al-Barra’ bin Malik: Saudara Anas bin Malik dan Panglima Melawan Musailamah al-Kazzab

0
215

BincangSyariah.Com – Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa mengutip Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ (w.748 M), menyebutkan bahwa salah seorang sahabat Nabi yang gigih dalam pertempuran adalah Al-Barra’ ibn Malik. Ia adalah saudara dari Anas bin Malik yang juga khadam Rasulullah SAW. Ia adalah pejuang dalam perang Uhud.

Umar bin Khattab dalam suatu kesempatan pernah berkata supaya tidak mengangkat al-Barra’ menjadi komandan pasukan. Sebab, keberanian yang dimiliki al-Barra’ akan membahayakan bagi tentara yang dipimpinnya. Kisah menarik yang menyartainya adalah ketika ia berhadapan dengan tentara Musailamah al-Kazdzdab.

Ketika Rasulullah SAW wafat, banyak orang yang keluar dari Islam. Kejadian tersebut direspon Khalifah Abu Bakar dengan memerintah para tentara, terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar untuk memerangi mereka yang murtad dan memerangi para pembangkang. Diantara orang murtad yang berjumlah besar adalah kaum Bani Hanifah yang di pimpin oleh Musailamah al-Kadzdzab. Mereka adalah penduduk Yamamah terletak di bagian Timur Laut Hijaz dan berbatasan dengan wilayah Nejed.

Pasukan pertama yang dikirim Abu Bakar untuk memerangi Musailamah dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Namun, nahas, pasukan Ikrimah dipukul mundur oleh Musailamah. Sesudah itu Abu Bakar mengirim pasukan dibawah pimpinan Khalid bin Walid yang bergelar Saifullah (pedang Allah). Diantara pasukan ini, terdapat al-Barra’ ibn Malik dan beberapa pendekar lainnya. Pasukan Khalid berhadapan dengan pasukan Musailamah di Yamamah.

Belum lama pertempuran berkecamuk, ternyata pasukan musailamah lebih unggul. Akhirnya Khalid mengubah strategi perang dengan mengelompokkan pasukan sesuai komposisi barisan. Kaum Muhajirin dikelompokkan dengan sesama kaum Muhajirin, kaum Anshar dikelompokkan dengan kaum Anshar. Tujuannya supaya pergerakan pasukan dapat dikontrol dengan baik dan mudah diperbaiki.

Baca Juga :  Pembentukan Karakter Santri Melalui Jadwal yang Padat

Sementara pasukan Musailamah bertahan kokoh bagaikan gunung sebagai pasak bumi. Mereka tidak peduli walaupun korban dari pihak mereka juga banyak berjatuhan.

Ketika Khalid bin Walid melihat api peperangan kian membara, dia berkata kepada al-Barra’ dan memerintahkan, “Wahai pemuda Anshar, kerahkan mereka semua!”

Mendengar perintah sang komandan perang, al-Barra’ langsung berseru, “Wahai kaum Anshar! Janganlah kalian berpikir untuk kembali ke Madinah. Tidak ada lagi Madinah sesudah hari ini. Ingatlah semata-mata kepada Allah. Ingatlah Surga!”

Setelah berseru, ia kemudian menerobos jantung pertahanan pasukan lawan yang diikuti prajurit Anshar. Pedangnya menjilati setiap kulit musuh tanpa ampun. Darah pun tumpah disana-sini, mengalir seperti cucuran air hujan.

Pasukan Musailamah kocar-kacir setelah melihat pasukannya banyak yang gugur. Mereka mulai resah dan gentar. Mereka mulai berlindung disebuah perkebunan yang terletak di belakang Wadi al-Aqraba. Perkebunan itu, kepunyaan Musailamah sendiri. Kebun itu tempat pelarian terakhir Musailamah. Pagar yang cukup tinggi mengelilingi puluhan ribu prajurit Musailamah dan pintunya dikunci rapat-rapat untuk bertahan.

Bagi al-Barra’, pagar setinggi itu bukanlah halangan untuk menyerang musuh. “Angkat saya dengan galah” pinta al-Barra’ kepada pasukannya. “Saya akan memanjat dinding itu dan lindungi saya dari anak panah musuh. Saya akan membukakan pintu bagi kalian supaya bisa masuk”

Sebelum al-Barra’ membukakan pintu kebun, ia terkena sentuhan pedang dan lecutan anak panah yang menyebabkan luka serius dibagian tubuhnya. Ada sebanyak 80 luka ditubuhnya. Setelah pintu terbuka, secara bergerombol para prajurit Muslimin masuk menyerbu pasukan Musailamah. Pedang-pedang saling beradu, darah-darah menetes dari kedua belah pihak yang saling bunuh.

Al-Barra’ merupakan salah satu dari sekian sahabat Rasulullah yang patut kita teladani terutama dalam hal kesetian dan keberanian dalam mempertahankan kebenaran. Ia meninggal pada tahun 20 H dalam penaklukkan Tustar dan tercatat sebagai syuhada. Wallahu’alam bish-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here