Al-Biruni: Ilmuwan Muslim Polymath asal Uzbekistan

0
219

BincangSyariah.Com – Abu Rayhan Al-Biruni memiliki nama lengkap Abu Rayhan Muhammad Ibn Ahmad. Lahir pada tanggal 3 Dzulhijjah 362H atau bertepatan dengan 4 September 973 M di daerah pinggiran bernama Birun, di perbatasan Kath. Kath merupakan salah satu kota utama di Khawarizm (sekarang wilayah Uzbekistan) yang berada di tepi kanan sungai Amu Dar’ya dan timur laut Khiva. Dalam bahasa Persia, al-Biruni berarti orang luar. Abu Rayhan mendapat sebutan al-Biruni karena dilahirkan di luar kota Kath dan semasa hidupnya sering bepergian jauh dari kota asalnya. Sehingga tak heran jika ia dijuluki sebagai orang luar atau al-Biruni.

Masa Muda Penuh Perjuangan

Masa muda al-Biruni penuh dengan perjuangan. Setidaknya ada empat kekuasaan yang bersaing satu sama lain di wilayah Khawarizm ketika al-Biruni masih muda. Sehingga pada awal usia dua puluhan, al-Biruni lebih banyak meghabiskan waktu untuk bersembunyi dan melarikan diri dari satu raja ke raja yang lain dengan tujuan untuk mencari perlindungan. Di tengah kondisi tersebut, al-Biruni selalu menyempatkan waktu untuk membaca, menulis, dan melakukan berbagai penelitian.

Pada saat terjadi perang sipil, al-Biruni meninggalkan kota Kath dan melarikan diri ke daerah Rayy (dekat Teheran) saat musim panas tahun 995. Di tengah keterbatasannya, ia berhasil menyelesaikan delapan karyanya sebelum menginjak usia 30 tahun. Kesulitan ekonomi dan kesengsaraan yang dialami oleh al-Biruni ketika itu tercermin dalam Kitab al-Atsar al-Baqiyah ‘an al-Qurun al-Khaliyah. Karya tersebut telah diterjemahkan dengan judul Chronology of Ancient Nations.

Bertualang ke Berbagai Tempat

Pada tanggal 24 Mei 997 al-Biruni dikabarkan kembali berada di Kath untuk meneliti gerhana bulan dan membuat perjanjian kerjasama dengan seorang ahli matematika Baghdad, Abu al-Wafa. Perbedaan waktu memungkinkan mereka untuk menentukan perbedaan garis bujur antara Kath (di sungai Oxus) dan Baghdad. Hasil penelitian al-Biruni dan Abu al-Wafa dapat dilihat dalam buku yang berjudul The Determination of the Coordinates of Localities.

Selain Kath dan Rayy (Iran), semasa hidupnya al-Biruni pernah tinggal di Jurjan, Baghdad, Sind, Punjab (India), Ghaznah (Afganistan), dan beberapa wilayah lainnya. Di masa sulitnya, al-Biruni pernah menjadi rampasan perang dan ditahan di Benteng Nandana, sebelah barat Punjab. Beberapa karya al-Biruni dipersembahkan untuk pemimpin yang mendukungnya pada masa itu. Seperti Qonun al-Mas’udi yang dipersembahkan untuk Mas’ud, serta al-Jamahir fii Ma’rifat al-Jawahir yang dipersembahkan untuk Mawdud. Sedangkan karyanya yang berjudul Kitab at-Tafhim dipersembahkan untuk seorang perempuan dari Khawarizm yang bernama Rayhanah.

Baca Juga :  Mengenal al-Khawarizmi: Membawa Konsep Angka 0 ke Dunia Islam

Ilmuwan Multidisipliner

Al-Biruni memiliki wawasan yang sangat luas dan tidak terbatas pada satu bidang. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu yang diantaranya matematika, fisika, farmasi, kedokteran, astronomi, geografi, kimia, mineralogi, geologi, antropologi, agama, sejarah, filsafat, hingga linguistik dan sastra. Al-Biruni layak untuk disebut sebagai guru yang ahli dalam segala ilmu. Bridget Lim dan Bill Scheppler dalam buku Al-Biruni; Greatest Polymath of the Islamic Golden Age menyebut al-Biruni sebagai seorang ilmuan Persia dan Polymath. Maksud dari Polymath adalah seseorang yang memanfaatkan pengetahuannya dalam berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan masalah.

Beberapa karya al-Biruni dituangkan dalam berbagai judul buku. Diantaranya adalah Kitab al-Atsar al-Baqiyah ‘an al-Qurun al-Khaliyah, Kitab at-Tafhim, Tahdid Nihayat al-Amakin li Tasbih Masafat al-Masakin (Kitab Aplikasi Geometri untuk Mengukur Jarak), Tarikh al-Hind, Qanun al-Mas’udi, Layl wa an-Nahr, al-Jamahir fii Ma’rifat al-Jawahir, Kitab as-Saydanah fii at-Thibb, dan masih banyak lagi. Beberapa karya al-Biruni telah diterjemahkan oleh para ilmuan Barat, seperti The Determination of the Coordinates of Localities, Chronology of Ancient Nations, Shadows, dan Alberuni’s India.

Kemampuan al-Biruni dalam menguasai berbagai disiplin ilmu ditunjang oleh kemampuan bahasanya yang luar biasa. Buku Great Muslim Mathematician karya Mohaini Mohamed menjelaskan bahwa selain bahasa Khawarizmian yang merupakan bahasa daerah asalnya, al-Biruni juga menguasai bahasa Turki, Arab, Sansekerta, Persia, Aramaic, Syria, Yunani, Ibrani, serta beberapa dialek Iran dan India. Al-Biruni mempelajari bahasa Sansekerta ketika usianya lebih dari 45 tahun dan menuliskan nama obat-obatan dalam berbagai bahasa ketika menginjak usia 80 tahun. Al-Biruni berhasil menulis tentang farmasi dengan judul Kitab as-Saydanah fii at-Thibb. Berggren dalam bukunya Episodes in the Mathematics of Medieval Islam menceritakan bahwa semangat al-Biruni di akhir hayatnya membuahkan karya 720 daftar nama obat-obatan. Nama obat-obatan tersebut ditulis dengan baik dalam bahasa Arab, Persia, Yunani, Syria, India, dan berbagai bahasa lainnya. Padahal kala itu penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang. Tak lama berselang, al-Biruni wafat pada tanggal 2 Rajab 440H atau 13 Desember 1048 di Ghaznah.

Baca Juga :  Umar al-Khayyam; Matematikawan yang Masyhur Sebagai Sastrawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here