Akhlak Syekh Abu Bakar bin Salim dalam Menjaga Perasaan Manusia

0
3015

BincangSyariah.Com – Syekh Abu Bakar bin Salim ialah seorang ulama Yaman yang memiliki nasab bersambung hingga Rasulullah saw. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim dalam berbagai ilmu agama. Namanya harum sehingga dikenal dan dikenang di berbagai penjuru dunia.

Syekh Abu Bakar bin Salim kesehariannya dipenuhi dengan hal-hal yang bermanfaat dan penuh kebaikan. Sunah-sunah Rasulullah saw. dikerjakannya tanpa ada yang tertinggal. Kehidupannya selalu membawa kedamaian dan kesejahteraan untuk masyarakat sekitarnya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa beliau tiap harinya itu membuat seribu potong roti untuk dibagikan ke masyarakat sekitarnya dan selalu menjamu tamu dengan jamuan yang megah dan mewah. Tamu-tamunya selalu disembelihkan unta guna menghormatinya.

Suatu saat, ada seorang wanita tua yang berusaha menyenangkan hati sang Habib dengan memberikan segenggam gandum yang dimilikinya. Dibawanya gandum itu ke rumah Sang Habib. Sesampainya di depan rumah Habib Abu Bakar, ia pun memberikan salam kepada tuan rumah. Pembantu Syekh Abu Bakar keluar untuk menemui sang nenek.

“Engkau sedang mencari siapa, duhai nenek?” Tanya pembantu Syekh Abu Bakar. “Aku sedang mencari Syekh Abu Bakar untuk memberikan gandum ini,” jawab nenek itu sembari menunjukkan gandum yang ada di tangannya.

Pembantu Syekh Abu Bakar bin Salim berkata “Kau ingin memberikan gandum itu kepada Syekh Abu Bakar, sedangkan engkau mengetahui bahwa tiap harinya dapur Syekh Abu Bakar tidak pernah kurang dalam membuat seribu potong roti dan rumah beliau selalu dipenuhi makanan untuk menjamu tamu beliau.”

Mendengar ucapan tersebut, Nenek itupun sedih dan ia pun beranjak pulang. Rupanya, Syekh Abu Bakar bin Salim mengetahui perihal apa yang terjadi di depan rumahnya. Beliau pun langsung keluar rumah untuk menemui sang nenek. “Ada tujuan apa engkau ke rumahku,” tanya Syekh Abu Bakar bin Salim. “Aku ingin memberikan gandum ini kepadamu, Tuan,” jawab sang nenek.

Baca Juga :  Kisah Sahabat Palsu, Ratan al-Hindi (w. 632 H) (2-Habis)

Syekh Abu Bakar bin Salim “Alhamdulillaah. Terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang banyak.” Nenek itupun pulang dengan hati yang sangat senang dan gembira.

Syekh Abu Bakar bin Salim menasihati pembantunya bahwasanya seorang hamba tidak akan sampai pada derajat yang tinggi di sisi Tuhannya kecuali dengan menjaga perasaan orang lain.

Kisah hidup beliau di atas merupakan cerminan daripada akhlak datuknya yakni Nabi Muhammad saw. Pernah suatu saat, Rasulullaah saw. diberi hadiah oleh sahabatnya sekeranjang buah, tidak seperti biasanya, beliau saw. yang ketika diberi hadiah makanan pastilah akan membagi-bagikan makanannya.

Namun saat itu, satu keranjang buah itu dihabiskan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. melihat perilaku Nabi, para sahabat bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Salah seorang sahabat bertanya, “Duhai Rasulullaah, mengapa baginda memakan seluruh buah itu sendirian tanpa menawarkan kepada salah seorang di antara kami?” Nabi Muhammad saw. pun menjawab dengan senyuman yang penuh keindahan seraya berkata, “Aku memakan seluruh buah ini dikarenakan rasanya yang masam. Jika aku berikan buah ini kepada salah seorang di antara kalian, lantas kalian memakannya, maka aku khawatir wajah kalian akan menampakkan wajah ketidaksukaan terhadap buah ini, dan itu akan menyakitkan perasaan orang yang memberikan buah ini. Pikirku, aku akan memakan seluruh buah ini dan menyenangkan hati si pemberi. Aku tidak ingin menyakitkan hati si pemberi buah ini.”

Menjaga perasaan hati seseorang adalah akhlak Nabi Muhammad saw. Beliau menahan dirinya agar selalu menyenangkan setiap orang yang ditemuinya dan tidak ingin menyakiti seorangpun. Bahkan, ketika Nabi saw. disapa oleh masyarakatnya, beliau pun menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah orang yang menyapanya untuk menghormatinya.

Baca Juga :  Berpolitik Ala Nabi, Wajibkah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here