Al-Ghazali dan Kitab Nasihat untuk Para Pemimpin

0
420

BincangSyariah.Com – Adalah Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali (505 H), sang ulama Sunni terkenal dari mazhab al-Asyariah dan bermazhab fikih Syafi’i, penulis prolifik. Semasa hidupnya memang al-Ghazali sangat mencintai ilmu dari berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari fikih, filsafat, hingga tasawuf. Pengalaman berkelananya dalam menjelajahi negeri-negeri Islam, ia tuangkan dalam sebuah kitab yang berjudul al-Tibr al-Masbuq fi Nashaih al-Muluk.

Abdurrahman Badawi dalam Muallafat al-Ghazali mencatat ada beberapa perbedaan penisbatan mengenai originalitas nama kitab ini. Ada yang menyebut judulnya sebagai Gharaib al-Uwal fi ‘Ajaib al-Duwal (Keunikan orang-orang terdahulu pada keistimewaan bangsa-bangsanya).

Badawi menjelaskan bahwa penamaan kitab ini seperti tersebut tidak dikenal (jahil) dalam pandangan para historian. Pendapat yang kuat adalah kitab al-Tibru al-Masbuq fi Nashihat al-Muluk (emas yang didahulukan dalam menasihati para raja).
Kitab tipis ini berisi tentang cerita-cerita nasehat para ulama, ahli zuhud, terhadap para pemimpin (umara).

Dalam pengantarnya, al-Ghazali menyatakan bahwa seorang ulama memberikan nasihat pada pemimpin, dalam kisah, hikmah, dan seruan untuk bersikap adil. Kitab ini kemungkinan didasarkan atas pengamatan al-Ghazali selama menempuh perjalanan di berbagai bangsa, kala itu, sebelum menempuh hidup dari pengasingan diri (uzlah).

Ada beberapa catatan penting yang perlu dilakukan di sini. Yaitu bahwa pemimpin dan ulama merupakan dua pondasi yang penting untuk memakmurkan masyarakat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw bahwa sebuah negeri akan makmur, jika adilnya para pemimpin, saran dan nasihatnya para ulama, dermanya orang kaya dan doanya orang miskin.

Bahkan al-Ghazali mengutip hadis bahwa seorang pemimpin adil lebih utama dari pada ahli ibadah seratus tahun.
Dari hadis ini, al-Ghazali melihat bahwa kondisi pemimpin yang adil merupakan keharusan untuk memakmurkan masyarakat.

Baca Juga :  Imam Al-Ghazali Dibegal

Al-Ghazali sendiri tidak melihat aspek keadilan dalam bentuk satu kategori yang tetap. Hal ini sebagaimana di awal kitabnya, ia mengatakan bahwa kekuasaan (power) merupakan nikmat Allah, maka siapa saja yang tidak menunaikan maka ia telah kufur nikmat. Pesan al-Ghazali di sini cukup bisa dipahami secara tersurat.

Lebih jauh al-Ghazali mengatakan bahwa seorang pemimpin tak ubahnya seperti sebagai penjaga (harish/the guardian) kemaslahatan umat, di sisi lain sebagai representasi agama dan mengatur (al-tanzhim) administrasi urusan perkara duniawi. Tafsiran al-Ghazali tersebut didasarkan atas konsep umum al-Mawardi bahwa al-khilafah hirasthuddin wa siyasatud dunya.

Dalam kitab tersebut diceritakan ada seseorang yang alim zuhud, pernah diundang untuk datang kepada seorang khalifah (raja). Sang raja berkata, “berilah aku nasihat”. Lantas sang alim zahid bercerita bahwa di sebuah negeri nun jauh dikenal dengan negeri Cina, hidup seorang raja yang adil berkuasa dan memerintah rakyatnya dengan penuh penghormatan dan cinta.

Suatu ketika ia menderita penyakit telinga (tuli), lalu ia menangis. Sang penasihat bertanya, apa yang membuatmu menangis. Lantas sang raja berkata, aku menangis bukan karena sakitku. Akan tetapi, aku menangis karena aku tidak mampu lagi mendengarkan keluhan rakyatku yang meminta pertolongan di hadapan singgasanaku. Mendengar hal tersebut, sang penasihat memerintahkan rakyatnya memakai baju merah (ahmar), agar sang raja mengenali bahwa orang tersebut dalam keadaan sulit.

Dari kisah-kisah yang dituliskan, nasehat untuk para pemimpin haruslah dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tidak melakukan cara-cara dekstruktif (mafsadat) yang besar. Dari kitab ini tampak bahwa al-Ghazali sangat menekankan keseimbangan antara ulama (intelektual) dan umara dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kemaslahatan bagi rakyat. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.