Ajaran Ahlus Sunnah tentang Islam yang Ramah dan Tak Mudah Mengafirkan

0
735

BincangSyariah.com –  Indonesia, secara kuantitas, menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Menurut data globalreligiousfuture Indonesia diperkirakan menempati posisi tertinggi di dunia dengan populasi muslim sebesar 229.620.000 jiwa. Hal ini menjadi data yang selalu menarik para peneliti untuk mengkaji kesukesan proses islamisasi di Indonesia.

Alwi Shihab dalam bukunya Akar Tasawuf di Indonesia, sejarah Islamisasi di Nusantara sangat erat kaitannya dengan para sufi yang mampu mendamaikan budaya dan kearifan lokal dengan ajaran Islam. Mereka juga sangat menghargai komunitas agama lain yang terlebih dahulu hidup di Nusantara. Dari sinilah, nampak sekali Islam di Nusantara yang sampai hari ini menjadi wajah Islam Indonesia ialah Islam yang menghargai ‘yang lain’ dan merawat budaya lokal. (Baca: Titik Temu Sunni-Syiah, Mungkinkah Terjadi?)

Para sufi ini, menurut Abdurrahman Mas’ud dalam Intelektual Pesantren, yang dikenal dengan sebutan walisongo. Mereka yang kemudian mentransmisikan ajaran Islam ahlus sunnah ke lapisan masyarakat Nusantara. Ajaran mereka dilanjutkan oleh para arsitek dan intelektual pesantren melalui jaringan pesantren yang dibangun Abad ke-19. Sehingga Islam yang lahir di Nusantara ialah islam yang ramah dan tetap lestari karena dijaga dan ditransmisikan oleh kelompok santri.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, wajah Islam yang ramah, Islam yang bersahabat dengan budaya dan menghromati kelompok lain mendapatkan tantangannya. Fenomena paling mutakhir, kita disuguhi aksi intoleransi sekelompok masa yang melakukan penyerangan terhadap Habib Umar Assegaf Solo dalam acara doa bersama dan midodareni. Dengan teriakan “Allahu Akbar”, “Syiah laknatullah”, “kafir”, dan “bunuh” mereka melakukan kekerasan terhadap keluarga Habib Umar Assegaf.

Fenomena ini memudarkan wajah Islam yang bersahabat dengan budaya dan menghargai yang berbeda. Melihat fenomena ini, gerakan takfiri masih mengendap dalam masyarakat muslim. Meskipun sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia yang didominasi sunni, sangat menentang keras sikap takfiri.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Dialog Sang Khalifah dengan Cucu Umar ibn Khattab

Abu Hasan Al-sy’ari, imam madzhab ahlus sunnah, dalam al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah menegaskan bahwa cara beragama kelompok asy’ariyah ialah model beragama yang terbuka. Tidak boleh seorang muslim mengkafirkan ahlul qiblat sekalipun melakukan dosa besar. Ahlus sunnah membedakan diri dengan kelompok khawarij yang cenderung mudah mengkafirkan yang lain.

وندين بأن لا نُكفر ِّ أحدا من أهل القبلة بذنب يرتكبه ، كالزنا والسرقة وشرب الخمر، كما دانت بذلك الخوارج، وزعمت أنهم كافرون

Artinya:

kita mengutuk dengan (cara) tidak mengkafirkan seseorang dari ahli kiblat atas dosa yang ia perbuat seperti zina, mencuri, dan meminum khomr, sebagaimana kelompok khawarij mengutuk hal tersebut dan menganggap bahwa mereka orang-orang kafir.

Pandangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa akhir dari kehidupan seseorang adalah misteri. Tidak ada satupun manusia yang berhak memvonis bahwa dia dalam status kafir atau mukmin. Apalagi Tuhan ialah Dzat yang membolak-balikkan hati manusia. Dari sinilah pandangan bahwa al-iman yazidu wa yanqushu, kadar keimanan seseorang bersifat fluktuatif.

Seorang muslim yang melakukan maksiat tidak dapat dituduh sebagai kafir. Apalagi sampai meneriaki dan memukuli dzuriyah nabi yang sedang berdoa untuk pernikahan anaknya. Bahkan dalam kitab Majmu’at al-Syari’at li al-Kafiyat li al-‘Awam, tokoh sunni Nusantara, kiai Sholeh Darat, tindakan memukul seorang muslim merupakan dosa yang harus dihindari (Sholih bin Umar, 35). Kiai Sholeh juga mewajibkan muslim selalu berprasangka dan berakhlak baik terhadap sesama muslim (Sholih bin Umar, 34).

Perilaku intoleran ini menurut Gusdur, tokoh besar NU, tidak mencerminkan perilaku ahlus sunnah yang menjadi mayoritas di Indonesia. Gusdur dalam sebuah tulisannya berjudul Tata Kerama dan Ummatan Wahidatan menyebut bahwa tradisi saling menghormati telah dicontohkan para ulama ahlus sunnah. Meskipun berbeda pandangan tentang penggunaan kentongan sebagai penanda waktu salat, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Faqih Maskumambang menghormati kebenaran yang diyakini masing-masing.

Baca Juga :  Sejarah Nabi; Umratul Qadha, Umrah yang Tertunda

Masih menurut Gusdur, hal ini nampak saat kiai Hasyim Asy’ari mengetahui tentang pandangan kiai Faqih dan mengemukakan kepada para ulama di Jombang untuk bebas memilih kedua fatwa ulama besar ini. Begitu juga dengan sikap kiai Faqih. Saat kiai Hasyim diundang ceramah di pesantren maskumambang Gresik, tiga hari sebelum acara, kiai Faqih mengutus santrinya untuk datang ke seluruh takmir masjid dan surau di kabupaten Gresik agar menurunkan kentongan di masjid dari tempatnya bergantung selama kiai Hasyim di Gresik.

Dalam kehidupan beragama di Indonesia, kisah keteladanan para ulama sunni seperti kiai Hasyim dan kiai Faqih itu sangat berlimpah. Sudah sepantasnya umat Islam Indonesia yang didominasi oleh ahlus sunnah menampilkan kembali wajah ramah yang hendak dikoyak kelompok intoleran. Para ulama kita telah meneladankan, saatnya generasi kekinian yang melanjutkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here