Falasifah:

الأولى حكمهم بأن هذا الاقتران المشاهد في الوجود بين الأسباب والمسببات اقتران تلازم بالضرورة…والثانية قولهم إن النفس الإسنانية جواهر قائمة بنفسها ليست منطبعة في الجسم، وأن معنى الموت انقطاع علاقتها عن البدن بانقطاع التدبير في حال الموت…والثالثة قولهم أن هذه النفوس يستحيل عليها العدم بل هي إذا وجدت فهي أبدية…الرابعة قولهم يستحيل رد هذه النفوس إلى الأجساد.

“Pertama, pandangan mereka soal relasi antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya di alam semesta ini yang didasarkan kepada sebab-akibat sebagai sebuah kepastian…; kedua, pandangan mereka yang mengatakan bahwa jiwa merupakan entitas yang berdiri sendiri yang tidak terpatri dalam fisik tubuh, serta keyakinan mereka bahwa kematian berarti terlepasnya jiwa dari relasinya dengan fisik tubuh saat meninggal; ketiga, pandangan mereka mengenai keabadian jiwa; keempat, kemustahilan akan kembalinya jiwa di hari akhir kepada jisim-jisim yang dulu di tempatinya.”

Sampai di sini kita melihat bahwa al-Ghazali sangat menolak terhadap ilmu pengetahuan. Penolakan ini sebenarnya didasarkan kepada basis yang melandasi ilmu pengetahuan itu sendiri, yakni hukum kausalitas atau hukum sebab akibat. Penolakan terhadap hukum sebab akibat, kata Ibnu Rusyd, dengan sendirinya dikatakan menolak terhadap ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

Baca Juga :  Akhlak Syekh Abu Bakar bin Salim dalam Menjaga Perasaan Manusia

Sebenarnya kalau kita menilik lebih jauh terkait penolakan al-Ghazali terhadap matematika, misalnya, tentu penolakan ini sangat kontradiktif. Pasalnya, penolakan al-Ghazali terhadap matematika yang disertai dengan seruannya untuk mengadopsi logika merupakan sikap yang ambivalen. Padahal keakuratan analisis matematika ialah justru tujuan yang ingin diwujudkan oleh ilmu logika.

Karena itu, ketentuan yang berlaku bagi matematika (yakni diharamkannya mempelajari ilmu ini dalam pandangan al-Ghazali) dengan sendirinya berlaku pula bagi logika, terlebih jika dilihat dari sudut pandang kedekatan, logika lebih erat kaitannya dengan filsafat. Dengan kata-kata lain, menolak matematika dengan sendirinya menolak logika.

Nyatanya memang al-Ghazali tidaklah netral dalam penolakannya terhadap matematika dan pengadopsiannya terhadap logika Aristoteles.

Di artikel-artikel sebelumnya kita melihat al-Ghazali dengan gigih mengadopsi logika sebagai metode dan alat. Namun pengadopsian ini bukan untuk kepentingan logika/pengetahuan itu sendiri tapi lebih didorong oleh ambisinya untuk meruntuhkan ideologi ta’limiyyah yang digunakan oleh Syiah Isma’iliyyah untuk memobilisasi masa melawan negara.

Dan karena Syiah Isma’iliyyah ini mengadopsi pandangan Phytagoras dan aliran matematikanya sebagai basis bagi filsafat keagamaan mereka, tentunya sikap al-Ghazali yang menolak matematika dapat ditafsirkan sebagai sikapnya yang ingin meruntuhkan ideologi ta’limiyyah dan basis filsafatnya yang mengadopsi matematika Phytagoras.

Sejatinya sikap al-Ghazali yang menolak ilmu pengetahuan karena motif yang sifatnya ideologis inilah yang membuat, mungkin agak berlebihan, ilmu pengetahuan dalam Islam tidak begitu berkembang. Pasalnya, umat Islam sampai saat ini pikirannya selalu didominasi oleh pandangan yang sifatnya politis.

Alih-alih mengembangkan ilmu pengetahuan, dari dulu sampai sekarang, yang menjadi tantangan bagi umat Islam dalam soal perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah soal kemalasan berpikir tapi lebih karena politik yang menjadi penghalangnya. Karya-karya yang paling banyak dikonsumsi, bukan bagaimana membangun ilmu pengetahuan tapi bagaimana membangun perpecahan. Karya-karya yang mengupas tentang al-firaq ini sejatinya mengafirmasi sebuah kenyataan bahwa umat Islam lebih banyak fokus kepada politik golongan ketimbang ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Mewujudkan Universalitas Ajaran Islam dengan Konsep Maqashid Syariah Jasser Audah

Ulasan mengenai al-Ghazali dengan berbagai macam sepak terjangnya dalam jagad pemikiran Islam berikut dengan konteks yang melatarbelakangi kemunculan ide-idenya seharusnya dapat kita jadikan pelajaran bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam menjadi mandeg karena pertarungan di dunia Islam bukan terfokus pada madzhab-madzhab pengetahuan tapi lebih banyak diporsir ke mazhab-mazhab agama/politik. Allahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. Tidak ada penolakan oleh beliau tentang matematika ataupun fisika, karna persoalan agama adalah melebihi hukum matematika dan juga fisika. Bisa saja hukum matematika dan fisika tak berlaku di dalam peristiwa agama. Tapi tentu saja kedua ilmu itu juga terangkum dalam agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here