Akibat Pelecehan Seksual, Terjadilah Perang dengan Bani Qaynuqa di Bulan Syawal

0
1308

BincangSyariah.Com – Perang Bani Qaynuqa dimulai pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawal pada tahun ke-2 H, tepatnya satu bulan lebih tiga hari setelah terjadinya perang Badar Kubra.

Bani Qaynuqa adalah salah satu dari tiga suku Yahudi yang tinggal di Yatsrib (Madinah). Keberadaan mereka sebagai masyarakat di Madinah, telah diikat dengan perjanjian yang disebut dengan Piagam Madinah. Namun setelah mereka melakukan pelanggaran, Rasulullah kemudian mengusir mereka.

Ada beberapa sebab pemicu terjadinya perang, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab sirah:

Pertama, setelah Rasulullah pulang dari perang Badar, suatu hari Rasulullah menemui Bani Qaynuqa di pasar mereka. Rasulullah berkata, “Wahai sekalian kaum Yahudi! Takutlah kalian kepada Allah terhadap hukuman yang telah ditimpakan kepada Qurays (dalam perang Badar). Masuklah Islam, sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku adalah Nabi yang diutus. Kalian telah mengetahui semuanya dalam kitab kalian dan Allah telah berjanji pada kalian.

Mereka malah menjawab, “Wahai Muhammad! Apakah engkau percaya bahwa kami akan menjadi pengikutmu! Janganlah tertipu, engkau telah berjumpa dengan kaum (Qurays) yang tidak memiliki kemahiran dalam perang. Engkau telah mengambil kesempatan dari mereka. Sedangkan kami, demi Tuhan, seandainya kami memerangimu, engkau akan tahu bahwa kami adalah lawan yang sebenarnya.”

Memang, Yahudi Bani Qaynuqa terkenal sangat pemberani. (Baca: Kisah Amr bin ‘Ash, Umar bin Khattab, dan Nenek Yahudi Korban Penggusuran)

Atas kesombongan Yahudi ini, Allah kemudian menurunkan firman-Nya:

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”. Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Q.S. Ali Imran [03] : 12-13)

Baca Juga :  Nabi Muhammad Pernah Terkena Rembes pada Usia Tujuh Tahun, Ini Kisah Lengkapnya

Kedua, seorang wanita Arab datang dengan membawa barang dagangannya untuk dijual di pasar Bani Qaynuqa. Kemudian dia duduk di dekat tukang emas atau perak. Yahudi Bani Qaynuqa mendekati wanita itu dan dengan lancang mereka ingin membuka wajahnya, namun dia menolak.

Tukang emas itu dengan sengaja mengikatkan ujung pakaian wanita tersebut ke punggungnya, sehingga ketika wanita itu berdiri, maka terbukalah auratnya.

Melihat pelecehan tersebut, para Yahudi itu tertawa, dan menjeritlah wanita tersebut.

Seorang laki-laki muslim kemudian melompat menyerang tukang emas itu, dan membunuhnya. Tukang emas itu adalah seorang Yahudi.

Kaum Yahudi yang ada di tempat itu lalu mengeroyok laki-laki muslim tersebut dan membunuhnya.

Setelah itu, keluarga dari laki-laki muslim itu berteriak memanggil saudara-saudanya sesama muslim, seraya mengadukan kebiadaban Yahudi tersebut. Kaum muslimin pun geram sehingga terjadilah pertengkaran antara mereka dengan Bani Qaynuqa.

Konflik yang disulut oleh Bani Qaynuqa telah memaksa Rasullah berangkat memerangi mereka. Rasul menyerahkan bendera perang yang berwarna putih pada pamannya, Hamzah. Sementara urusan Madinah untuk sementara waktu diserahkan kepada Abu Lubabah al-Anshari.

Bani Qaynuqa tinggal di pinggiran Madinah bersama 700 pejuang, dan mereka memiliki 300 baju zirah. Mereka bukanlah petani atau pekebun. Pekerjaan mereka adalah berdagang atau tukang emas atau perak. Mereka adalah kaum Abdullah bin Salam.

Setelah itu Rasulullah mengepung perkampungan Bani Qaynuqa selama lima belas hari, sampai masuk bulan Dzul Qa’dah.

Mereka kemudian meyerah dan Rasulullah membelenggu mereka untuk dijatuhi dihukum mati, akan tetepi Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang munafik, meminta kepada Rasulullah agar meringankan hukuman mereka.

Abdullah bin Ubay yang menjadi sekutu Bani Qaynuqa mengatakan, “Wahai Muhammad! Berbuat baiklah kepada para pembelaku. Mereka adalah para sekutu Khazraj.

Baca Juga :  Pemikiran Sederhana Santri dalam Mengimani Peristiwa Isra Mi'raj

Rasulullah diam tidak memberi jawaban.

Abdullah bin Ubay kembali berkata, “Wahai Muhammad! Berbuat baiklah pada pembelaku.

Rasulullah pun berpaling dari Abdullah bin Ubay.

Dengan lancang, kemudian Abdullah bin Ubay memasukkan tangannya ke dalam kerah baju zirah Rasulullah.

Rasulullah berkata, “Lepaskan aku”.

Rasulullah sangat marah, sampai terlihat tanda amarah di wajah beliau. Kemudian kembali berkata, “Celakalah engkau! lepaskan aku”.

Abdullah bin Ubay menjawab, “Demi Allah! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum engkau mau berbuat baik pada para pembelaku, 400 orang yang tidak memakai zirah dan 300 orang yang memakai zirah, yang telah membelaku dari bangsa kulit merah dan kulit hitam, yang akan engkau bunuh dalam waktu sebentar. Sungguh aku adalah orang yang takut tertimpa malapetaka.”

Rasulullah kemudian berkata, “Mereka untukmu”.

Setelah selamat dari hukuman mati, mereka meminta kepada Rasulullah agar berkenan memberikan kebebasan, sehingga mereka bisa keluar dari Madinah. Mereka menawarkan kesepakatan, wanita dan anak-anak menjadi bagian mereka, sedangkan harta benda mereka menjadi bagian kaum muslimin.

Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut, lalu menyerahkan urusan eksodus mereka dari Madinah kepada Ubadah bin Shamit. Rasul memberi tenggang waktu selama tiga hari. Selanjutnya, Yahudi Bani Qaynuqa pergi menuju Adzri’aat di Syam.

Harta ganimah dari Bani Qaynuqa kemudian dibagi. Rasul mengambil seperlimanya, dan yang empat perlima dibagi untuk para sahabat. Setelah itu, Rasulullah kembali ke Madinah dan bertepatan dengan Hari Raya Kurban. Beliau kemudian hadir dan mengimami salat Idul Adha, dan mengorbankan dua ekor domba.

Referensi: Abdurrahman bin Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun. Ibnu Hisyam, as-Siirah an-Nabawiyyah. Muhammad bin Muhammad al-Ya’muri, Uyunul Atsar. Muhammad Khadari, Nur al-Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin. Yusuf bin Abdul Bar an-Namiri, ad-Durar fi Ikhtishar al-Maghazi wa Assiyar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here