Akhir Cerita Konflik Bani Hud dan Bani Zunnun di Tanah Andalusia

0
68

BincangSyariah.Com – Pertengkaran demi pertengkaran mulai mereda setelah Sulaiman bin Hud, Penguasa Bani Hud, wafat lalu digantikan dan dibagikan kepada lima anaknya. Namun pertengkaran yang terjadi justru antara internal saudara. Diantara sosok yang mampu menjadi paling kuat adalah al-Muqtadir Billah dan membuat Bani Hud menjadi dinasti terkuat di Andalus saat itu pada tahun 1060 M. ia juga mampu merebut kota Denia pada tahun 1076. Semakin kuatlah kekuatan politik Bani Hud.

Sedangkan Bani Zunnun di Toledo digantikan oleh cucu al-Ma’mun, Yahya al-Qodir, setelah al-Ma’mun wafat pada tahun 1075 di Cordoba. Namun dibawah Yahya al-Qodir, dinastinya mulai melemah karena ia tidak punya pengalaman yang cukup dalam ranah politik. Ia juga berada di bawah pengaruh para pelayan, budak dan kaum perempuan di lingkungan dinastinya. Ini menjadi kesempatan bagi al-Muqtadir Billah untuk meruntuhkan Bani Zunnun. Sampai akhirnya ia bisa merebut Santamaria milik Bani Zunnun.

Pada tahun 1085 M Alfonso VI menyerang Toledo dan memaksa untuk membayar pajak. Tetapi Bani Zunnun menolak dan Yahya al-Qadir justru melarikan diri ke Valensia yang masuk ke wilayah kekuasaan Castille. Kaum Kristen kemudian bebas melakukan penyiksaan kepada kaum muslim di Toledo. Sedangkan pemimpinnya malah berada di wilayah kekuasaan pasukan Kristen untuk mencari perlindungan bagi dirinya sendiri. Saat terjadi pertempuran yang berutbi-tubi bagi kaum muslim, tersiarlah kabar bahwa orang-orang Murabithun akan melintasi Valensia.

Kaum Nasrani yang berada di Valensia panik dan melarikan diri ke Raja Alfonso VI untuk meminta pertolongan. Terjadilah pertempuran Zallaaqoh, yaitu pertempuran yang terjadi antara pasukan al-Murabithun yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin dan pasukan Kristen milik Alfonso VI. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1086 M tersebut dimenangkan kaum Murabithun.

Baca Juga :  Kerajaan Islam Banu Abbad yang Menguasai Sevilla

Penduduk Valensia merasa lega karena perginya pasukan Kristen dan pertolongan dari kaum muslimin, yaitu al-Murabithun. Sejak itu Bani Zunnun pindah dari Toledo ke Valensia. Di sisi lain, al-Muqtadir Billah wafat (1081 M) dan diteruskan oleh kedua putranya, Yusuf al-Mu’tamin dan Munzir yang justru berselisih dan lagi-lagi saling memohon pertolongan dari kaum Kristen. Yusuf misalnya, berambisi merebut Valensia yang dipegang oleh Bani Zunnun dan berupaya merebut akan tetapi gagal. Saat itu Bani Zunnun dipimpin oleh Abu Bakar bin Abdul Aziz.

Abu Bakar merasa khawatir akan kemunduran dinastinya yang kian melemah. Demi membangun kembali pondasi kekuatan politiknya ia melakukan persekutuan dengan Bani Hud yang sejak lama merupakan musuhnya. Mereka akhirnya melakukan negosiasi dengan menikahkan putri dari Abdul Aziz dengan Ahmad al-Musta’in putra dari Yusuf al-Mu’tamin pada tahun 1084.

Setahun setelah menikahkan putranya, Yusuf al-Mu’tamin wafat lalu otomatis digantikan oleh anaknya, Ahmad al-Musta’in. Ternyata Ahmad al-Musta’in sangat berambisi untuk menguasa wilayah-wilayah kekuasaan Bani Zunnun secara penuh. Ahmad meyakini ambisinya tersebut sebenarnya adalah mimpi sesungguhnya dari ayahnya. Pernikahan yang terjadi hanyalah strategi politik.

Sementara itu, pada tahun 1103 M kota Valensia yang menjadi wilayah kekuasaan Bani Zunnun, jatuh di tangan pasukan Kristen. Ahmad Al-Musta’in masih berupaya untuk merebut kota Valensia tetapi gagal.  Kemudian ia malah terbunuh dalam perang Altera yang dipimpin oleh Alfonso, penguasa Aragon pada tahun 1110 M.

Kepimpinan Bani Hud pun langsung dipegang oleh putra Ahmad, Abdul Muluk yang mendapat julukan Imad ad-Daulah. Naasnya, di tahun yang sama kekuasaan Bani Hud berakhir karena datangnya Dinasti al-Murabithun ke Zaragoza. Begitu juga dengan al-Muluk at-Thawaif lainnya yang berakhir di tangan Dinasti al-Murabithun.

Baca Juga :  Masjid Cordoba: Masjid yang Kini Berubah Jadi Gereja

*diolah dari buku 45 karya dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here