Indahnya Akhlak Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik

0
24

BincangSyariah.Com – Semakin hari, seiring waktu berjalan dan tersibaknya zaman, akhlak mulia yang menjadi sambungan rantai terkuat antara guru dan murid, santri dan ustaz dan mahasiswa dan dosennya terus terkikis. Diakui atau tidak, itu telah dibuktikan fakta.

Di bumi pertiwi ini, ada juga-walau tak banyak-kasus santri yang berambisi memidanakan guru darasnya, hanya karena sanksi yang diberikan membuatnya jengkel dan dinilai kurang manusiawi.

Begitu pula mahasiswa, tidak sedikit yang tanpa segan mencelakakan dosennya, sebab kebijakan sang dosen yang diangganp tidak menguntungkan dirinya.

Atau sebaliknya, mereka para dosen yang tanpa hati nurani rela merenggut kehormatan anak didiknya demi menuruti kepuasan kelamin (syahwat al-farji) yang tiada habisnya itu.

Sungguh miris hati mendengar berita-berita semacam ini. Masalahnya, kebiadaban di atas, tidak sama dengan kebiadaban karena perebutan kekuasaan atau dendam politik, sebagaimana tragedi pembantaian khalifah Utsman bin Affan oleh oposisi politik yang tidak puas dengan kepemimpinan beliau, akhirnya sang khalifah pun harus menjemput ajalnya dengan dua tombak menancap di tubuh.

Demikian halnya sayidina Ali bin Abi Thalib yang dengan terpaksa harus merasakan hangatnya darah di balik embun subuh yang dingin, sebab dihantam seorang penghafal Alquran yang malamnya selalu jaga dan siangnya puasa. Dialah Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi.

Bedanya, tragedi perlakuan biadab terhadap dua sahabat senior itu, mengandung faktor eksternal (ad-da’iyah al-kharijah) yang kuat, yaitu kecamuk dorongan politik. Kendatipun kita juga tidak bermaksud menyebut kebiadaban itu sebagai hal boleh dan wajar.

Sementara yang kita saksikan akhir ini, bisa saja lebih parah, karena murni merupakan cacat moral dalam tubuh pendidikan itu sendiri. Termasuk pendidikan keluarga yang diturunkan dari bapak-ibunya. Jadi, tampak sekali bahwa pendidikan di zaman kita ini, penuh dengan warna amoral.

Baca Juga :  Gus Baha: Nabi Adam Pernah Tertipu Orang yang Mengatasnamakan Agama

Kalau boleh mengajak, mari kita simak kisah dua imam besar, asy-Syafi’i dan Malik bin Anas yang menjalin hubungan guru-murid dengan pelbagai hiasan akhlak mulia.

Tercatat dalam sejarah, jauh sebelum Muhammad bin Idris menyerap seluruh pemikiran ahl ar-ra’yi dengan berguru kepada Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, murid imam Abu Hanifah, terlebih dahulu beliau belajar kepada seorang imam besar di Madinah saat usia asy-Syafi’i genap sepuluh tahun, dialah Malik bin Anas bin Malik, yang menggawangi bidang hadis. Dan asy-Syafi’i berhasil menguasai mazhab ahli hadis dari gurunya itu.

Singkat cerita, berkat kecerdasan dan tekad kuat asy-Syafi’i dalam menuntut ilmu, bahkan di usianya yang masuk lima belas tahun, beliau berhasil meraih prestasi terbaik dengan diberikan legalitas berfatwa oleh salah seorang gurunya yang bernama syekh Muslim bin Khalid az-Zanji. Sejak itu, hari-harinya pun penuh diwarnai oleh suasana belajar dan mengajar.

Suatu ketika, imam Malik bin Anas dihantui rasa penasaran yang dalam. Dia ingin tahu bagaimana muridnya kala memberi fatwa di usia yang begitu muda.

Akhirnya, secara diam-diam, berangkatlah imam Malik menuju satu masjid, tempat dimana muridnya, asy-Syafi’i memberi pengajian kepada masyarakat. Tanpa diketahui siapapun, beliau duduk di balik tiang masjid menyimak apa yang disampaikan muridnya. Setelah menyimak berbagai penyampaian, beliau pun terkesan dan bangga dengan muridnya ini, tidak salah syekh Muslim bin Khalid az-Zanji memberikan legalitas berfatwa kepada pemuda kelahiran Ghaza Palestina itu.

Imam Malik mengekspresikan rasa bangganya itu dengan mengukir pujian indah di tiang masjid yang tepat di depannya. Dengan hayatan mendalam ia menuliskan kalimat berikut:

من أراد العلم النافس فعليه بمحمد بن إدريس وهو الإمام الشافعي

Baca Juga :  Hari Asyura, Bulan Muharam dan Lebaran Anak Yatim, Adakah Dalilnya?

“Siapa saja yang mendambakan ilmu yang bagus nan indah, maka haruslah meregupnya dari Muhammad bin Idris, yaitu al-Imam asy-Syafi’i”.

Dan ketika imam asy-Syafi’i membaca tulisan itu, ia pun berucap:

أشهد الله أن هذا الكلام هو كلام شيخنا الإمام مالك

“Saya bersaksi dengan nama Allah bahwa kalam ini pastilah kalam guruku al-Imam Malik”.

Demi membalas pujian itu, dengan penuh hormat imam asy-Syafi’i menuliskan pujiannya tepat di bawah tulisan gurunya, ia memuji:

كيف لا يكون ذلك؟ وهو تلميذك يا مالك

“Bagaimana mungkin tidak jadi demikian hebatnya? Dia kan murid engkau wahai (guruku) Malik”.

Dari kisah mulia di atas, tampak jelas bagaimana hubungan guru-murid yang dirajut dengan indah nan rapi oleh dua imam mazhab tersebut.

Adapun seberkas cahaya hikmah yang dapat kita kantongi dari cerita ini, yaitu bahwa murid sejati tak akan pernah merasa lebih hebat dari gurunya, walau kemampuannya telah jauh melampaui sang guru. Layaknya asy-Syafi’i yang menyandarkan kesuksesannya kala itu, seolah bersumber dari jasa imam Malik sepenuhnya.

Demikian pula guru sejati, mereka tidak akan pernah malu dan gengsi-gengsian mengakui bahkan memuji kelebihan muridnya. Walau tak disampaikan langsung kepada yang bersangkutan. Sebagaimana imam Malik, sang guru sejati yang dengan luapan syukur mengukir pujiannya di tiang masjid.

Akhlak semacam ini, juga tercermin dari dua guru besar NU, KH. Muhammad Kholil Bangkalan dan santrinya, KH. Hasyim Asy’ari.

Sementara dalam dunia pendidikan kita kini, yang terjadi bukan malah puji-memuji, melainkan sebaliknya, bahkan pada taraf saling melecehkan. Semoga budaya berakhlak baik di dunia pendidikan segera pulih kembali. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here